Oleh : Samsinar Asri
(Member WritingClassWithHas) 

Mediaoposisi.com-Di penghujung tahun 2018, kabut duka menyelimuti Indonesia. Bencana pantai Anyer dan Lampung menambah deret bencana di negeri ini. Seakan bumi pertiwi sedang gundah. Gunung dan lautan mengeluarkan amarahnya, dan mengguncang kehidupan manusia disekitarnya. Dan warga kembali pilu dirundung duka. Ketakutan akan munculnya bencana tsunami terus menghantui warga.

Terutama warga yang berada disekitar selat sunda. Sejak anak gunung Krakatau terus meningkat aktivitasnya. Setelah sebelumnya telah mengakibatkan air laut menghantam Pantai Anyer dan Lampung.

Sungguh memunculkan trauma mendalam bagi warga yang merasakan langsung bencana.
Saat ini warga bertambah khawatir dengan adanya abu vulkanik yang sudah mengarah ke wilayah timur selat Sunda. Dan abu vulkanik anak gunung Krakatau sudah terlihat sampai di kota cilegon. Seperti yang dilansir oleh salah satu media nasional.

Aktivitas tremor gunung anak gunung Krakatau meningkat dan makin sering mengeluarkan dentuman dan abu vulkanik. Abu anak gunung Krakatau dilaporkan sudah sampai ke Kota Cilegon, Banten, pada Rabu (26/12/2018) sore. (26/12/2018, BanjarmasinPost).

Menurut data dari Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, kondisi dinding kawah anak gunung Krakatau bertambah rapuh dan berpotensi terjadi longsor yang memicu tsunami selat Sunda.

"Dinding kawahnya itu bertambah rapuh dan dikhawatirkan akan mudah terjadi longsor yang bisa memicu terjadinya tsunami," kata Dwikorita saat ditemui di kantor BMKG, Selasa 25 Januari 2018. (Tempo.com, 29/12/2018).

Hal ini menambah penjelasan tentang kondisi anak gunung Krakatau. Yang kapan saja bisa mendatangkan bencana yang lebih besar lagi
.
Bangsa ini Harus Belajar Bangkit
Indonesia telah diguncang bencana, tidak hanya sekali dalam kurun waktu setahun ini.
Bangsa ini harusnya banyak belajar dari bencana yang dialami. Mengingat dimana negeri ini memiliki wilayah rawan bencana.  Kita berada tepat di batas-batas lempeng Eurasia, Hindia, Australia dan Pasifik.  Kita punya 129 gunung api aktif.  Semua ini berpotensi gempa, longsor, tsunami dan erupsi yang mampu menghancurkan kehidupan dalam seketika, sebagaimana yang baru terjadi di Lombok dan Palu.

Para peneliti telah sering melakukan riset atas keadaan wilayah yang berpotensi bencana. Tetapi seakan tidak menjadikan bangsa ini belajar mencegah musibah yang bisa menimpa. Maka seharusnya kita dan pihak terkait sudah memikirkan solusi atas kemungkinan bencana yang akan ditimbulkan. Saat sebelumnya telah ada hasil riset yang telah dikemukakan.

Dimana sebelum kejadian tsunami, erupsi gunung anak Krakatau terjadi terus menerus sejak Juni 2018 dan fluktuasi, namun tidak ada peningkatan intensitas yang signifikan," ujar Kepala Sub Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami wilayah Barat PVMBG Badan Geologi, Ahmad Solihin kepada reporter Tirto, Selasa (25/12/2018). (Tirto.id, 26/12/2018)

Sehingga, sikap cepat tanggap mempersiapkan diri atas upaya menghadapi tanda-tanda yang telah diperlihatkan lewat riset ini harus dilakukan bersama-sama,oleh semua pihak terkait.  Terlebih lagi, kepada pemerintah yang dalam hal ini memiliki tanggung jawab atas setiap kondisi rakyat. Termasuk tiap bencana. Seharusnya kita banyak belajar dari sejarah pendahulu kita. Bagaimana mereka telah menyiapkan diri dalam menghadapi bencana berikutnya.

Menghadirkan Ilmu langit dan Ilmu manusia dalam Menghadapi Bencana
Sebagai muslim, selayaknya kita menempatkan bencana ini sebagai qadha Allah dalam kehidupan manusia. Sehingga menyikapi setiap musibah harus selalu dengan tuntunan syariah. Karena itu kita betul-betul memahami hakikat musibah ini.

Dimana setiap musibah menjadi ujian bagi setiap hamba. Sebagaimana firman Allah SWT,
"Sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut dan kelaparan. Juga berkurangnya harta, jiwa dan buah-buahan. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar" (TQS al-Baqarah [2]: 155).

Orang yang berakal akan menjadikan sikap sabar sebagai pilihannya dalam menyikapi musibah. Ia ridha terhadap qadha dan takdir Allah SWT yang menimpa dirinya tanpa berkeluh-kesah (Al-Jazairi, Mawsûah al-Akhlâq, 1/137).

Dan kemudian kita jangan lupa bahwasanya musibah datang karna akibat dari berbagai kemaksiatan manusia dan pelanggaran mereka terhadap syariah Allah. Dalam hal ini Allah SWT berfirman:
"Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan akibat perbuatan tangan (kemaksiatan) manusia supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian akibat perbuatan (kemaksiatan) mereka itu agar mereka kembali (ke jalan-Nya)" (TQS ar-Rum [30]: 41).

Sehingga sikap peduli terhadap lingkungan menjadi jalan yang harus kita lakukan bersama-sama. Sehingga tidak adalagi bencana yang terjadi akibat kelalaian kita.
Melakukan antisipasi lewat teknologi, sebagai ilmu terapan manusia. Ilmu kehidupan yang telah manusia pelajari dari alam. Belajar dari tiap bencana, hingga menemukan solusi atas bencana yang bisa datang kapan saja.
Patut kita belajar dari pendahulu kita, bagaimana di dalam daulah Islam. Negara berjalan bersama para ilmuan dan para ahli dibidangnya dalam mengusahakan solusi.

Bagaimana ketika Turki, yang menjadi bagian Daulah Islamiyah mengantisipasi gempa, yang dilakukan adalah membangun gedung-gedung tahan gempa.  Sinan, seorang arsitek yang dibayar Sultan Ahmet untuk membangun masjidnya yang terletak berseberangan dengan Hagia Sofia, membangun masjidnya itu dengan konstruksi beton bertulang yang sangat kokoh dan pola-pola lengkung berjenjang yang dapat membagi dan menyalurkan beban secara merata. 

Masjid itu, dan juga masjid-masjid lainnya juga diletakkan pada tanah-tanah yang menurut penelitiannya pada saat itu cukup stabil.  Gempa-gempa besar di atas 8 Skala Richter yang terjadi di kemudian hari terbukti tidak menimbulkan dampak yang serius pada masjid itu, sekalipun banyak gedung modern di Istanbul yang justru roboh.

Tentu kita bisa belajar, bagaimana bangsa ini khususnya pemerintah memikirkan upaya menyikapi pasca bencana. Daerah yang rawan terjadi gempa, diberi aturan ditiap pembangunan sarana rakyat. Agar rakyat tidak lagi harus mengalami bencana serupa. Karna rakyat sudah memiliki keyakinan keimanan, menyandarkan tiap musibah sebagai penghapus dosa. Sehingga sabar dan tawakkal hanya kepada Allah sang pencipta. Dan melakukan pencegahan berupa menyiapkan struktur bangunan yang kokoh serta memberi jarak aman untuk interaksi manusia dengan wilayah rawan gempa dan tsunami. Sebagai ikhtiar manusia akan tiap bencana.

Seharusnya tidak ada lagi musibah yang akan menimpa bangsa ini jika sekiranya ketakwaan kepada Allah Ta'ala menjadi pondasi kokoh dalam tiap diri.

Ketakwaan pasti akan mendatangkan keberkahan berlimpah dari langit dan bumi. Sebagaimana firman-Nya:
"Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu sehingga Kami menyiksa mereka karena perbuatan yang mereka kerjakan" (TQS al-Araf [7]: 96).[MO/sr]

Posting Komentar