Oleh: Septiana, M. Pd
(Seorang Pendidik)

Mediaoposisi.com- Belum lama ini cukup santer terdengar kabar pro maupun kontra terkait salah satu iklan platform e-commerce ternama di Indonsia. Melihat kecanggihan teknologi kini telah membuat setiap lini memanfaatkan sesuai dengan kepentingannya, tak ingin ketinggalan para penggeliat ekonomi digital pun berupaya penuh untuk menyukseskan barang dagangannya dengan sebuah iklan produk yang menarik perhatian.

Sayangnya demi larisnya produk-produk barang dagangan tersebut pihak perusahaan menampilkan iklan tanpa filter syari’ah dengan tontonan yang tidak mendidik generasi. Dengan menggaet artis dari kalangan girl group kpop papan atas,  mereka menampilkan apa yang seharusnya tidak dipertontonkan, dari aura visual, umbaran aurat wanita maupun gerakan yang menggoda.

Itu semua memunculkan kekhawatiran yang sangat dari para ibu terhadap anak-anak yang menontonnya. Betapa tidak pantasnya ketika usia belia yang tahap mudah meniru apa yang diinderanya kemudian dijejalkan dengan hal-hal yang cukup tidak senonoh.  Hal itu bertentangan dengan budi luhur, norma agama serta syari’ah Islam. Maka wajar ketika ada salah seorang ibu yang akhirnya membuat petisi kepada Komisi Penyiaran Indonesia dan mengajak masyarakat untuk mengisi petisi dalam rangka memboikot iklan tersebut dengan alasan menjaga dari bahaya rusaknya akal para generasi.  (dikutip dari laman: change.org)

Kemudian kontra datang dari kalangan kpopers yang notabene mengidolakan artis yang tersebut. Mereka berpendapat mengapa petisi yang demikian ditujukan hanya kepada Blackpink bukankah artis-artis dalam negri pun juga melakukan hal-hal yang tidak senonoh semisal terbiasa memakai pakaian mini serta menampilkan adegan-adegan intim di dalam sinetron maupun film-film. Maka, patut kita menyadari bahwa yang demikian juga sama halnya tidak layak untuk dipertontonkan lebih-lebih menjadi konsumsi anak-anak.

Dari sini akhirnya masyarakat bisa melihat bahwa iklan produk fashion dan sejenisnya yang ada di dalam rezim sekuler ini memang tidak layak untuk dipertontonkan, hal tersebut dilakukan dengan mengabaikan nilai moral dan syari’ah, orientasinya sebatas materi dan menguntungkan produsen (baca pemilik modal).

Berbeda keadaan dengan media Islam yang hanya bisa terwujud dalam penerapan syari’ah Islam secara kaffah yang prinsip dasarnya adalah menebarkan nilai luhur, peningkatan ilmu pengetahuan, serta menjaga gaya hidup yang sesuai dengan syari’ah. Hingga kontrol dan filter konten senantiasa dilakukan negara secara massif dan produktif,  berbasis keimanan hakiki. [MO/sr]


Posting Komentar