Oleh. Ika Rini Puspita
Mahasiswi Jurusan Biologi Fakultas SAINTEK  UIN Alauddin Makassar

Mediaoposisi.com-Belum hilang dari ingatan bencana yang menimpa saudari kita di Lombok Timur, NTB pada bulan Juli 2018 dengan kekuatan yang cukup tinggi. Kemudian disusul gempa dan tsunami  di Sulawesi Tengah tepatnya di Palu-Donggala.


Baru-baru ini, kabar duka kembali menyelimuti saudara kita dari Banten dan sekitanya. Sampai saat ini, Polisi dan TNI serta instansi terkait masih melakukan penyisiran pencarian, pembersihan puing-puing, dan evakuasi korban masih berlangsung. Dari data sementara yang didapatkan hingga pukul 15.50 WIB, jumlah korban meninggal dunia sekitar 139 orang (Wartabanten.id, 23/12/18).


Terlintas dibenak penulis, nampaknya bencana alam terlalu nyaman bermukim di bumi katulistiwa (Indonesia). Ini sebagai bentuk karena terlalu cintanya Ia kepada umatnya, sampai di uji sesakit dan seperih ini. Atau karena bentuk teguran dari-Nya karena umat sudah mulai melupakan kewajibannya sebagai ciptaan.


Vidio detik-detik bencana tsunami yang tersebar di dunia maya setidaknya mengajarkan kita banyak hal. Salah satunya untuk selalu berada di tempat-tempat yang baik dan berkah. Bukan rahasia lagi bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. Karena kita tidak tahu kejadian apa yang akan menimpa kita satu detik, menit dan jam kemudian.


Maka waktu adalah salah satu nikmat tertinggi yang diberikan Allah swt. kepada manusia. Perihal pentingnya waktu, Ali bin Abi Thalib perna mengungkapkan, waktu ibarat pedang. Maka jika manusia tak bisa memanfaatkan waktu, maka waktu yang sia-sia itu bisa memenggal kepala kita.


Manusia akan dimatikan sesuai dengan perilaku dalam kehidupannya.” Al-Hafizh Ahmad Bin as-Shiddiq al-Ghumariy dalam kitab Ju’natul Atthar jilid satu halaman: 29 menyatakan bahwa ungkapan di atas bukan hadis Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam lantaran tidak memiliki sanad sama sekali.


Ungkapan di atas disebutkan oleh imam Al-Munawiy dalam kitab at-Taisir Syarh al-Jami’ as-shoghir jilid satu halaman: 444 dan kitab Faidhul Qadir jilid 6 halaman: 226. Ungkapan tersebut beliau reduksi dari hadits Rasulullah shallallahu Alaihi Wa sallam riwayat imam Muslim dari Jabir Bin Abdullah: bahwa “Seorang hamba akan dibangkit dari kubur keadaannya dilihat dari bagaimana cara matinya.” (Shahih Muslim hadis no: 2878).


Siapa saja yang mati dalam keadaan mengerjakan sesuatu, maka dalam kondisi demikian ia akan dibangkitkan dari kuburnya.” (Musnad Imam Ahmad hadis no; 14373). Ketika seseorang dibangkitkan dari kuburnya sesuai dengan kondisi ketika ia mati, maka setiap perilaku kehidupan seseorang juga sangat menentukan, bagaimana ia akan diwafatkan.


Seseorang yang kebiasaan (rutinitasnya) dalam kehidupan dipenuhi dengan aktifitas-aktifitas ibadah, kemungkinan besar ia akan wafat dalam keadaan Khusnul khotimah. Karena kita tidak tahu kapan kita akan diwafatkan? Menyikapi hal ini, Sudah sepatutnya manusia memanfaatkan waktu seefektif dan seefisien mungkin untuk menjalankan tugasnya sebagai makhluk Allah. Misal dengan memilih tempat-tempat yang mulia, Ngaji, dan melakukan ibadah-ibadah yang mendatangkan kemaslahatan dan lain-lain.


Begitu juga sebaliknya jika seseorang hampir disetiap aktifitasnya dipenuhi dengan kemaksiatan, akan dikhawatirkan ia akan wafat dengan membawa kebiasaan buruknya. Bisa jadi!


Hingar bingar penyambutan tahun baru 2019 pun kian memuncak, tak terkecuali di Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim.  Pergantian tahun pada kalender Masehi itu hampir selalu menjadi rutinitas perayaan yang tidak boleh terlewatkan oleh semua kalangan umur. Libur panjang yang beriringan dengan Natal bahkan bertepatan dengan liburan sekolah menambah riuh orang-orang yang berkeinginan melalui pergantian tahun.


Mereka umumnya beralasan bahwa pergantian tahun adalah kesempatan yang hanya datang setahun sekali, maka apa salahnya jika dirayakan atau diisi dengan kegembiraan melebihi hari-hari biasanya. Dengan datangnya perayaan tahun baru ini, beragam cara masyarakat untuk menyambutnya. Fakta membuktikan masyarakat dunia begitu antusias menyambut tahun baru, terutama tahun baru masehi dibanding tahun Hijriah.


Diantara kebiasaan orang dalam memasuki tahun baru masehi di berbagai belahan dunia adalah dengan merayakannya, seperti begadang semalam suntuk, pesta kembang api, tiup terompet pada detik-detik memasuki tahun baru, pesta miras dan narkoba hingga diidentikkan dengan pesta seks. Sebenarnya bagaimana sejarah tentang tahun baru masehi dan bagaimana Islam memandang perayaan tahun baru masehi?


Berdasarkan kaidah fiqih dalam ajaran agama kita, bahwa hukum asal suatu perbuatan adalah terikat dengan hukum syara (syariat Islam). Itu sebabnya, sebelum melakukan suatu perbuatan kita harus tahu apakah perbuatan tersebut dihukumi sebagai perbuatan yang dibolehkan, diwajibkan, disunnahkan, diharamkan atau dihukumi sebagai makruh.


Dari sejarah tahun baru Masehi diketahui, bahwa bukan berasal dari budaya kita, kaum muslimin. Tapi sangat erat dengan keyakinan dan ibadah kaum Nasrani. Jadi melakukan sebuah perbuatan yang diniatkan untuk merayakan tahun baru masehi dihukumi haram oleh sebagian besar ulama. “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka” (HR Imam Ahmad).


Mungkin, ada yang bertanya-tanya lalu apa kaitannya perayaan tahun baru dengan bencana alam yang terus menghantam umat?  Karena ‘Manusia akan dimatikan sesuai dengan kebiasaannya’. Apa salahnya, jika di malam pergantian tahun baru masehi ini, kita mengisinya dengan sesuatu yang lebih bermanfaat. Kita sudah sepakat perihal kematian tidak ada yang bisa menduga-duga. Maka dari itu, seyogyanya kita memilih kebiasaan yang baik-baik.


Bisa jadi, betul kata orang berbagai musibah yang menimpa kita karena perbuatan kita sendiri. Dan Allah sudah muak dengan kerusakan yang telah kita perbuat dan sebagai bentuk cinta-Nya Ia pun memberi kode ke kita agar paham untuk segera berhukum atas-Nya. Bukan malah merasa congkak dengan berusaha mencampakkan hukum yang telah Allah turunkan, apalagi berkompromi dengan hukum-Nya (jalan tengah/moderat) (*).


Posting Komentar