Oleh: Tri WWahyuningsi 
(Pegiat Literasi & Media) 

Mediaoposisi.com- Masyarakat sipil adalah terjemahan dari istilah Inggris civil society, mengambil dari bahasa Latin civilas societas. Konsep civil society ini lahir pada abad ke-17, sezaman dengan lahirnya liberalisme politik dan agama di Eropa. Oleh karena itu, civil society ini tidak bisa terlepas dari pergolakan ideologi Barat pada era renaissance (zaman pencerahan Eropa) – yang menggagas kebebasan berideologi. Sebagai sebuah konsep, harus diakui bahwa civil society memiliki akar dalam sejarah pemikiran sekuler Barat.

Secara historis, akar perkembangan civil society bisa dilacak mulai dari Cicero, bahkan menurut Manfred Ridel, ia bisa dirunut lebih ke belakang lagi sampai Aristoteles. Namun yang jelas, Cicerolah yang memulai menggunakan istilah societes civilis dalam filsafat politiknya. Dalam tradisi Eropa, hingga abad ke-18, pengertian civil society dianggap sama dengan negara (the state), yakni suatu kelompok atau kekuatan yang mendominasi seluruh kelompok masyarakat lain.

Ide civil society tumbuh dan berkembang pada era renaissance ketika timbul gerakan melepaskan diri dari dominasi agamawan dan para raja yang berkuasa atas dasar legitimasi agama. Abad pencerahan adalah kebangkitan Eropa, liberalisme, dan sekulerisme menjadi paham baru yang menentukan masa depan Barat.

Menurut A. Holl, civil society menekankan pada adanya ruang publik yang bebas (the free public sphere), di mana individu dan kelompok dalam masyarakat dapat saling berinteraksi dengan semangat toleransi. Masyarakat sipil menampilkan dirinya sebagai wilayah yang mengedepankan kepentingan individual, pemenuhan hak-hak individu secara bebas, tanpa ikatan agama, bahkan negara sekalipun. Dengan demikian dalam konsep civil society terdapat unsur liberalisme, sekularisme, dan pluralisme.

Liberalisme dan sekularisme menuntut suatu masyarakat yang toleran, mengakui kemajemukan budaya dan bebas menjalankan kehidupan tanpa kekangan gereja yang otoriter. Seiring meletusnya Revolusi Prancis pada tahun 1789, tumbuh sistem pemerintahan demokratik dan ekonomi kapitalistik – menggantikan sistem monarki yang didominasi agamawan dan gereja –, lahirlah ide masyarakat demokratis, bebas, pluralistik, dan toleran. Sistem sosial ini dikenal dengan civil society. Ya konsep civil society tidak dapat dilepaskan dari kesatuan organiknya dengan konsep-konsep Barat lainnya, seperti demokrasi, liberalisme, kapitalisme, rasionalisme, sekularisme dan individualisme.

Civil Society, Demokrasi Dan Gerakan Mahasiswa
Civil Society dan Demokrasi ibarat“the two side at the same coin”. Artinya jika civil society kuat maka demokrasi akan bertumbuh dan berkembang dengan baik. Sebaliknya jika demokrasi bertumbuh dan berkembang dengan baik, civil society akan bertumbuh dan berkembang dengan baik. Itu sebabnya para pakar mengatakan civil society merupakan rumah tempat bersemayamnya demokrasi.

Menguatnya civil society saat ini sebenernya merupakan strategi yang paling ampuh bagi berkembangnya demokrasi, untuk mencegah hegemoni kekuasaan yang melumpuhkan daya tampil individu dan masyarakat. Dalam praktiknya banyak di jumpai, individu, kelompok masyarakat, elite politik, elite penguasa yang berbicara atau berbuat atas  nama demokrasi, walau secara esensial justru sebaliknya.

Kesadaran masyarakat akan demokrasi bisa dibeli dengan uang. Jika ada uang, maka kekuasaan dalam alam demokrasi akan dengan mudah didapatkan. Para Kapital akan bergerak dengan cepat guna mencari agen-agen yang siap memainkan peran menjadi penguasa, seolah-olah bekerja mengurusi masalah rakyat tapi realitanya hanya mengurusi kepentingan para tuan-tuan kaya.

Civil Society hanya satu diantara sekian banyak cara barat (kafir) untuk menjajah, membodohi masyarakat khususnya kaum muslim. Barat dengan ideologi Kapitalisme nya akan terus bergerak masuk ke tengah-tengah masyarakat khususnya di tengah kalangan cendikiawan dan intelektual kampus lewat program-program "cantik" tapi menyimpan kerusakan yang begitu parah dibalik tampilan luar produknya.

Dalam demokrasi, gerakan  civil society  dipahami sebagai suatu gerakan yang mempelopori perubahan dalam kehidupan publik. Dengan demikian, untuk gerakan mahasiswa pun diharapakan mampu menampilkan diri sebagai sebagai suatu gerakan civil society.

Gerakan mahasiswa 1998 telah memberikan warna tersendiri bagi perjalanan bangsa dan negara Indonesia. Dengan kapasistas yang mereka miliki, para mahasiswa bergerak demi suatu perubahan. Namun, sayangnya kini tak tampak lagi Mahasiswa yang bergerak menuju perubahan dan kebangkitan.

Yang ada hanya Mahasiswa yang bergerak mengikuti arus politik praktis dengan pemikiran pragmatis ala barat dengan ideologi Kapitalisme. Mahasiswa hari ini, bergerak bukan lagi untuk sebuah perubahan di tengah-tengah masyarakat, tiga fungsi mahasiswa telah hilang seiring dengan bertambah kokohnya demokrasi Kapitalis di negara ini dan global.

Perspektif Islam Tentang Civil Society 
Dengan menulusuri sejarah pemikiran civil society yang lahir dari ideologi barat (sejak reinasence Eropa), jelas bahwa konsep ini bertumpu pada aqidah (pemikiran dasar) sekularisme, yang merupakan landasan ideologi kapitalisme. Sekularisme adalah pemisahan agama dari kehidupan (fashlu al din ‘an al hayah), yang dengan sendirinya akan menghasilkan pemisahan agama dari negara. (An Nabhani, 1953)

Civil society yang bertumpu pada akar sekularisme adalah ibarat pohon buruk yang berdiri di atas akar yang tercerabut dari bumi. Maka, dengan kata lain, ia adalah konsep yang batil, sangat rapuh dan ringkih, karena didasarkan pada aqidah yang batil. Di samping itu konsep civil society mengandung ide-ide cabang yang juga bertentangan secara total dengan Islam yaitu ide demokrasi dan kebebasan individu.

Sedangkan, Islam adalah kalimat yang baik, seperti pohon yang baik. Sedang kekufuran, syirik, dan yang semisalnya, adalah bagaikan pohon yang buruk, yang akarnya tidak menancap mendalam di dalam tanah, bahkan tercerabut dari tanah. Maka sudah sewajarnya pohon itu segera tumbang karena tidak punya ketegaran sedikit pun.

Maka dari itu, haram bagi kaum muslimin untuk mengadopsi konsep civil society, karena konsep ini adalah konsep kufur, yakni tidak didasarkan pada apa yang diturunkan Allah. Segala sesuatu pemikiran tentang kehidupan yang tidak didasarkan pada apa yang diturunkan Allah adalah kufur dan thaghut yang harus diingkari dan harus dihancurkan. Allah SWT berfirman :

Barangsiapa yang tidak memutuskan (perkara) menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS Al Maaidah : 44)

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan apa yang diturunkan sebelum kamu ? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah untuk mengingkari thaghut itu…”: (QS An Nisaa` : 60)[MO/sr]

Posting Komentar