Oleh Jasli La Jate 
( Member Akademi Menulis Kreatif)

Mediaoposisi.com-Alkisah, disebuah negeri telah terjadi kebakaran kebun. Tepatnya kebun cengkeh. Kebun cengkeh itu dengan seketika dilahap si jago merah. Cengkeh yang siap panen itu kini tinggal rangka seperti pohon yang gugur daunnya.

Menurut kabar yang beredar sumber api itu dari seseorang yang sengaja membakar kebun itu. Anehnya bukan seseorang yang membakar kebut itu yang disalahkan. Malah pemilik kebun itulah yang disalahkan. Karena menanam cengkeh di kebun itu. Cuplikan kisah diatas barangkali bisa mewakili kejadian pembakaran bendera tauhid beberapa waktu lalu di negeri ini.

Dilansir oleh Republica.co.id (25/10/2018), Karopenmas Mabes Polri Brigjen Dedi Prasetyo menya-takan bahwa faktor utama penyebab terjadinya tindakan pembakaran bendera itu adalah adanya laki-laki yang disebut sebagai penyusup yang mengibarkan bendera yang diklaim sebagai bendera HTI. Seandainya jika tidak ada laki-laki yang membawa bendera itu, maka tidak akan terjadi insiden pembakaran bendera tersebut. Sehingga kesimpulan sementara, laki-laki yang disebut sebagai penyusup itulah yang menjadi pemicu insiden.

Masih dalam situs yang sama,  hasil gelar perkara polisi menyatakan tidak bersalah kepada tiga orang pelaku pembakar bendera di Garut itu. Karopenmas MabesPolri Brigjen Dedi Prasetyo menyatakan tiga orang anggota Banser tidak dapat disangka melakukan perbuatan pidana karena salah satu unsur yaitu niat jahat tidak terpenuhi. Bahkan lanjutnya status tiga orang yaitu ketua panitia dan pelaku pembakaran bendera tersebut berstatus saksi.

Sungguh disayangkan. Sudah gamblang di depan mata siapa yang melakukan pembakaran namun mereka jauh dari kata pelaku. Apalagi berstatus tersangka lebih lagi terdakwah. Bahkan anehnya mereka hanya disebut sebagai saksi. Sepertinya nalar sehat tidak sedang aktif. Ia mati seketika seakan menyiratkan ada kepentingan dibelakangnya. Hanya karena niat yang tak ditemukan entah bersembunyi dibelahan mana.

Sekalipun belakang akhirnya kasus ini disidangkan.  Hakim memutuskan kedua pelaku dikenai tindak pidana ringan. Majelis hakim menjatuhkan hukuman 10 hari penjara dan denda Rp 2000 (6/11/2018, Detiknews).

Sungguh keputusan yang begitu menyakiti kaum muslim. Keputusan yang tidak membuat efek jera. Bila seperti ini maka tak menutup kemungkinan kedepan hal semacam ini akan terulang kembali bahkan yang lebih parah lagi. Jangan sampai keputusan ini hanya sebagai kebijakan hukum peredam gejolak yang terjadi di masyarakat jika pelaku tidak ditetapkan sebagai tersangka.

Bila kita telisik, sikap arogansi Banser tak masuk akal dan sangat prematur. Bendera yang dibakar diklaim sebagai bendera HTI tak berdalil. Pasalnya didalam bendera itu tidak ada tulisan Hizbut Tahrir Indonesia. MUI Pusat pun secara resmi telah menyatakan bahwa bendera yang dibakar itu bukan bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), tetapi bendera berkalimat tauhid. Hal ini lebih ditegaskan lagi oleh jubir HTI bahwa mereka tidak mempunyai bendera.

Inilah dampak dari tidak diterapkanya hukum Islam ditengah-tengah umat. Kebebasan berekspresi, kebebasan berpendapat menjadi tameng yang sangat manjur untuk beralibi. Akhirnya umat semakin jauh mengenal simbol agamanya. Merasa 'aneh', takut bila pegang bendera ini.

Padahal bendera yang dibakar itu adalah bendera Rasulullah Saw. Bendera tauhid. Benderanya umat Islam. Bendera yang didalamnya ada kalimat thoyyibah. Kalimat yang dimana kita ingin hidup dan mati dengannya. Kalimat  “Lâ ilâha illalLâh Muhammad RasûlulLâh”.

Banyak hadits-hadits shahih atau minimal hasan yang menjelaskan seputar Al-Liwa' dan Al-Rayah. Di antaranya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ غَدًا رَجُلاً يُفْتَحُ عَلَى يَدَيْهِ، يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ، وَيُحِبُّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ

Sungguh aku akan memberikan al-Rayah kepada seseorang yang, ditaklukkan (benteng) melalui kedua tangannya, ia mencintai Allah dan Rasul-Nya, Allah dan Rasul-Nya pun mencintainya. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Al-Liwa’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwarna putih dan Al-Rayah beliau berwarna hitam. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu menuturkan,

كَانَتْ رَايَةُ رَسُوْلِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- سَوْدَاءَ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضَ

Al-Rayah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwarna hitam dan al-Liwa’ beliau berwarna putih (HR. Al-Tirmidzi, Al-Baihaqi, Al-Thabarani dan Abu Ya’la).

Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu juga menuturkan,

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- دَخَلَ مَكَّةَ يَوْمَ الْفَتْحِ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضُ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki Makkah pada hari Fathu Makkah dan al-Liwa’ beliau berwarna putih (HR. Al-Tirmidzi, Al-Nasa’i, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban).

Tak pantas rasanya bila kita phobia dengan kalimat ini apalagi dijadikan sebagai ujaran kebencian. Seharusnya kalimat yang mulia ini harus dijaga dengan baik. Dilindungi dengan sebaik mungkin dari kalangan musuh. Sebagaimana halnya para Shahabat yang sangat memuliakan kalimat ini. Menjaganya dengan sepenuh hati bahkan nyawa siap jadi taruhan.

Sebut saja Mush’ab bin Umair terputus kedua tangannya demi mempertahankan bendera tauhid pada perang uhud. Perjuangannya begitu heroik, mulia hingga membawanya sebagai syuhada disisi Allah.

Sangat aneh bila ada sekelompok orang yang menghinakan dan melecehkan panji tauhid ini. Apalagi mereka muslim. Klaim agar tidak tercecer  sangat tidak beralasan karena bendera ini sedang dikibarkan namun diambil paksa baru kemudian dibakar.

Maka sudah sepatutnya kita mengagungkan dan menjunjung tinggi pada Al-Liwa' dan Ar-Royah ini.  Sebab keduanya merupakan syiar Islam. Keduanya berisi kalimat tauhid. Kalimat yang merupakan harga bagi surga.

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ

"Barangsiapa yang akhir perkataannya sebelum meninggal dunia adalah ‘lailaha illallah’, maka dia akan masuk surga". (HR. Abu Daud). Saatnya kita perjuangkan panji Rasulullah tegak dimuka bumi ini agar tidak terjadi lagi pelecehan.[MO/ge]

Posting Komentar