Oleh: Yuni Yartina

Mediaoposisi.com- Beberapa hari ini ramai netizen menggunakan tagar #SaveUyghur. Video-video empati beredar diberbagai sosial media. Aksi turun ke jalan juga dilakukan oleh beberapa kota di dunia. Semua itu merupakan reaksi terhadap kekejaman yang dilakukan Cina kepada muslim Uyghur. Siksaan berupa fisik dan mental yang menimpa muslim Uyghur, semakin menambah deret daftar penyiksaan muslim diberbagai negeri. Gaza, Suriah, Rohingya dan beberapa wilayah lainnya telah menjadi daftar kepedihan muslim seluruh dunia.

Save Uighur

Cina mendapat kecaman internasional. Pemimpin beberapa negara mengutuk tindakan yang dianggap melanggar HAM tersebut. Ya, hanya sebatas kecaman dan kutukan yang mampu dilakukan oleh negeri-negeri muslim. Tak ada bantuan militer. Adapun Indonesia dengan negeri mayoritas muslim, pemimpinnya pun tak mampu ambil sikap. Mengingat kekerabatan perekonomian yang erat antara Indonesia dan Cina.

Saat ini, negara antar negara telah memiliki batas kewenangan. Sekat antar negara membatasi gerak antar muslim untuk menolong saudara tertindasnya. Semua itu terbungkus dalam satu konsep  cantik bernama nasionalisme.

Sejak dijajah, negeri muslim telah terpecah menjadi beberapa negara. Konsep nasionalisme yang saat ini digenggam erat oleh masing-masing negara telah menjadi peninggalan pemahaman yang sukses dari para penjajah. Nasionalisme dalam artian penduduk diluar dari negaranya bukan bagian dari tanggung jawabnya. Maka tidak usah heran, jika tidak ada satupun negara yang mampu turun militer membantu etnis muslim yang tertindas dinegeri lain. Serta telah menjadi jawaban, mengapa muslim dunia sulit bersatu.

Penduduk muslim yang banyak, persenjataan yang canggih dan tentara yang banyak. Semua itu hanya berfungsi untuk menjaga kestabilan negara masing-masing. Tak satupun akan diturunkan untuk menolong penduduk negara lain, karena kuatnya nasionalisme tak lagi memandang kesamaan aqidah yaknj Islam.

Sebagai individu saat ini kita hanya mampu mengaplikasikan rasa humanis dengan bersuara menyeru pemimpin-pemimpin dunia agar menindak tegas rezim yang kejam. Penindasan yang dilakukan besar-besaran sangat tidak seimbang jika dilawan oleh satu individu dan rasa empati humanis belaka. Butuh kekuatan yang besar pula untuk menghentikan kekejaman yang besar.

Umat butuh naungan persatuan tanpa sekat berbatas negara, umat butuh pelindung aqidah, umat butuh kepemimpinan yang kuat. Hanya Islam yang memiliki sistem kepemimpinan yang tegas dan umum tanpa sekat. Ketegasan khilafah (sistem kepemimpinan islam) dalam melawan kedzhaliman akan memutus roda kekejaman. Pemimpin (khalifah) yang berwibawa tidak akan diam melihaf satu orang saja tertindas, terlebih jika banyak. Sungguh, hanya Khilafah yang mampu menyatukan umat diseluruh dunia dengan satu kepemimpinan negara yang kuat dan tentunya penuh toleransi dan tinggi rasa kemanusiaan. [MO/sr]

Posting Komentar