Oleh : Novi Indriani
(Margamukti Cimalaka)

 Mediaoposisi.com- tengah-tengah acara Peringatan Hari Santri Nasional, 22 Oktober lalu, sekelompok oknum dengan sengaja dan bahkan dengan bangga membakar bendera kebanggan seluruh kaum Muslim. Bendera Ar-Rayah. Bendera yang bertuliskan kaliamat: Laa ilaaha illallaah Muhammad rasulullaah. Itu tentu bukan sebuah keberanian, tapi penistaan terhadap simbol Islam.

Berdasarkan video yang beredar di dunia maya, para tokoh oknum tersebut telah mendoktrinasi bahwa bendera tauhid itu adalah bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Itu bukan bendera Islam. Tidak cukup itu, mereka berani menfitnah bahwa HTI menggunakan bendera Rasulullah itu sebagai kedok saja.

Padahal, juru bicara HTI M Ismail Yusanto mengemukakan, HTI tidak mempunyai bendera. Itu bisa dilihat di AD/ART HTI. Bahwa HTI selalu membawa bendera Rasulullah itu memang benar, karena HTI ingin menjadikan simbol Islam itu sebagai syiar di tengah umat sekaligus wasilah mengenalkan Al-Liwa' dan Ar-Rayah kepada umat Islam--sang pemilik sebenarnya panji tersebut.

Bahkan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) sendiri menyebut dan memastikan bendera dengan kalimat tauhid yang di bakar oleh oknum tersebut bukanlah bendera HTI.

Memang, banyak orang yang tidak tahu tentang bendera Islam. Ketidaktahuan itu bisa jadi karena dua sebab. Pertama, memang benar-benar tidak tahu karena tidak ada informasi yang sampai kepadanya. Kedua, sengaja ada penyesatan oleh orang-orang yang anti Islam terhadap bendera itu. Mungkin saja sebab yang kedualah yang menjangkiti kalangan oknum pembakar tersebut. Karena dengan ringannya mereka membakar bendera tauhid itu.

Tindakan tersebut tentu sulit diterima akal sehat. Pasalnya, semenjak masa Rasulullah saw., umat Islam sudah mempunyai bendera. Bendera itu adalah Al-Liwa' (bendera putih) dan Ar-Rayah (bendera hitam). Bendera yang bertuliskan kalimat: Laa ilaaha illallaah Muhammad rasuulullaah. Yang merupakan' alamah atau ciri keagungan Islam. Dan banyak hadis shahih yang menjelaskan seputar Al-Liwa' dan Ar-Rayah ini.

Bendera Rasulullah SAW., baik Al-Liwa' maupun Ar-Rayah bukanlah sembarang bendera yang berhenti sebagai simbol. Keduanya mengekspresikan makna-makna mendalam yang lahir dari ajaran Islam. Pertama, sebagai simbol kepemimpinan. Faktanya, Al-Liwa' dan Ar-Rayah itu selalu dibawa oleh komandan perang pada zaman Rasulullah saw. Selain itu, fungsi Al-Liwa' sebagai penanda posisi pemimpin pasukan. Pembawa bendera Al-Liwa' akan terus mengikuti posisi pemimpin pasukan.

Kedua, sebagai pembangkit keberanian dan pengorbanan dalam perang. Pasalnya, dalam perang, pasukan akan terbangkitkan keberaniannya dan pengorbanannya selama mereka melihat benderanya masih berkibar-kibar. Bendera sebagai pembangkit semangat dan keberanian itu tampak jelas dalam Perang Mu'tah. Ketiga, sebagai sarana untuk menggetarkan musuh dalam perang. Imam Ibnu Khaldun dalam kaitan ini menyatakan, "Banyaknya bendera-bendera itu, dengan berbagai warna dan ukurannya, maksudnya satu yaitu untuk menggetarkan musuh...".

Keempat, sebagai lambang 'Aqidah Islam. Pada Al-Liwa' dan Ar-Rayah yang bertuliskan kalimat Syahadat: Laa ilaaha illallaah Muhammad rasuulullaah. Kalimat inilah yang membedakan Islam dan kekufuran; kalimat yang menyelamatkan manusia di dunia dan di akhirat. Maka dari itu, sebagai simbol syahadat, panji tersebut akan dikibarkan oleh Rasulullah saw. kelak pada hari kiamat. Panji ini disebut Liwa' al-Hamdi.

Kelima, sebagai pemersatu umat Islam. Laa ilaaha illallaah Muhammad rasuulullah adalah kalimat yang mempersatukan umat Islam sebagai satu kesatuan tanpa melihat lagi keanekargaman bahasa, warna kulit, kebangsaan, ataupun mazhab dan paham yang ada di tengah umat Islam. Jika suatu kaum berhimpun di bawah satu bendera, artinya bendera itu menjadi tanda persamaan pendapat kaum tersebut dan juga tanda persatuan hati mereka. Dengan demikian kaum itu akan menjadi bagaikan satu tubuh (ka al-jasad al-waahid) dan akan terikat satu sama lain dalan satu ikatan yang bahkan jauh lebih kuat daripada ikatan antar saudara yang masih satu kerabat.

Karena itu tentu aneh sekali jika ada sekelompok orang menghinakan Liwa' dan Rayah Rasulullah saw. ini. Padahal mereka seorang Muslim tapi melecehkan Panji Tauhid, padahal kalimat tauhid itulah yang akan menyelamatkan dia di akhirat kelak dari siksa neraka.

Liwa' kaum Muslim selayaknya berwarna putih dan Rayah mereka berwarna hitam sebagai bentuk peneladanan kepada Rasulullah saw. Karena itu, sebagai umat Islam, kita harus mengagungkan dan menjunjung tinggi Liwa' dan Rayah Rasulullah saw., sebab keduanya merupakan syiar Islam yang malah harus menggantikan syiar-syiar jahiliah yang menceraiberaikan kaum Muslim dalam sekat-sekat 'ashabiyah. Lebih dari itu, kita seharusnya berjuang bersama untuk mengembalikan kemuliaan keduanya sebagai panji tauhid, identitas Islam dan kaum Muslim, sekaligus pemersatu.[MO/sr]

Posting Komentar