Oleh:Yanti Mursidah Lubis

Mediaoposisi.com-Pada hari Minggu, 2 Desember 2018 telah digelar Reuni Akbar 212 d Monumen Nasional (Monas). Ketua PA 212 sekaligus penanggung jawab acara Slamet Maarif mengatakan bendera berkalimat tauhid akan dikibarkan dengan berwarna warni. Pada kesempatan yang sama Ketua Steering Commitee Reuni Akbar Mujahid 212 Muhammad Al Khathath mengatakan, pengibaran bendera ini sebagai bendera kalimat tauhid bukan bendera berkalimat ormas terlarang.

Al Khathath juga mengatakan pengibaran ini sebagai langkah menyindir pihak-pihak yang mengecilkan bendera tauhid dengan membakarnya. Pengibaran bendera tauhid warna warni, kata dia, juga sebagai simbol kesatuan Alumni 212 dibawah komamdo Rizieq  Shihab."Yang paling penting, kita fokus pada selebrasi bendera  tauhid yang insyaalah kita buat seindah mungkin untuk memberikan gambaran kepada dunia," tuturnya.

Bendera dan panji menempati posisi yang agung sebagai simbol suatu negara, begitu pula bagi Rasulullah saw sebagai pemimpin negara Islam pertama di Madinah Al-Munawwarah. Hal itu dibuktikan dengan dalil-dalil sunnah dan dirinci penjelasannya oleh para ulama dan mu'tabar.
Para ulama dari masa ke masa senantiasa mengulas bendera dan panji yang dijuluki Al- Liwa dan Ar-Rayah ini dengan karakteristik dan fungsinya yang sangat istimewa. Saat ini kaum muslim dihadapkan pada upaya munkar, stigmatisasi (tuduhan) negatif dan kriminalisasi panji Al-Liwa dan Ar-Rayah dan para pengembannya.

Al-Liwa dan Ar-Rayah merupakan panji Rosulullah saw. Bahwa terdapat banyak hadist shahih atau minimal hasan yang menyebut bahwa Rayah (panji) Rasulullah berwarna hitam dan Liwa (bendera)nya berwarna putih seperti hadits riwayat Ibnu Abbas radhiyallohu'anhu: "Panji Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berwarna hitam, dan benderanya (Liwa) berwarna putih, tertulis didalamnya : "Lailaha illallaah Muhammad Rosulullah"  (HR. Ath-Thabrani). Dan masih banyak hadits yang lainnya.

Sebagian pihak hanya bisa mengkritik dalil (hadits) panji dan bendera Rasulullah, tetapi tidak menggugat dalil bendera negara bangsa yang tidak punya dalil sedikitpun walau hanya dengan atsar dha'if. Inilah satu bukti betapa buruknya sistem yang ada saat ini, dimana agama dipisahkan dari kehidupan, tolak ukur perbuatan pun atas dasar manfaat semata.

Berbeda dengan Islam yang menjadikan tolak ukur satu perbuatan itu adalah atas dasar halal dan haram. Maka dari itu jelaslah sudah bahwa hanya dengan islamlah seluruh persoalan ummat manusia bisa diselesaikan dengan adanya sebuah institusi yang menerapkannya yaitu Daulah Khilafah Islamiyah.[MO/sr]

Posting Komentar