Oleh: Iis Purwanti

Mediaoposisi.com- Peringatan hari santri nasional pada tanggal 22 Oktober lalu, yang dilaksanakan di Garut, Jawa Barat, tercoreng dengan adanya ulah oknum anggota Barisan Serba Guna (BANSER) Ansor. Dalam video nya yang viral di media sosial, tampak sekelompok anggota berseragam ormas banser membakar bendera berwarna hitam yang bertuliskan kalimat tauhid.

Ketua GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas mengakui pembakaran bendera hitam berlafadz tauhid di Garut itu benar dilakukan oleh anggotanya. Namun, Gus Yaqut pun menegaskan anggotanya tidak bermaksud membakar kalimat tauhidnya, tapi yang dibakar adalah bendera ormas yang sudah dibubarkan pemerintah. (https://www.viva.co.id)

Dengan adanya peristiwa dari fakta diatas sontak mendapat reaksi langsung dari masyarakat khalayak umum. Adanya berbagai aksi bela kalimat tauhid yang puncaknya dilaksanakan di Monas, 2 Desember 2018, dimana aksi besar tersebut sekaligus membuktikan bahwa berbagai upaya dari rezim untuk mengalihkan isu dengan terus mempropagandakan bahwa yang dibakar adalah bendera ormas terlarang, bukan bendera tauhid, gagal total.

Kini umat tak bisa lagi dibohongi. Mereka sekarang tak lagi mudah ditipu, mereka kini sudah sadar dan paham bahwa bendera tauhid yaitu al-liwa' dan ar-rayah adalah milik mereka, milik umat muslim, bukan semata mata milik salah satu ormas saja.

Al-Liwa dan Ar-Rayah merupakan nama untuk bendera dan panji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rayah dan liwa’ sama-sama bertuliskan La ilaha illa Allah Muhammad Rasulullah. Pada rayah (bendera hitam) ditulis dengan warna putih, sebaliknya pada liwa’ (bendera putih) ditulis dengan warna hitam. Rayah dan liwa’ juga mempunyai fungsi yang berbeda.

Rayah merupakan panji yang dipakai pemimpin atau panglima perang. Rayah menjadi penanda orang yang memakainya merupakan pimpinan dan pusat komando yang menggerakkan seluruh pasukan. Mengenai hal ini, berdalil dari hadis dari Ibnu Abbas mengatakan, Rasulullah ketika menjadi panglima di Perang Khandak pernah bersabda, “Aku benar-benar akan memberikan panji (rayah) ini kepada orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya serta dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya.” Rasulullah kemudian memberikan rayah tersebut kepada Ali bin Abi Thalib yang saat itu menjadi ketua divisi pasukan Islam. (HR Bukhari).

Al-Liwa dan Ar-Rayah bukan hanya sekedar simbol perjuangan umat Islam, tapi lebih dari itu, ia merupakan simbol persatuan umat, pengikat kaum Muslimin di seluruh dunia. Karena ia sanggup mengikat Kaum Muslimin dalam persaudaraan. Satu sama lain merasa bersaudara karena keIslaman mereka, karena kalimat tauhid mereka. Jadi jelaslah, bendera tauhid adalah bendera Kaum Muslimin hingga hari kiamat nanti.[MO/sr]

Posting Komentar