Oleh : Khadijah
Ibu dan seorang pengajar

Mediaoposisi.com-Alhamdulillah, hari Jumat (30/11/2018) sekitar pukul 21.00, kafilah kami sudah sampai di ibu kota, istirahat untuk shalat dan makan. Pukul 23.00, kami melanjutkan perjalanan ke tujuan yaitu monas untuk mengikuti aksi bela tauhid 212. Massa pun sudah ramai berdatangan, memenuhi area monas. Kami bersama rombongan memilih dibawah pohon, karena rombongan kami lintas usia dari balita sampai lansia. Kami pun beristirahat dengan beratapkan langit, dan beralaskan bumi.

Ketika shalat subuh berjamaah, seluruh jamaah terlarut dalam nikmat shalat berjamaah. Suara isakan pun terdengar dari imam ketika membacakan do’a qunut (terus terang aku baru mengalami doa qunut yg sangat panjang, sampai keluar keringat dingin karena pusing dan pegal). Semoga doa-doa kami mampu menggedor pintu ‘Arsy, dan Allah mengabulkan doa kami, aamiin. Setelah itu kami pun mendapatkan jamuan makan pagi dari para dermawan yang baik hati (semoga kebaikan kalian dibalas oleh Allah).

Acara inti pun dimulai. Lautan manusia dengan kibaran panji Al-liwa dan Ar-raya yang diselingi pekikan takbir dan shalawat membuat hatiku bertanya-tanya,  "Apa yang menggerakkan mereka untuk berkumpul disini"?. Padahal tidak ada yang membiayai mereka. Bahkan justru sebaliknya, untuk mengikuti aksi ini ada yang perlu menabung dulu, ada juga yang rela berjalan kaki dengan jarak ratusan kilo meter. Setiba disana mereka harus berdesakan dan harus sabar mengantri ketika ingin memenuhi hajat ke kamar mandi.

Tapi mengapa tidak ada raut penyesalan atau kecewa diwajah mereka? Yang nampak adalah wajah bahagia, semangat, walaupun isu-isu provokasi ramai terdengar, itu semua tidak menyudutkan tekad mereka. Hal ini terbukti dengan membludaknya peserta sampai menyentuh angka 13,4 juta. Itu semua dilandasi oleh dorongan keimanan dan kecintaan mereka terhadap islam dan panji islam yang beberapa waktu lalu dibakar oleh oknum Banser.

Umat pun sadar bahwa yang dibakar adalah panji Rasulullah bukan bendera ormas seperti yang dituduhkan para pembenci islam. Syukur Alhamdulillah, patut kita ucapkan ketika melihat umat begitu cinta dan bangganya memegang dan mengibarkan panji Rasullallah. Bahkan tak sedikit dari mereka yang mengabadikannya dengan jepretan kamera mereka.

Kami pun disuguhi dengan pemandangan berwarna warni nya panji Rasulullah, ada warna ungu, hijau, biru, dan orange. Didalam panji Rasulullah kita mengenal ada Al-liwa dan Ar-raya. Al-liwa berwarna putih yang bertuliskan lafadz  [لا اله الله محمد رسولالله], ditulis dengan tinta hitam yang biasa dibawa oleh amir brigade pasukan.

Dan Ar-Rayah berwarna hitam yang bertuliskan lafadz [لا اله الله محمد رسولالله], ditulis dengan tinta putih berada bersama para komandan bagian-bagian pasukan (sekuadron, datasemen). Hadits Nabi Muhammad SAW. yang diriwayatkan Imam At-Tirmidzi dan Imam Ibn Majah dari Ibn Abbas RA, bahwa "Rayah Rasulullah SAW. berwarna hitam dan Liwa beliau berwarna putih”.

Aksi 212 ini tidak hanya sebatas reuni saja, melainkan sebuah momentum yang menunjukan persatuan kaum muslimin. Panji Rasulullah telah kembali ke tangan umat, dan mengikat hati umat. Semoga dibawah panji ini pula kita dibangkitkan dan menjadi saksi bahwa kita adalah bagian dari umat Muhammad, aamiin.[MO/ge]

Posting Komentar