Oleh: Kanti Rahmillah, M.Si

Mediaoposisi.com- Panasnya Monas, tak menghentikan arus manusia yang terus berdatangan. Teriknya mentari, menjadi drone Ilahi. Pemilik hakiki negeri ini. Berkumpul atas nama nurani. Teriakan takbir, sholawat, serta kalimat tauhid menyelimuti kami. Sungguh suasana yang sangat jarang terjadi.

Jutaan bendera tauhid. Berkibar gagah merajai para bedebah. Membuktikan pada dunia, bahwa pembelanya sudah siap. Siap perang dengan siapapun yang telah melecehkannya. “Acungkan yang tinggi bendera tauhidnya.” Serentak umat mengangkat dan mengibarkan bendera tauhid. Alliwa berwarna putih. Arroya berwarna hitam. Langit pun seolah siap mengambil peran. Mencatat jutaan pemegang bendera berlafadz la ilaha illallah.

Diamnya penguasa terhadap pelecehan agama. Peradilan bak pertunjukan sirkus, penuh lelucon. Pasal karet yang menyeret kebenaran pada jurang terdalam. Bagi siapa saja yang menggunakan akalnya, pasti mempunyai pendapat yang sama. Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Ada segerombolan tikus dan cecunguk yang siap menggerogotinya hingga habis.

Apakah hanya terkait pelecehan agama saja, mereka datang? tentu tidak. Segudang masalah negeri ini yang tak kunjung reda. Bahkan semakin merajalela. Utang yang kian membengkak. Apakah menteri keuangan kita bodoh ? hingga berhutang adalah kegemarannya ?

Sistem ekonomi kita dibangun berlandaskan ekonomi neoliberal. Sebuah pemikiran yang menganggap utang adalah satu-satunya lubang untuk menyelamatkan diri. Bagaimana dengan sumber daya alam kita yang melimpah ruah? padahal hasilnya bisa untuk memenuhi kebutuhan umat.

Sistem yang kita anut, menjadikan pemerintah hanya sekedar fasilitator. Siapa yang punya kemampuan (Modal) dialah yang dilayani. Tak peduli anaknya mati kelaparan. Si ibu tega menjual aset milik anaknya. Meng hamba pada tuannya.

Narkoba, freesex, aborsi, LGBT, HIV Aids, tawuran adalah sahabat dekat generasi. Usia sekolah, usia produktif. Seharusnya mereka bermandikan ilmu. Menghiasi kesehariannya dengan kebermanfaatan untuk lingkungannya. Agar kelak, mereka memimpin bangsa ini dengan keilmuan dan ketakwaannya.

Mengapa aset bangsa yang seharusnya menjadi harapan, malah menambah catatan hitam problematika? Sistem pendidikan yang berbasis sekularisme. Sistem yang dianut negeri ini. Telah mencampakkan agama. Membuat generasi tak paham akan nilai-nilai agama. Mereka tak mendapatkan agama dengan utuh. Padahal, agama akan menjadi bekal dalam kehidupannya. Sehingga wajar, tindakan amoral tak terbendung.

Dan segudang problematika kelas akut yang dialami negeri ini. Alih-alih menyelesaikan, pemerintah justru mengeluarkan kebijakan yang mendzolimi umat. Pencabutan subsidi, kenaikan tarif dasar listrik, kelangkaan gas, kenaikan harga bahan pokok yang tak masuk akal, dan seabrek permasalahan lainnya.

Lautan manusia tumpah ruah, meringsak atas nama kezaliman yang menimpa mereka. Berharap kehidupan lebih baik. Sungguh, sistem demokrasi telah menciptakan kemiskinan yang sistemik. Kemiskinan yang mewabah mendorong kriminalitas. Akhirnya,  pencurian, pembegalan, perampasan hak rakyat,  menjadi tontonan sehari-hari.

Negeri macam apa ini? Penista agama dibela. Pembakar kalimat tauhid dibela. Ormas yang hobi persekusi pengajian dibela. Ormas dakwah yang konsen pada kemaslahatan umat, malah dibubarkan. Sungguh, Negeri yang tak memuliakan kalimat tauhid.

Satu-satunya sistem yang dapat memuliakan kalimat tauhid hanyalah sistem Khilafah. Sistem yang mampu menerapkan syariat Islam secara kaffah. Tidak setengah-setengah.

Tumbangnya rezim anti Islam dan diterapkannya sistem khilafah. Akan menjadikan bendera tauhid dimulakan kembali. Keperkasaannya akan melibas siapapun yang melecehkannya. Karena bendera tauhid adalah simbol kekuatan umat. Dibawahnya, akan terpancar kehidupan yang sesuai fitrah manusia.

Aku cinta Indonesiaku. Fitrahku, mendorongku untuk mencintaimu, wahai negeriku. Kini, engkau sedang dalam dekapan sistem yang busuk. Penjagamu tak benar-benar mencintaimu. Hanya menjadikanmu sebagai alat pemuas nafsu durjana. Ijinkan aku tak diam. Melihat Indonesiaku dirongrong manusia-manusia busuk. Save Indonesia with Khilafah.[MO/sr]








Posting Komentar