Oleh : Wida Aulia

Mediaoposisi.com-  Perhelatan akbar yang diselenggarakan oleh umat Islam dengan tajuk Reuni 212 atau Aksi Bela Tauhid telah dilaksanakan tanggal 2 Desember 2018 di Monas Jakarta. Aksi tersebut dihadiri oleh lebih dari 8 juta orang, membuat banyak peserta meluber ke luar Monas. “ Aksi 212 dicecar orang-orang justru lebih banyak yang datang. Aksi 212 dihina orang-orang justru tambah kecintaan dan kesolidan umat Islam. Ini kedatangan kita-kita tiada lain dalam rangka mencas mental kita, kesatuan kita, senantiasa kita komitmen bela agama dan negara siap berjuang”. Ungkap Ketua Umum FPI Ustadz Shabri Lubis ( www.msn.com) Aksi 212 laksana fenomena gunung es dimana jumlah umat yang tidak hadir jauh lebih banyak dibandingkan jumlah peserta yang hadir ke lokasi aksi. Aksi ini dilatarbelakangi oleh respon umat Islam terhadap terjadinya aksi pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid oleh sekelompok oknum ormas pada saat acara peringatan Hari Santri Nasional 22 Oktober yang lalu. Oknum tersebut menyatakan sengaja membakar bendera tersebut karna dianggap sebagai bendera sebuah ormas tertentu. Alih-alih percaya dan mendukung maupun memaafkan aksi pembakaran tersebut, umat Islam justru menuntut agar pelaku pembakaran diproses hukum karna telah dianggap melecehkan simbol Islam. Ternyata alasan oknum tersebut tidak diterima oleh umat yang telah meyakini bahwa bendera tersebut adalah bendera tauhid karna dalam bendera itu tidak terdapat nama ormas yang dimaksud melainkan bertuliskan “ Laa Ilaha Ilallaah Muhammad Rasulullah “. Kemudian pelaku diproses dengan lumayan cepat sehingga tak memunculkan aksi tuntutan. Namun hukuman yang diberikan oleh pengadilan 10 hari penjara dan denda 2000 rupiah tentu tidak memuaskan bagi umat Islam bahkan dianggap sebagai keputusan lucu karna dianggap terlalu ringan dan jauh dari harapan yang dituntut umat. Begitu lah negeri demokrasi sekuler memberi hukuman pada pelaku penista agama. Karna menista agama seolah dianggap bukan hal yang pantas untuk dipidana. Dari sini lah perasaan umat terusik, pemikiran umat berkecamuk membangkitkan ghirah keislaman untuk menunjukkan cinta dan membuktikan iman. Karna cinta dan iman tidak cukup disimpan dalam hati dan diucapkan dengan lisan melainkan harus dibuktikan dengan perbuatan. Cinta dan keimanan pada Allah dan RasulNya yang diucapkan dengan syahadat telah menjadi pendorong bagi umat untuk datang ke lokasi aksi bela tauhid meski mereka tinggal di pelosok negeri. Dari berbagai macam profesi dan kalangan bersatu padu demi mewujudkan satu visi yang sama yaitu meninggikan kalimat tauhid. Bahkan juga dari kalangan selebriti negeri ini, juga ada beberapa non muslim yang ikut menghadiri aksi 212 karna merasa nyaman dan percaya terhadap akhlak umat Islam yang santun dan damai. Dan terbukti bahwa aksi yang dihadiri jutaan orang ini berjalan damai dan tertib. Inilah potret akhlak Islam, gambaran ukhuwah Islam dan presentasi dari persatuan umat yang ternyata bisa terjadi. Lalu, masihkah pantas jika ada segolongan umat yang menganggap bahwa persatuan umat Islam dibawah kalimat tauhid adalah hal yang utopis? Aksi 212 telah memberi jawaban yang pasti, bahwa persatuan umat Islam dibawah kalimat tauhid adalah suatu keniscayaan yang harus dijemput dan diperjuangkan dengan optimis.Allah SWT berfirman: "Sungguh, Allah telah meridai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon, Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu Dia memberikan ketenangan atas mereka dan memberi balasan dengan kemenangan yang dekat,"(QS. Al-Fath 48: Ayat 18) Sebuah potret persatuan yang akan mendekatkan umat kepada penerapan aturan Allah secara menyeluruh dengan mencampakkan sistem sekuler demokrasi. Agar dapat menembus batas dan sekat negara-bangsa sehingga umat Islam diseluruh dunia dapat mewujudkan persatuan hakiki dibawah naungan panji Nabi.[MO/sr]

Posting Komentar