Oleh : Sartinah 
(Pemerhati Umat)

Mediaoposisi.com- Sipilis (Sekularisme, Pluralisme, Liberalisme) makin narsis. Kata itulah kiranya yang layak untuk menggambarkan bagaimana eksisnya narasi-narasi anti Islam yang kian menjamur di tiap sudut negeri ini. Pluralitas seolah jadi dalih untuk menolak segala sesuatu yang berbau syariat. Kebebasan yang diagungkan secara pelan namun pasti, telah menggerus keimanan seorang muslim. Penyimpangan terhadap syariat terasa lumrah, bahkan kebebasan yang diagungkan, telah mencapai titik sangat kritis, yakni alergi pada syariat Islam.

Kami Buka Donasi Untuk anda:
Donasi Bangun Media Pro islam

Seperti pernyataan ketua umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie yang membeberkan 3 misi partainya jika kelak diberi amanat oleh rakyat untuk duduk di parlemen. Salah satunya mencegah diskriminasi dengan tidak akan pernah mendukung Perda Syariah atau Perda Injil diterapkan di Indonesia. Secara runut Grace Natalie menjelaskan misi pertama PSI adalah memproteksi para pemimpin reformis di tingkat nasional dan lokal dari gangguan para politikus hitam, tempo.co (15 Desember 2017).

Setali tiga uang dengan pernyataan Ketua Umum PSI, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD menilai hukum syariah dan sejenisnya merupakan hukum perdata yang tidak perlu dirancang menjadi peraturan daerah atau perda syariah. Mahfud mengatakan upaya perancangan itu hanya akan sia-sia, "Bikin perda hukum perdata itu buang-buang waktu," kata Mahfud kepada Tempo pada Sabtu malam, 17 November 2018.

Angin kebebasan pada sistem demokrasi sekuler, meniscayakan siapa pun bebas mengemukakan pendapatnya meski harus menabrak rambu-rambu Allah SWT. Hingga banyak yang beranggapan bahwa aturan Islam mengekang kebebasan berekspresi dan diskriminasi. Walhasil, muncullah banyak wajah-wajah beratribut muslim namun menampakkan gejala pemikiran liberal. Mirisnya, gejala-gejala itu tak hanya terjadi di masyarakat umum, namun telah menjangkiti para punggawa negeri ini.

Akibatnya gerakan sipilis seperti tak ada matinya. Menebar teror tentang syariat Islam untuk membuat kaum muslim phobia terhadap agamanya sendiri, atau dengan membangun persepsi bahwa semua agama hakekatnya adalah sama. Narasi ini pun terasa sempurna karena penguasa seolah memberi angin segar terhadap merajalelanya berbagai gerakan anti Islam, sebagai dalih  penghargaan terhadap HAM. Hingga tak jarang kita disajikan beragam tontonan yang dipaksakan untuk di toleransi, misalnya terkait perilaku eljibiti yang tak sesuai fitrah manusia, namun demi alasan Hak Asasi Manusia, kaum muslim diminta mengerti dan menerima.

Belum lagi banyaknya kelompak atau parpol liberal yang berani unjuk gigi, entah sebagai pencetus atau sekedar pendukung para penista agama. Tak hanya itu, siapapun muslim yang berniat konsisten di jalur syariat, di paksa rela mendapat stigma radikal. Dengan berlindung dibelakang HAM, semua seakan boleh dilakukan termasuk menghina Islam. Sebab sistem Demokrasi sekuler memang meniscayakan demikian.

Sistem demokrasi kapitalis sekuler sesungguhnya tegak di atas asas sekulerisme dan liberalisme. Dimana sekulerisme sendiri adalah memisahkan agama dari negara, yang  secara pelan namun pasti sudah menguliti agama dari perannya dalam mengatur kehidupan. Agama hanya dipakai untuk urusan ibadah antara seorang hamba dengan penciptanya.

Sementara untuk urusan kehidupan, manusia diberi hak untuk mengatur kehidupannya sendiri dengan mengesampingkan aturan agama. Mirisnya lagi, jika wabah sipilis telah menjangkiti pemikiran kaum muslim, maka lambat laun akan  membunuh keimanannya. Musababnya, penyakit ini secara terang-terangan mengajari manusia untuk berpaling dari petunjuk Allah SWT.

Selama sistem bobrok ini masih diemban, selama itu pula gerakan-gerakan anti Islam akan tetap berjaya. Seharusnya setiap muslim memahami satu hal, bahwa yang membuat bangkitnya Ideologi produk barat dan terpuruknya Islam saat ini adalah karena satu hal yakni sekularisme (Pemisahan agama dari negara). Pun seharusnya kaum muslim menyadari bahwa Islam mempunyai jurus jitu untuk memproteksi berkembangnya setiap bentuk penistaan agama.

Islam adalah agama paripurna yang tidak hanya mengatur urusan privat seorang hamba dengan tuhannya melalui ibadah, tetapi sangat sempurna pula dalam mengatur urusan kehidupan. Dari bangun tidur hingga tidur kembali, semua di atur secara sempurna oleh Islam. Dimana agama (Islam) dan negara adalah satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan.

Islam adalah sistem hidup yang wajib diterapkan oleh kaum muslim.  Sebagai pedoman hidup, Islam mengarahkan pada setiap penganutnya agar bertindak sesuai dengan apa yang telah digariskan oleh Allah Ta'ala. Ketakwaan menjadi jaminan seseorang akan terhindar dari berbagai bentuk pemikiran rusak, seperti Sekularisme, Pluralisme, Liberalisme dan segala bentuk Isme-isme yang lainnya. Hanya saja, untuk dapat menerapkannya secara kaffah di dalam kehidupan, dibutuhkan sebuah institusi sebagai pengembannya yaitu negara.

Setidaknya ada 3 pilar yang wajib ditegakkan oleh negara untuk mencegah berbagai ide sesat yang masuk dan merusak pemikiran kaum muslim, antara lain:

Pertama, Ketakwaan Individu. Ketakwaan atas setiap individu muslim merupakan suatu kewajiban yang diperintahkan oleh Allah SWT, dengan menjadikan aqidah sebagai landasan. Jika telah tercipta individu-individu bertakwa, niscaya tidak ada pilihan untuk menentang perintah-Nya. Seperti termaktub dalam Firman Allah dalam surahnya, "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, " (QS at-Tahrim [66]:9).

Kedua, Kontrol masyarakat. Masyarakat memiliki peran yang tak bisa di pandang sebelah mata, untuk menegakkan Amar Ma'ruf Nahyi Munkar di tengah-tengah umat. Masyarakat tak boleh bersikap Apatis terhadap lingkungan sekelilingnya, Agar menjadi umat terbaik di mata Allah SWT.

"Perumpamaan orang-orang yang teguh menjalankan hukum-hukum Allah dan orang-orang yang melanggarnya, bagaikan sekelompok orang yang berada di dalam perahu. Sebagian mereka berada di atas dan sebagian lainnya berada di bawah. Adapun  mereka yang berada di bawah bila memerlukan air, maka mereka harus naik ke atas dan melewati orang-orang yang berada di atas, sehingga mereka berkata, "Lebih baik kita lubangi saja perahu ini, agar tidak mengganggu saudara-saudara kita yang berada di atas," maka bila mereka yang berada di atas membiarkan niat orang-orang yang berada di bawah, niscaya binasalah mereka semua. Akan tetapi, bila mereka mencegahnya, maka akan selamatlah mereka semua." (HR Bukhari)

Ketiga, Negara yang menerapkan hokum.  Negara adalah Institusi yang akan menegakkan aturan Islam secara kaffah. Aturan yang telah ditetapkan bersifat mengikat bagi semua warga negara. Tanpa negara, akan banyak hukum-hukum Allah yang terabaikan karena tidak dapat diterapkan oleh individu ataupun kelompok.

"Sesungguhnya dunia adalah ladang bagi akhirat, tidaklah sempurna agama kecuali dengan dunia. Kekuasaan dan agama adalah saudara kembar, agama merupakan pondasi dan penguasa adalah penjaganya. Apa saja yang tidak memiliki pondasi akan hancur dan apa saja yang tidak memiliki penjaga akan hilang. Dan tidaklah sempurna kekuasaan dan hukum kecuali dengan adanya pemimpin." (al-Imam al Ghazali)

Demikian seharusnya setiap muslim menjadikan ketakwaan individu menghiasi setiap aktivitasnya, dan menyibukkan diri pada taqarrub Ilallah, kemudian ada peran masyarakat yang senantiasa mengontrol,  serta peran negara yang sangat urgent untuk menegakkan aturan Islam secara kaffah. Hingga tercipta keselarasan hidup antara Individu, masyarakat dan negara. Yang lebih penting, Islam akan memproteksi setiap ide atau gerakan-gerakan anti Islam, yang mustahil bisa diwujudkan dalam sistem sekular. Wallahu a'lam bis shawwab [MO/sr]

Posting Komentar