Oleh: Salamatul Fitri 
(Tenaga Pendidik dan Anggota Komunitas Muslimah Jambi Menulis) 

Mediaoposisi.com- Tidak bisa dibayangkan jika puluhan ribu jiwa anak-anak hilang begitu saja karena kebengisan manusia. Itulah yang terjadi di Yaman, dikutip dari Seraamedia, menurut PBB sekitar 85.000 anak-anak Yaman yang berusia  kurang dari lima tahun telah meninggal karena kekurangan gizi sejak konflik bermula pada 2015. Selain itu, ketika konflik memasuki tahun keempat sekitar 14 juta orang di Yaman kira-kira setengah dari total penduduk negara itu beresiko kelaparan. Konflik yang tidak berakhir ini akan terus menambah deretan panjang korban disisi rakyat.

Untuk anda yang ingin Donasi Media Pro Islam Bisa Melalui Link dibawah ini:
https://www.mediaoposisi.com/2018/12/ayo-dukung-media-pro-islam-bantu-media.html

Sungguh kejadian tersebut menyayat hati siapa saja yang melihat kondisi mereka. Hidup dalam suasana konflik, kekurangan makanan sehingga kematian begitu terasa dekat. Anak-anak menderita kurang gizi dengan kondisi memprihatinkan. Air susu ibu yang mengering serta memakan rebusan dedaunan. Siapa yang kuat menjalani kehidupan seperti mereka, tidak ada ku rasa. Tapi begitulah kehidupan rakyat Yaman saat ini karena perang sipil antara Houthi dan koalisi Arab Saudi yang didukung penuh Amerika Serikat.

Yaman yang miskin dalam keadaan perang sipil sejak 2014 ketika pemberontak Houthi menguasai sebagian besar negara termasuk ibukota Sana’a. Kemudian tahun 2015 Arab Saudi dan sekutu Arabnya meluncurkan serangan udara besar-besaran yang bertujuan untuk membalikkan keuntungan militer Houthi dan menopang pemerintah Yaman yang diperangi. Sejak perang sipil tersebut genosida terjadi di Yaman. Mereka menderita kelaparan akut hingga menimbulkan korban jiwa yang tidak sedikit serta menimpa anak-anak, perempuan dan lanjut usia.

Dunia internasional memang mengecam perang sipil di Yaman karena memakan banyak korban jiwa. Tapi apa daya semua tekanan tersebut tidak ada pengaruhnya sama sekali. Arab Saudi yang didukung penuh Amerika Serikat terus saja memborbardir Yaman sehingga rakyat lah yang menjadi korban.

Tak ada kah rasa kemanusiaan mereka melihat penderitaan rakyat Yaman? Dengan dalih memberantas pemberontak. Inikah perdamaian dunia yang digaungkan oleh PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa). Apakah dalih memberantas pemberontak negara dibenarkan walaupun serangan tersebut memusnahkan umat manusia. Begitulah jika sistem demokrasi yang berbicara, tak ada keadilan dan perdamaian hakiki yang ada semu semata.

Maafkan kami, saudarimu wahai rakyat Yaman. Kami sekarang belum mampu mengakhiri segala penderitaan kalian di dunia fana ini. Kehidupan kalian begitu menderita akibat penguasa zalim dan Koalisi Arab yang diketuai Arab Saudi menyerang negara kalian. Kalian hanya diam saja tanpa mampu memberontak. Seandainya kita punya pemimpin yang akan menjadi pelindung dan penjaga maka bahagianya umat islam. Sayang, pemimpin itu belum hadir sekarang.

Tapi yakinlah bahwa dia akan hadir menyelamatkan kalian, menjaga serta mengurusi urusan kalian sehingga kebahagiaan dan kesejahteraan yang didapatkan bukan kepedihan hidup dan kesengsaraan seperti sekarang. Bersabarlah wahai rakyat Yaman, Allah bersama kalian. Kami pun disini berjuang untuk mengembalikan lagi perisai umat yang sudah sangat dirindukan. Doa’kan kami dan semoga segera kemenangan islam itu Allah hadirkan.

Fajar kebangkitan islam akan segera hadir. Itu juga yang kurasakan melihat fenomena persatuan umat islam. Semua itu terlihat ketika Reuni Akbar 212. Jutaan kaum muslim berkumpul di Monas guna menunjukan pembelaan mereka terhadap bendera tauhid serta ghirah persatuan umat. Dikutip dari kabasumbar.net, data yang didapatkan dari jumlah IMEI telepon genggam peserta Reuni Akbar 212 yang didapat dari MSC atau pusat operator masing-masing. Dari data tersebut didapat informasi akurat jika jumlah peserta Reuni Akbar 212 adalah sebanyak 13,4 Juta jiwa. Jadi bukan delapan juta, bukan sepuluh juta tapi tiga belas juta empat ratusan ribu peserta. Allahu Akbar!

Mereka yang hadir adalah umat islam dari berbagai kalangan mulai politisi, ustadz, artis, pengusaha, masyarakat biasa bahkan kaum disabilitas juga menunjukkan kecintaannya kepada islam, simbol islam dan persatuan umat islam. masyaAllah, siapa sih yang bisa mengumpulkan jutaan manusia di monumen bersejarah negara ini selain keimanan. Mereka hadir bukan karena bayaran nasi bungkus, uang ataupun lainnya tetapi mereka hadir karena bayaran surga.

Keimanan telah menyatukan jutaan kaum muslim di Indonesia demi membela kalimat tauhid. 1 juta bendera Al-liwa dan Ar-Rayah telah berkibar di Monas. Sungguh, dulu bendera ini dikenal bendera Hizbut Tahrir. Tetapi, kini bendera Liwa dan Rayah telah kembali kepada pemiliknya umat islam. Umat islam sudah mengenal islam, mereka sudah mengenal simbol-simbol islam yang sempat hilang darinya dan mereka juga merindukan persatuan dibawah bendera tauhid. Allahu Akbar...

Fajar kebangkitan islam tinggal menunggu waktunya. Bisa jadi tahun ini umat islam di Indonesia membela kalimat tauhid dan tahun depan mereka menginginkan penerapan kalimat tauhid dengan aturan Allah yang mengatur kehidupan. Tidak ada yang tidak mungkin selama Allah menghendaki. Masa itu akan datang, bersabarlah wahai saudaraku Yaman...

Keyakinan itu dibuktikan dengan kebangkitan islam yang kedua akan dimulai dari Timur. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: Dari Abdullah bin Mas’ud dia berkata:

Ketika kami berada di sisi Rasulullah SAW, tiba-tiba datang sekumpulan anak muda dari kalangan Bani Hasyim. Apabila terpandang akan mereka, maka kedua mata Rasulullah SAW berlinang air mata dan wajah baginda berubah. Aku pun bertanya,“Mengapa kami melihat pada wajahmu sesuatu yang tidak kami sukai?” Baginda menjawab, “Kami Ahlul Bait telah Allah pilih untuk kami akhirat lebih dari dunia. Kaum kerabatku akan menerima bencana dan penyingkiran selepasku kelak sehinggalah datang suatu kaum dari sebelah timur dengan membawa panji-panji bewarna hitam. Mereka meminta kebaikan tetapi tidak diberikannya. Maka mereka pun berjuang dan beroleh kejayaan lalu diberikanlah apa yang mereka minta itu tetapi mereka tidak menerima sehinggalah mereka menyerahkannya kepada seorang lelaki dari kaum kerabatku yang memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana ia dipenuhi dengan kedurjanaan. Siapa di antara kamu yang sempat menemuinya maka datangilah mereka walaupun merangkak diatas salji. Sesungguhnya dia adalah Al-Mahdi." (HR. Ibnu Majah).

Dari hadits diatas memang tidak disebutkan timur sebelah mana. Tetapi jika kita kaji dengan teliti maka bisa dikatakan bahwa timur yang dimaksudkan adalah kawasan asia tenggara baik itu Indonesia, Malaysia dan lainnya. Apa salahnya kita mempunyai harapan, tentu hal tersebut semakin mengencangkan perjuangan dakwah di negeri ini guna menyongsong kebangkitan islam jilid dua.

Periode kenabian akan berlangsung pada kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya. Setelah itu datang periode khilafah ala minhaj nubuwwah (kekhilafahan sesuai manhaj kenabian), selama beberapa masa hingga Allah ta’ala mengangkatnya. Kemudian datang periode mulkan aadhan (penguasa menggigit) selama beberapa masa. Selanjutnya datang periode mulkan jabbariyyan (penguasa yang memaksakan kehendak) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah ta’ala. Setelah itu akan terulang kembali periode Khilafah ‘ala minhaj nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad saw diam.” (HR. Ahmad).

Barat memang bisa menghalangi tumbuhnya bunga tapi mereka tidak bisa menghalangi datangnya musim semi. Kebangkitan islam jilid dua adalah janji Allah dan kabar gembira dari Rasulullah. Inilah yang menjadi keyakinan bagi para pengemban dakwah yang menginginkan kebangkitan islam kembali.

Yakinlah akan kemenangan islam yang tidak lama lagi. Kemenangan yang dimustahilkan oleh barat dan pembenci islam. Tetapi Allah sebagai sang pemilik kehidupan telah memberikan janji akan kemenangan tegaknya islam dalam bingkai institusi negara yang akan menjadi junnah dan ra’in untuk umat di dunia terutama Yaman. Wallahu ‘alam bisshawab.[MO/sr]








Posting Komentar