Oleh : Ai Sri Heryani


Mediaoposisi.com-Masya Allah, begitu dahsyatnya aksi 212 pada ahad 2 Desember 2018 kemarin, meski hanya melihat dimedia sosial terutama di Facebook karena di tv-tv tdk ditayangkan kecuali di TV One. Tapi jangan salah acara ini telah menyita perhatian televisi dari luar negeri salah satunya televisi Aljazeera dan media online lainnya. Menurut pantauan IMEI dari hand pond yang terdeteksi di sekitar Monas, ada lebih dari 13 juta umat yang hadir di tempat tersebut, dan ini menurupakan kesuksesan besar dengan banyaknya Liwa dan Royah yang berkibar.

Jika kemarin orang tidak mengenal dan menerima Liwa dan Royah saat ini jutaan umat Islam sudah mengenalnya. Dulu ada ormas yang akan mengkampanyekan Liwa dan Royah dengan program Masiroh Panji Rasulullah  (mapara) saat itu ormas tersebut di hadang, di persekusi dan di intimidasi. Tetapi masya Allah saat ini atas pertolongan Allah Liwa dan Royah dikibarkan oleh jutaan umat Islam yang tidak tahu apakah mereka orang-orang dari ormas yang BHPnya dicabut?

 Yang jelas di aksi 212 adalah orang-orang yang merasa agama mereka dinistakan dengan kejadian Royah yang dibakar oleh oknum Banser. Padahal oknum tersebut adalah umat Islam, apakah mereka tidak tahu bahwa lafadz yang dibakar itu panjinya Rasulullah? Hanya mereka yang tahu isi hati mereka. Bagi saya sebagai orang awam menyaksikan video pembakaran tersebut merasa sakit hati, merasa dihinakan agama saya, kalau memang tercecer kenapa tidak dilipat disimpan baik-baik sebab kain itu mengandung lafadz-lafadz Al-Qur'an yang seharusnya dijunjung tinggi oleh seorang muslim.

Ada hikmah yang besar dibalik itu kini Liwa dan Royah dikenal di masyarakat Indonesia dan berkibar dengan jutaan tangan-tangan umat Islam yang telah mengenal bahwa Liwa dan Royah adalah panjinya Rasulullah SAW

 "Bendera (Liwa) Rasulullah SAW berwarna putih, dan panjinya  (Royah) berwarna hitam" ( HR al-Hakim, al-Baghawi, at-tirmidzi, lafal al-Hakim)

Jelas, lafadz tauhid dalam Liwa dan Royah bukan benderanya ormas yang dicabut BHPnya itu tetapi Liwa dan Royah adalah benderanya Rasulullah. Dengan adanya aksi 212 umat Islam bersatu dengan satu perasaan, perasaan yang dimana umat Islam menginginkan hukum-hukum Allah ditegakkan.

Sayang ada yang merasa terancam dengan tegaknya hukum-hukum Allah bila diterapkan, mereka menolak bahkan anti hukum syariah, seperti yang pernah dikemukakan oleh Grace Natalie yang merupakan pentolan dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Padahal hukum Allah atau Syariah Islam solusi dalam seluruh aspek kehidupan bukan hanya urusan ibadah tetapi urusan muamalah yaitu ekonomi, pendidikan, politik, pemerintahan, hukum (uqubat, peradilan dan sebagainya.  Mudah-mudahan penguasa bisa segera menerapkan Syariah Islam secara kaffah dan meninggalkan sistem sekuler agar rakyat damai sejahtera.[MO/an]




Posting Komentar