Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Untuk mengambil alih kekuasaan secara paksa, dengan jumlah massa yang cukup, dibutuhkan paling lama 2 kali 24 jam melalui aksi 'people power' dengan menduduki tempat strategis yang menjadi simbol kekuasaan. Sederhananya, pendudukan gedung DPR dapat dijadikan sarana 'Pengambil alihan kekuasaan' melalui pengerahan massa untuk menumbangkan rezim dan mengambil alih kekuasaan secara paksa.

Peserta Reuni 212, ditinjau dari sisi jumlah jauh melampaui 'cukup' untuk mengambil alih kekuasaan melalui people power. Namun, kenapa jumlah massa yang signifikan itu tidak bernafsu menduduki DPR atau mengepung istana ?

Bagi mereka para aktivis perubahan yang hanya berfokus pada ganti rezim, mungkin akan sangat menyayangkan kenapa jumlah massa yang besar tidak digunakan untuk mengambil alih kendali kekuasaan yang terbukti gagal dibawah kendali rezim Jokowi. Berkumpulnya jutaan massa pada Reuni 212 dianggap sia-sia, anti klimaks, dan membuang energi percuma.

Tapi bagi orang yang mau meneliti lebih dalam, membedah motif dan tujuan Reuni, akan tampakalah fajar perubahan yang begitu mempesona. Kumpulan massa Reuni 212 hakekatnya sedang malakukan konsolidasi pemikiran, bahkan bukan hanya sipil. Konsilidasi terjadi antara sipil dan militer.

Motif mereka hanya dakwah, tujuan yang mereka inginkan adalah daulat tauhid, daulat hukum Allah sebagai dzat yang maha pengatur, untuk mengatur seluruh aspek kehidupan. Massa Reuni 212 sedang melakukan konsilidasi pemikiran untuk mengganti rezim dari rezim korup, menuju rezim yang amanah. Mengganti sistem demokrasi sekuler yang rusak, menuju sistem Islam yang menentramkan.

Dibalik konsolidasi itu, ada arus perubahan khilafah. Perubahan, yang ditempuh dengan dakwah pemikiran, tanpa kekerasan. Khilafah tidak ditempuh dengan kekerasan senjata melalui kudeta militer, tidak pula melalui kekerasan fisik melalui aksi people power.

Khilafah tegak atas dukungan umat dan penjagaan militer. Khilafah, ditegakkan oleh entitas umat dan militer yang menginginkan perubahan substansial, ganti rezim ganti sistem.

Bantu Azzam membangun media Por-Islam

Karena itu, Reuni 212 bukan perkara sia-sia, bukan aksi antiklimaks, bukan aksi murahan yang sekedar bertujuan menjatuhkan kekuasaan tiran dan mendudukkan tirani yang lain. Reuni 212 sedang melakukan konsolidasi alamiah, antara umat dan militer untuk kembali pada sistem pemerintahan sesuai fitrah dan tuntutan akidahnya, perubahan yang memuliakan Islam dan kaum muslimin. Perubahan itu bernama khilafah.

Karena itu, bagi siapapun Anda yang menyadari hal ini tidak mungkin bisa menghalangi perubahan itu dengan menebar fitnah terhadap khilafah. Bendera tauhid dan khilafah adalah satu kesatuan, yang perlahan akan kembali ke pangkuan umat dan memantik perubahan revolusioner ditengah-tengah umat.

Ditengah ketidakpercayaan publik pada sistem demokrasi yang rusak, pemilu yang curang, caleg dan partai yang korup, politisi pengkhianat, sistem politik yang mahal, penegakan hukum yang zalim, gagalnya penguasa menyejahterakan umat, arus khilafah menjadi harapan baru bagi umat.

Pertarungan simbol telah dimenangkan secara gemilang oleh pengemban dakwah. Umat telah memahami bahwa bendera tauhid adalah milik umat, umat juga telah memberikan pembelaan luar biasa pada eksistensi bendera tauhid. Kelumpuhan rezim secara semiotik, akan meningkat pada kekalahan pemikiran yang dramatis. Pada saatnya, bukan pengemban dakwah yang mengusung khilafah, tetapi umat-lah yang menuntut ditegakkannya khilafah. Umat, kelak akan memahami secara sempurna bahwa khilafah adalah miliknya, dan menuntut agar militer memberikan pembelaan kepada umat untuk bersama-sama menegakan khilafah.

Saat itu, peristiwa pembaiatan seorang lelaki, muslim, dewasa, berakal, merdeka, adil dan memiliki kemampuan mengemban tugas kekhilafahan, akan segera terwujud. Ba'da pembaiatan, Gema takbir akan menyelimuti seluruh pelosok negeri, fajar khilafah akan menerangi seluruh penjuru bumi. [MO/ge]

Posting Komentar