Status: aktivis dakwah Palembang

Mediaoposisi.com-Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB, yang dalam bahasa inggris disebut dengan UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) menetapkan 18 Desember sebagai hari bahasa Arab sedunia.

Penetapan itu hasil inisiatif dua negara anggota UNESCO; Maroko dan Saudi Arabia guna menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa resmi yang digunakan dan diakui oleh dunia internasional.

Fakta menunjukkan, sedikit sekali diketahui, 18 Desember adalah hari Bahasa Arab Sedunia. Bahkan mungkin, memang tidak ada yang mengetahui hal ini. Padahal, bahasa Arab adalah bahasa kebangga-an kaum muslim. Dari sanalah lahir para mujtahid yang luar biasa. Dengan melalui Bahasa Arab pula, lahir generasi yang bisa mengatasi problema umat berdasarkan Syariat Allah.

Dulu, Negara Islam betul-betul memfasilitasi pelajar agar mereka bisa memahami bahasa Arab. Karena bahasa Arab adalah pilar peradaban Islam.

Bahasa Arab disini ialah yang mencakup cabang-cabang ilmunya yang berkaitan dengan tsaqafah Islam seperti ilmu nahwu, shorof, balaghah, dan adab. Namun, sampai saat ini Barat berusaha untuk menjauhkan hal itu.

Dibuatnya seolah-olah bahasa Arab tidak berkontribusi bagi kemajuan teknologi sains, ketinggalan zaman dan sebagainya.  Hal ini guna mengembangkan ide "busuk" yang disusupi oleh Barat, yakni ide sekulerisme. Padahal potensi Islam dan bahasa Arab itu tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain.

Muncullah buah kesalahpemahaman memahami syari'at Islam. Sebagai contoh, ketika mendalami makna "jilbab, khimar, jihad" serta memahami ayat lainnya. Sehingga aturan Islam terlihat tidak jelas. Padahal aturan Islam itu satu.  Adapun untuk perkara yang cabang (furu') itu masalah yang lain. Namun perkara yang ushul (pokok) maka kaum muslim harus sama.

Kesalahpemahaman terhadap syariat Islam akan terus berlangsung saat kaum muslim menerapkan sistem sekulerisme. Barat tahu itu, maka mereka menciptakan suatu kekurangan dalam kalangan pemuda terhadap bahasa Arab, bahasa Arab dikatakan gagal untuk menggambarkan sains modern.

Bahasa Arab telah nenjadi bahasa yang mati pada generasi milenial kini. Pada abad 21 kini, media memainkan peranan penting dalam mempengaruhi seseorang. Produk atau tayangan yang mereka "syiar"kan menggunakan bahasa yang mudah dipahami agar pendengar atau penonton tertarik dibandingkan dengan menggunakan bahasa Arab.

Dan ini mengakibatkan semakin tersisihlah bahasa Arab dari kehidupan umat. Karena kemerosatan kaum muslim dimulai saat ia meninggalkan bahasa Arab. Hal ini berakibat kepada sedikitnya orang yang melakukan ijtihad. Padahal dalam kondisi saat ini, ijtihad itu sangat penting dilakukan ditengah kemajuan teknologi dan pengetahuan yang semakin pesat.

Maka dari itu, kita harus menguatkan azzam agar bahasa Arab ini tidak sekedar menjadi bahasa pengetahuan semata tetapi menjadi bahasa internasional yang itu adalah pilar dari daulah Islam.

Posting Komentar