Oleh: Dwi Rahayuningsih, S.Si

Mediaoposisi.com-Ahad, 2 Desember 2018 menjadi hari bersejarah bagi umat Islam. Jutaan muslim setanah air berbondong-bondong menuju Jakarta untuk mengibarkan bendera Rasulullah yang bertuliskan kalimat tauhid “Laa ilaaha illallah Muhammadarrasulullah”. Sepanjang jalan menuju monas berkibar bendera tauhid. Jutaan manusia membawa bendera tauhid.

Bahkan pedagang asongan tak mau kalah, mereka juga turut menjajakan atribut tauhid berbagai bentuk. Jika sebelumnya bendera tauhid sangat ditakuti bak monster yang menakutkan, kini benera tauhid dicintai dan diagungkan dimana-mana. Semua umat mengenalnya. Dari anak-anak hingga dewasa dan orang tua. Dari gadis belia hingga emak-emak.

Semua berjuang untuk membela bendera tauhid yang sebelumnya dilecehkan oleh oknum dan diremehkan oleh penegak hukum dengan putusan hukum yang main-main. Bagaimana tidak jika hukuman bagi para penista dan pembakar bendera tauhid hanya 10 hari penjara dan denda Rp2000,-. Bahkan lebih besar uang saku anak TK dibanding hukuman bagi penista agama.

Sejak malam hari, monas sudah dipadati oleh para pejuang Islam dari luar kota. Hingga pagi hari peserta membludak. Lebih banyak dari perkiraan sebelumnya. Banyak peserta yang tidak bisa masuk ke Monas. Mereka terpaksa terhenti di ruas-ruas jalan. Jumlah peserta Aksi Bela Tauhid atau disebut Reuni Akbar 212 ini lebih banyak dibanding dua tahun yang lalu.

Jika tahun 2016, peserta yang hadir sekira 7 juta orang, untuk tahun ini diperkirakan sekira 10 juta jiwa, bahkan lebih. Iwan Piliang mendapatkan data jumlah peserta dari IMEI telepon genggam peserta Reuni Akbar 212 yang diperoleh dari MSC atau pusat operatornya masing-masing.

“Barusan saya diberi tahu bahwa MSC (pusat operator) mencatat jumlah HP/IMEI pada saat kejadian acara Reuni Akbar 212 berjumlah 13,4 juta, saya beritahu teman-teman jurnalis yang mau menggoreng, eh pada kaget dan nampaknya urung…,” ujar Piliang lewat pesan singkat. Dari data tersebut didapat informasi akurat jika jumlah peserta Reuni Akbar 212 kemaren sebanyak 13,4 juta bukan 10 juta. (Eramuslim.com, Senin, 3/12/2018)

Sungguh, hal ini menunjukkan betapa umat Islam sudah memahami arti penting persatuan dan kesatuan umat. Bersama dengan HTI, umat dari berbagai organisasi Islam berjuang bersama di bawah panji tauhid Al-Liwa dan Ar-Rayah. Tidak peduli lagi mereka berasal dari golongan mana, dari organisasi apa, asalakan Islam maka mereka memiliki tujuan yang sama.

Umat sekarang sudah cerdas, tidak lagi mudah terprovokasi dan termakan isu murahan yang hendak memecah belah umat. Mereka bersatu padu membangun persatuan dan melawan opini negative yang sengaja dibuat untuk menghadang laju dakwah Islam.

Orang-orang yang membenci Islam menganggap dengan memmbunuh HTI dengan mencabut Badan Hukumnya telah berhasil membungkam dakwah Islam. Namun mereka salah besar. Mereka hanya tidak tahu bila di belakang HTI ada umat yang siap berjuang bersama untuk membela kebenaran Islam. Karena kemuliaan dan keagungan Islam bukan hanya milik HTI. Penerapan syariat Islam bukan hanya keinginan dan cita-cita HTI, melainkan cita-cita bersama umat Islam seluruh dunia.

Jadi, salah besar jika dengan mencabut BHP HTI dakwah Islam akan padam. Justru semakin ditekan akan semakin membesar dakwah ini. Semakin diprovokasi umat akan semakin penasaran dengan perjuangan dakwah HTI.

“ Dan janganlah sekali-kali engkau menyangka orang-orang yang terbunuh (syahid) pada jalan Allah itu mati, (mereka tidak mati) behkan mereka adalah hidup (secara istimewa) di sisi Tuhan mereka dengan mendapat rezeki.” (QS. Ali-Imran: 169)

Begitupula dengan HTI yang disangka telah mati dengan dicabutnya BHP oleh Kemenkumham. Padahal mereka tetap hidup di sisi Allah dengan istimewa. Mereka tetap berjuang baik dengan atau tanpa adanya BHP itu. Dan Reuni Akbar 212 kali ini sebagai bukti nyata bahwa tujuan rezim untuk membungkam dakwah Islam telah gagal total.

Mereka telah berupaya dengan segenap tenaga untuk membuat opini negative terhadap dakwah Islam kaffah. Namun siapa sangka jika akhirnya HTI justru mendapat dukungan dari umat.

Bersama umat HTI telah mampu menggetarkan rezim. mereka selalu berkoar-koar bahwa HTI telah bubar. HTI telah mati. Mereka hanya tidak sadar dan tiidak mau menyadari bahwa keberadaan HTI sudah mengakar kuat di negeri ini. Bahkan umat sudah memahami perjuangan HTI, dan bersama-sama untuk melanjutkan perjuangan itu.

Menerapkan Syariat Islam di muka bumi ini. Bukan lagi hanya HTI, semua umat ISalm telah menuntut penerapan Syariat dalam bingkai Khilafah. Sungguh, membendung arus ini sama saja telah menghalangi air bah dengan tanggul tanah yang lemah. Jika sudah waktunya, maka air bah itu akan tumpah dan menenggelamkan segala apapun yang ada di sekitarnya. Begitupun dengan Islam.

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS. Al-Baqarah: 154)[MO/ge]

Posting Komentar