Oleh: Tri S, S.Si
(Penulis adalah Pemerhati Perempuan dan Generasi) 

Mediaoposisi.com-Instabilitas politik dan kekacauan masih terus menggungcang Yaman. Amerika Serikat (AS) mengumumkan pada Rabu (21/11/2018), bahwa perundingan damai untuk mengakhiri perang di Yaman akan dimulai bulan Desember 2018 di Swedia. Pengumuman itu datang ditengah meningkatnya tekanan global untuk menghentikan kampanye pengeboman oleh koalisi yang dipimpin Arab Saudi, yang telah menyebabkan kondisi yang dapat disebut sebagai kejahatan perang, menurut laporan PBB pada bulan Agustus 2018 (mata-mata politik, 21/11/2018). 

Pengumuman oleh Menteri Pertahanan AS Jim Mattis di Pentagon, datang bersamaan dengan pernyataan dari badan bantuan Save the Children pada Rabu (21/11/2018), yang menggarisbawahi sifat mengerikan dari konflik ini: Diperkirakan 85 ribu anak mungkin meninggal karena kelaparan sejak pengeboman dimulai pada tahun 2015.

Para ahli mengatakan bahwa Yaman telah menjadi krisis kemanusiaan terburuk di dunia, dan 14 juta orang akan segera berada di ambang kelaparan, menurut PBB.

 Sebagian analis menyebut Yaman sebagai Afganistan dunia Arab dan sebagian lagi menganggapnya Vietnam dunia Arab. Laporan yang dirilis oleh lembaga-lembaga internasional khususnya UNICEF menilai agresi koalisi Arab pimpinan Arab Saudi di Yaman sebagai contoh nyata kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan kejahatan terhadap perdamaian (ParsToday.com, 17/08/2016).
Berbicara melaui Twitter, UNICEF memperingatkan bahwa kurangnya akses ke air bersih dan layanan kesehatan kronis membuat anak-anak Yaman berisiko terserang kolera, penyakit menular (yang mematikan), dan bakteri.  Menurut angka PBB, sekitar 85.000 anak-anak Yaman yang berusia kurang dari lima tahun telah meninggal karena kekeurangan gizi sejak konflik di Yaman bermula pada 2015 (www.seraamedia.org/23/11/2018).

Presiden Amerika Serikat Donald Trump membela intervensi Arab Saudi di Yaman, dan menyalahkan Iran atas konflik tersebut. Pemerintah Iran- katanya dalam sebuah pernyataan pada Selasa (20/11)-“bertanggung jawab atas perang proxy berdarah melawan Arab Saudi di Yaman,” sementara “Arab Saudi dengan senang hati akan mundur dari Yaman jika Iran akan setuju untuk pergi”.

Dalam dukungannya untuk Arab Saudi,Trump telah mengesampingkan kesimpulan para ahli intelijennya sendiri, bahwa penguasa muda de facto kerajaan, putra mahkota Mohammed bin Salman (MBS) telah memerintahkan pembunuhan pembangang sekaligus jurnalis Arab Saudi Jamal Kashoggi, mendorong agenda “America First”-nya dengan menggembar-nggemborkan kesepakatan senjata Saudi yang besar, dan menekankan dibutuhkannya bantuan Saudi di Timur Tengah untuk menahan Iran.

Pada Rabu (21/11/2018), Trump memuji Saudi karena penurunan harga minyak, menulis di Twitter: “Harga minyak semakin rendah. Besar! Seperti pemotongan Pajak besar untuk Amerika dan Dunia. Nikmatilah! $54, tadinya $82. Terima kasih kepada Arab Saudi, tapi mari terus turunkan!”

Mungkin dia melakukannya dan mungkin dia tidak!” tutur Trump, yang membebaskan MBS dari segala tanggungjawab atas pembunuhan Kashoggi. Trump mengabaikan daftar bencana kemanusiaan dan pelanggaran hak asasi manusia oleh kerajaan Arab Saudi yang telah terdokumentasi, dan pengampunan terhadap Arab Saudi dikhawatirkan akan menyemangati para otokrat di seluruh dunia, kata para analis.

Bulan November 2018, Amerika Serikat mengatakan akan mengakhiri pengisian bahan bakar udara untuk kampanye militer Saudi di Yaman, dan menyiapkan sanksi terhadap Saudi terkait dengan pembunuhan Khashoggi. Namun langkah-langkah itu dipandang terbatas dan hanya dilakukan sebagai strategi dalam menanggapi kecaman internasional yang luar biasa.

Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat mengatakan bahwa Amerika Serikat menyediakan bantuan lebih dari 566 juta dolar AS untuk mengelola krisis kemanusiaan ini. Lembar fakta yang diterbitkan pada tanggal 9 November 2018, menunjukkan kerusakan yang terjadi pada infrastruktrur sipil setelah penyebaran koalisi Saudi di sekitar kota pelabuhan Hudaydah.

Mattis belum menentukan tanggal untuk perundingan damai karena khawatir mendahului pengumuman PBB. Mattis menambahkan bahwa koalisi yang dipimpin Saudi telah menghentikan serangannya disekitar Hudaydah sebelum dilakukannya perundingan.

Ditengah karut marut persoalan bangsa ini, kita tak boleh lupakan nasib muslim Yaman yang makin menyedihkan akibat perang saudara di bawah provokasi Barat.

Umat butuh kekuatan global sekaligus institusi pemersatu umat untuk menghentikan konflik berkepanjangan yang menjatuhkan korban dari kalangan rakyat tak berdosa. [MO/sr]

Posting Komentar