Oleh Oktavia Nurul Hikmah, S.E. 
(Komunitas Menulis Revowriter, Gresik)

Mediaoposisi.com-Pagi yang cerah. Berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya yang basah dan dirundung mendung. Zahra mengajak Ali jalan-jalan dengan sepeda bayinya. Ali sudah terlihat segar setelah demam beberapa hari terakhir. Senyumnya yang diperindah lekukan lesung pipi menenteramkan siapapun yang menyapa, terlebih ibunya. Kelelahan karena berjaga selama Ali sakit pun seolah sirna.

Zahra memandang anaknya sambil tak henti bersyukur. Ali tumbuh sehat sekalipun di awal kelahir-annya tidak dapat disusui dengan baik. Tekanan dan kelelahan saat menjadi ibu baru nampaknya menjadi penyebab air susunya tidak lancar keluar. Namun seiring waktu, asupan terbaik untuk buah hatinyapun semakin lancar.

Bahkan, Ali nampak sehat dan semakin aktif. Lihat saja, tangannya tak berhenti mencoba menggapai setang sepedanya. Matanya yang jernih pun menangkap setiap pemandangan di jalan dengan penuh antusias. Celotehnya yang belum jelas kian nyaring.

Saku gamis Zahra bergetar. Zahra mengusap layar gawainya. Ada pesan dari Ustadzah Nabila, menanyakan tulisan Zahra yang dimuat bulan ini. Zahra menghela nafas, urung membalas pesan tersebut. Kesibukan menjadi ibu baru cukup meredupkan ghirah dakwahnya. Beberapa amanah terbengkalai. Ide-ide kreatifnya dalam mendesain agenda dakwah seolah padam. Zahra merasa malu kepada Allah, sekaligus tak berdaya.

Zahra menghela nafas panjang, namun seketika nafasnya tercekat. Seolah melihat adegan dalam gerakan lambat, Zahra hanya dapat terpaku saat sepeda bayi Ali terguling. Nampaknya Ali tertarik dengan sekuntum bunga yang tergeletak di tanah dan berusaha meraihnya sehingga sepedanya pun hilang keseimbangan. Zahra memekik. Diangkatnya tubuh anaknya yang menangis keras. Wajah Zahra pias, degup jantungnya berlompatan. Setelah tangis Ali mereda, diperiksanya lamat-lamat tubuh anaknya. Alhamdulillah, hanya ada sedikit luka gores di punggung tangan Ali.

Zahra memandang wajah anaknya yang terlelap tidur. Ia beringsut pelan-pelan meninggalkan tempat tidur. “Baiklah, sudah saatnya aku menyelesaikan amanahku,” Zahra menggumam. Ia pun segera berkutat dengan situs berita online, mencari data dan fakta untuk bahan menulis opini. Karena lama tak melakukan aktivitas ini, Zahra merasa kesulitan memulai paragraf pertamanya. Beres dua kalimat, ia kebingungan melanjutkan. Ketik, hapus, tulis lagi, bingung lagi. Begitu terjadi berkali-kali.

Menyerah, Zahra pun kembali membuka situs berita. Hingga pandangannya terpaut pada sebuah headline. Krisis Yaman: Sekitar 85.000 Anak Meninggal Karena Kelaparan. Begitulah bunyi headline berita tersebut.

Membaca kalimat demi kalimat, Zahra terhenyak. Tak terasa airmatanya menganaksungai. Kelompok Hak Asasi Manusia Save the Children menemukan bahwa sejak April 2015 hingga Oktober 2018, terdapat 84.701 anak di bawah usia lima tahun di Yaman meninggal karena kasus kekurangan gizi akut atau kelaparan.

“Anak-anak yang mati dengan cara ini sangat menderita ketika fungsi organ vital mereka melambat dan akhirnya berhenti. Sistem kekebalan tubuh mereka sangat lemah bahkan untuk menangis. Orang tua harus menyaksikan anak-anak mereka pergi tanpa bisa berbuat apa-apa,” ujar Tamer Kirolos, Direktur Save the Children di Yaman.

Krisis di Yaman telah berubah menjadi senjata pemusnah massal bagi anak-anak dan penduduk Yaman yang lain. PBB telah memperingatkan bahwa warga Yaman yang berada dalam risiko kelaparan mencapai 14 juta jiwa. Kelompok Save the Children menyebut bahwa jumlah tersebut meningkat secara drastis sejak keterlibatan koalisi Saudi dalam krisis Yaman. Sejak itu, pasokan impor bahan makanan menurun drastis dan mengarah langsung ke kelaparan (www.kiblat.net).

Zahra tergugu. Pada setiap jiwa kanak-kanak yang pergi karena kekisruhan di antara pemimpin negara, pada setiap tawa dan tangis yang lenyap karena kesakitan menahan kosongnya perut, pada setiap hal mengerikan yang menimpa anak-anak muslim di berbagai penjuru dunia. Pada setiap hal tersebut, Zahra hanya mampu menangis. Bahu Zahra terguncang menahan kepedihan.

“Kenapa Dek?,” tanya Umar khawatir. Zahra tak menyadari kehadiran suaminya yang tergopoh ke kamar karena mendengar isak tangisnya. Wajahnya yang bersimbah air mata mendongak menatap suaminya. Sedu sedannya tak berhenti. Zahra menggapai mencari tangan suaminya. Digenggamnya kuat tangan suaminya, mencari ketenangan.

Kecelakaan kecil yang terjadi pada Ali dan disusul dengan berita kematian anak-anak Yaman karena kelaparan menghentak kesadaran Zahra yang sempat mati suri. Sungguh telah Allah karuniakan kepada manusia naluri untuk mencintai dan menyayangi sesama manusia. Zahra mencintai anaknya, tapi karena itu ia lupa mewujudkan rasa cintanya pada manusia yang lain.

Zahra mencintai anaknya, tapi ia lupa mengekspresikan syukur pada Allah yang memberikannya amanah anak. Bagaimana tidak, anak dijadikannya alasan untuk tidak optimal menjalankan amanah dakwah, suatu perintah dari Rabbnya.

Padahal Zahra telah memahami, ada begitu banyak problematika umat. Kelaparan masal yang menimpa penduduk Yaman adalah sebagian kecil di antaranya. Tak perlu jauh-jauh, di negeri ini pun begitu banyak permasalahan mendera. Seluruh problem tersebut bermuara pada satu problem utama yaitu dicampakkannya aturan Allah SWT.

Ketika syariat Islam ditinggalkan, umat seperti anak ayam kehilangan induk. Bergerak serabutan sambil memekik penuh kecemasan. Tak ada tempat mengadu dan meminta perlindungan.

Seluruh musibah ini berawal dari penghancuran institusi pelindung umat pada tahun 1924, kekhilafahan Islam terakhir yang diruntuhkan oleh Mustafa Kemal Pasha bersama sekutunya Inggris. Khilafah adalah sistem pemerintahan yang berlandaskan syariat Islam. Ia menjadi jaminan terterapkannya aturan Allah secara menyeluruh dalam kehidupan manusia dan juga jaminan persatuan umat dalam satu kepemimpinan.

Seiring runtuhnya khilafah, dunia berada dalam kekuasaan sekulerisme kapitalisme. Agama dijauhkan dari kehidupan, kepemilikan modal menjadi sumber kekuasaan. Umat dikerat-kerat dalam potongan-potongan kecil atas nama nasionalisme.

Sempitnya hidup di bawah naungan sekulerisme kapitalisme memicu gejolak di negeri-negeri muslim. Dunia terperangah saat serentetan negeri berpenduduk mayoritas muslim menyuarakan perlawanan. Arab spring mewabah ke berbagai wilayah. Krisis Yaman yang tak berkesudahan hingga saat ini adalah salah satunya. 

Rezim diktator berhasil ditumbangkan. Namun, Yaman kini masih terjebak dalam konflik tak berkesudahan. Situasi semakin tidak menentu disebabkan tersumbatnya kanal dialog untuk mencapai mufakat di antara faksi-faksi politik dan suku. Pasca ditetapkannya Abd-Robbu Mansour Hadi sebagai Presiden, yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Presiden, Yaman justru makin membara. Salah satu faktornya karena Arab Saudi dan Amerika Serikat terlalu dalam mendikte urusan dalam negeri Yaman.

Langkah fatal yang diambil Arab Saudi dan Amerika Serikat ini menyebabkan lahirnya perlawanan dari faksi Houthi yang selama ini menguasai wilayah bagian utara Yaman. Intervensi Arab Saudi dan Amerika Serikat dalam urusan Yaman menyebabkan hilangnya kembali harapan Houthi untuk melihat masa depan yang lebih baik. Houthi mencium gelagat buruk akan disingkirkan Arab Saudi, karena bermazhab Syiah Zaydiah yang secara ideologis kontra-Wahabisme Arab Saudi.

Houthi dan rezim Ali Abdullah Saleh saling bahu-membahu untuk melawan rezim yang dikendalikan oleh Arab Saudi. Padahal, Houthi dulunya menjadi oposisi rezim Ali Abdullah Saleh. Perebutan pengaruh di Yaman menyisakan korban rakyat sipil yang tak berdosa. Pergantian rezim yang diharapkan membawa perubahan, justru menjadi awal petaka yang lebih besar.

Keterlibatan Arab Saudi dan Amerika Serikat menunjukkan dominasi asing masih kuat menceng-keram Yaman. Sementara pemimpin negeri Islam lainnya bergeming, tak hendak mencampuri ‘urusan dalam negeri’ Yaman. Inilah buah dari nasionalisme. Sesama muslim kehilangan empati karena berbeda kewarganegaraan.

Zahra sadar ia tak memiliki kekuatan apapun untuk bisa mempengaruhi perpolitikan dunia. Namun, Zahra pun sadar ia memiliki peran yang tak kalah pentingnya. Ketiadaan institusi negara Islam yang mengayomi umat adalah sesuatu yang harus segera diakhiri. Umat harus diingatkan bahwa penerapan Islam harus diwujudkan secara kaffah dalam kehidupan.

Penerapan Islam kaffah hanya akan terwujud di bawah naungan khilafah Islam yang sesuai dengan manhaj kenabian. Inilah bisyarah Rasulullah yang belum terwujud. Dan dakwah adalah satu-satunya cara untuk mendorong umat agar mau mewujudkannya kembali.

Dakwah. Inilah hal yang luput dari perhatian Zahra akhir-akhir ini. Namun, Allah ingatkan ia dengan cara yang tak disangkanya. Zahra melafadz istighfar. Seberapapun kecil atau besar amanah, haruslah ditunaikan dengan optimal.

“Ya Allah, berikanlah kekuatan. Semoga hamba istiqamah di jalan perjuangan hingga nafas penghabisan,” Zahra merapal doa dalam hati. Ia pun bersiap menunaikan amanah sebagai ibu, istri dan pengemban dakwah dengan semangat dan energi baru.[MO/ge]

Posting Komentar