Oleh: Adilla Sarah 
(Mahasiswi Bahasa Arab)

Mediaoposisi.com-2018 ini benar-benar tahun yang luar biasa. Ribuan orang memenuhi setiap kajian gratis para ustadz masyhur. Selain itu, event lain yang berhasil digelar di masjid-masjid besar  adalah gerakan-gerakan shubuh berjamaah pun banjir jama'ah. Komunitas hijrah tumbuh menjamur. Perhela-tan besar hijrah bersama para publik figur dengan masuk berbayar pun ramai diikuti kawula muda. Lahirnya animasi edutainment islami banjir dukungan dan ratusan ribu viewers. Euforia berislam ini berlanjut hingga banyak yang datang memadati aksi reuni 212 di Jakarta lebih dari 212 sebelumnya.

Sudah tak diragukan lagi, tahun ini menjadi saksi bahwa kaum muslimin du Indonesia mulai meningkat semangat dalam beragamanya. Dulunya mungkin masih Islam KTP, sekarang makin sadar belajar Islam meski dimulai dari yang kecil. Dulunya preman atau ahli maksiat, sekarang bertaubat, hapus tatto, lalu ikut kajian. Dulunya non muslim, sekarang bangga dengan identitas barunya setelah memeluk Islam.

Semakin menguatnya gelombang keimanan pasti juga akan semakin kuat ujian yang datang. Terbukti dengan mulai berani dan banyaknya bermunculan kaum munafiqun. Mereka muncul dengan bermacam makar yang diada-adakan.

Namun, kaum muslimin tak lupa bahwa sebaik-baik pembuat makar adalah Allah. Bagaimanapun hebat makar munafiqun pasti nampak cacatnya. Mulai dari chatt hoax, editan grafis, kriminalisasi dan pembakaran simbol tauhid, sampai ucapan-ucapan bodoh tokoh mereka di ranah publik. Pada akhirnya mereka ditertawakan masyarakat luas akibat kebodohan dan kebohongannya.

Jika kafir penjajah sungguh nyata upaya mereka memusuhi dan menjatuhkan kaum muslim. Maka sungguh sangat bahaya jika sekarang munafiqun makin ganas & terlihat memusuhi saudara seiman. Melihat ini, membuat kaum muslim nampaknya makin sadar untuk memegang agamanya. Hingga secara nyata membela kaum muslim dan Islam jika diserang munafiqun. Sekalipun yang diserang itu berbeda pendapat dan ormas Islam dengan mereka.

Para ulama pun mengambil andil besar pula dalam mempersatukan umat. Para ulama' semakin tegas dalam menyampaikan kebenaran dan melawan kemungkaran. Ulama' pun bersedia satu panggung dengan ulama' yang lain. Menghapuskan mindset perbedaan yang seolah telah mengkotak-kotakkan muslimin Indonesia. Selama masih ada iman dan mengikuti Rasul, Sahabatnya hingga para ulama' terdahulu yang shohih maka sudah cukup jadi alasan untuk dirangkul dan dibela kaum muslimin.

Jika sudah seperti ini umat Islam mudah untuk diajak bersatu. Bukti nyatanya adalah 2 tahun sudah peringatan 212 dan akan kembali digelar setiap tahunnya. Mereka yang hadir saja sudah luar biasa banyak, belum lagi yang belum sanggup hadir.

Semua tak bisa dipisahkan dari upaya para da'i yang tak lelah mengajak umat untuk mendekat pada Islam yang sesungguhnya. Hingga sekarang mudah bagi mayoritas muslim untuk hadir ke majelis kajian. Tanpa kenal usia, tua atau muda. Sekalipun masih menjadi PR umat Islam atas sebagian muslimin yang belum sadar untuk berubah lebih baik dalam beragama.

Saat ini Islam telah berhasil menjadi trend dan pembicaraan masyarakat luas. Maka jangan sampai kita sebagai muslim malah tertinggal dengan muslim yang lain yang sedang berlomba dalam kebaikan. Mari segera belajar dan mengkaji Islam secara luas dan mendalam bukti identitas diri kita dan menyebarkan kebaikan Islam juga kepada orang lain.[MO/ge]

Posting Komentar