Oleh: Sofia Ariyani, S.S 
(Member Akademi Menulis Kreatif)

Mediaoposisi.com- Jutaan bendera Al Liwa dan Ar Royah menghiasi perhelatan akbar Reuni 212 di Monas yang berlangsung 2 Desember lalu. Berbondong-bondong umat menghadiri Reuni 212 ini tersebab penistaan terhadap simbol-simbol Islam yang kian berani. Perasaan umat Islam kini mulai menyatu semenjak terjadinya penistaan Almaidah dan yang terakhir ini pembakaran bendera tauhid. Namun tidak hanya bendera hitam dan putih-yang khas dari bendera tauhid ini-yang mewarnai kawasan Monas pada 2 Desember lalu bendera tauhid dengan latar belakang warna-warni pun turut mewarnai.

Sebagaimana dilansir CNN Indonesia, Reuni 212, yang digelar di kawasan Monumen Nasional (Monas), dihiasi dengan bendera berwarna-warni bertuliskan kalimat tauhid. Tidak hanya bendera berwarna hitam dan putih.

Pantauan CNNIndonesia.com, nampak bendera berwarna merah, merah muda, biru, kuning, dan hijau. Semua bendera itu bertuliskan kalimat tauhid berwarna putih.
Bendera-bendera tersebut terdiri dari beberapa ukuran. Ada yang relatif besar, ada pula yang berukuran sedang.

Adanya apresiasi yang cukup tinggi di kalangan masyarakat terhadap Reuni 212 ini membuat masyarakat tidak memperhatikan benar atau tidaknya bendera Al liwa dan Ar royah dibuat berwarna-warni. Hal ini menandakan masih ada masyarakat yang sepenuhnya belum memahami bendera tauhid secara benar.

Oleh karena itu masyarakat harus diedukasi kembali dalam memahamkan bendera tauhid. Sebagaimana dinyatakan di dalam hadits “Royah Rasulullah Saw berwarna hitam dan Liwa’nya berwarna putih. Tertulis di situ Laa ilaaha illallah muhammad rasulullah” (HR. Abu Syaikh al-Ashbahani dalam Akhlaq an-Nabiy Saw.)

Al Liwa’ dan Ar Royah tidak hanya sekedar sepotong kain atau sekedar bendera pelambang suatu negara namun memiliki makna sebagai simbol aqidah Islam, sebagai pemersatu umat Islam, sebagai kepemimpinan Islam, sebagai pembangkit keberanian dalam perang, dan sebagai penggentar musuh.
Sebagai simbol aqidah. Pada Al Liwa dan Ar Royah tertulis kalimat syahadat “Laa ilaaha illallah Muhammad Rasulullah” dimana kalimat ini adalah penanda atau pembatas antara Islam dan kekufuran.

Sebagai bendera pemersatu umat Islam. Kalimat syahadat ini yang mempersatukan Islam sebagai satu kesatuan tanpa lagi melihat keanekaragaman suku, ras, bahasa, ataupun mazhab dan paham yang ada di tengah umat Islam.

Sebagai simbol kepemimpinan Islam. Dikatakan sebagai simbol kepemimpinan Islam karena pada faktanya pada saat-saat perang bendera tauhid ini selalu dibawa komandan perang pada zaman  Rasulullah Saw dan Khulafaur Rasyidin. Misalnya pada saat perang Khaibar, Rasulullah Saw bersabda “Sungguh aku akan memberikan Ar Royah ini kepada seorang laki-laki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya. Allah akan memberikan kemenangan kepada dirinya.” Umar bin Khaththab berkata, “Tidaklah aku menyukai kepemimpunan kecuali hari itu.” (HR. Muslim).

Selain itu fungsi Liwa’ sebagai penanda posisi pemimpin pasukan. Riwayat mengenai Liwa’ seperti yang diriwayatkan dari Jabir ra. Yang mengatakan “Rasulullah membawa Liwa’ ketika memasuki kota Makkah saat Fathul Makkah (pembebasan kota Makkah). (HR. Ibnu Majah)

Sebagai pembangkit keberanian dan pengorbanan dalam perang. Setiap negara atau wilayah pasti memiliki identitas, yaitu bendera. Bendera adalah lambang kedaulatan suatu negara, ia akan selalu dijunjung tinggi-tinggi karena kehormatannya. Begitu pun ketika perang, bendera sebagai penyemangat dan pembangkit. Pasukan akan terbangkitkan keberaniannya selama mereka melihat benderanya berkibar-kibar. Pasukan akan mati-matian agar bendera tetap berkibar dan menjaganya jangan sampai jatuh ke tanah sebagai simbol kekalahan.

Dan bendera Al Liwa’ Ar Royah sebagai penggentar musuh. Kisah kepemimpinan Muhammad bin Abi Amir (326H-392H) atau yang dikenal dengan sebutan Al-Hajib al-Manshur, pemimpin Andalus terbesar dan terhebat dalam perang Ar-Royah (Bendera) menunjukkan kisah bagaimana sangat “ditakuti” musuh Islam (Lihat: Al-Andalus at-Tarikh al-Mushawwar, h.236)

Dan sejarah mencatat bahwa keberadaan Al Liwa’ dan Ar Royah sejak masa Rasulullah Saw hingga masa Khilafah Utsmaniyah diakui oleh umat tidak hanya kaum muslim sendiri tapi juga seluruh umat manusia. Bahkan Nusantara pun menyandang bendera tauhid sebagai bagian dari negara Khilafah Utsmaniyah. Dapat kita lihat di antara kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara ini. Semisal Kerajaan Samudra Pasai, Kerajaan yang muncul sekitar abad ke-13 ini memiliki sebuah lambang Garuda yang dipenuhi dengan tulisan-tulisan arab. Tulisan tersebut berisikan kalimat basmallah dan kalimat tauhid.

Kesultanan Cirebon juga memiliki bendera dengan kalimat tauhid di dalamnya. Bendera Macan Ali namanya. Pada bendera Kesultanan Cirebon tersebut memuat sejumlah kalimat seperti basmallah, surat al-Ikhlas, hingga kalimat tauhid yang membentuk seperti macan.

Kesultanan Tidore juga memiliki bendera dengan kalimat tauhid di dalamnya. Hal yang sama pun digunakan di Kesultanan Inderapura di Sumatera Barat. Bendera dengan kalimat tauhid juga dimiliki oleh laskar Hizbullah yang kemudian membentuk TNI. Tidak hanya dalam bentuk bendera pada atributnya pun menyertakan kalimat tauhid.

Setelah keruntuhan Khilafah Utsmaniyah di Turki tahun 1924, segala identitas umat Islam dihapuskan, dilenyapkan, digantikan dengan gaya hidup Barat. Negeri-negeri Islam terpecah atas dasar konsep nation-state (negara bangsa) yang memiliki bendera nasionalnya masing-masing dengan berbagai warna dan corak. Sehingga umat Islam kehilangan jati dirinya. Bahkan umat Islam pun phobia akan benderanya sendiri, phobia terhadap Al Liwa’ dan Ar Royah yang diidentikkan dengan terorisme atau radikalisme.[MO/sr]


Posting Komentar