Oleh:  Eri
(Pemerhati Masyarakat)

Mediaoposisi.com-Dunia Internasional terlalu sibuk melakukan investigasi terhadap kematian Khashoggi dibandingkan pembunuhan massal atas rakyat Yaman, yang dilakukan oleh Saudi dan sekutunya. Begitu menyedihkan apa yang mereka lakukan, mereka seakan mengerdilkan perkara yang menimpa saudara-saudara muslim yang ada di belahan bumi Yaman. Mereka seakan-akan bisu, tuli dan buta atas penderitaan yang dialami oleh rakyat Yaman.

Berbicara melalui Twitter, UNICEF memperingatkan bahwa kurangnya akses ke air bersih dan layanan kesehatan kronis membuat anak-anak Yaman berisiko terserang kolera, penyakit menular (yang mematikan) dan bakteri. Menurut data PBB, ketika konflik memasuki tahun keempat, sekitar 14 juta orang di Yaman – kira-kira setengah dari total penduduk negara itu – beresiko kelaparan. Sekitar 85.000 anak-anak di bawah usia lima tahun mungkin telah meninggal karena kekurangan gizi akut selama tiga tahun terakhir yang di ungkap Save The children yang berbasis di Inggris. (seraamedia.org)

Selain itu gempuran mesin perang koalisi, blokade yang diterapkan Arab Saudi dan sekutunya terhadap Yaman memicu bencana kemanusiaan, lebih dari 70 persen warga Yaman butuh bantuan. Membuat organisasi internasional sulit untuk menyerahkan setiap bantuannya dan menempatkan lebih banyak warga sipil dalam bahaya. Dampak mengerikan dari perang Yaman menyebabkan krisis kemanusiaan terburuk di dunia. Dan menjadikan Yaman yang miskin tetap dalam perang sipil sejak 2014.

Hal ini terjadi disebabkan selama peperangan berlangsung pasukan koalisi yang dipimpin Saudi menghalangi masuknya bantuan dengan mengubah rute pengiriman sehingga memakan waktu lebih lama. Selain itu, Arab Saudi memberlakukan sanksi ekonomi dan blokade terhadap Yaman, yang berkontribusi pada krisis kemanusiaan yang semakin parah. Sehingga mempengaruhi harga bahan makanan pokok yang terus meningkat dua kali lipat. Cara-cara licik ini yang membuat persediaan bahan makanan sedikit dan tidak terjangkau, sehingga mereka dibuat kelaparan.

Untuk setiap anak yang terbunuh oleh bom dan peluru, puluhan anak yang mati kelaparan sepenuhnya dapat dicegah. Dengan sebuah institusi yang berlandaskan ideologi Islam yang menjalankan Islam sebagai aturan hidup dan solusinya. Yang dapat melindungi setiap nyawa warganya dari dampak peperangan. Dimana nyawa seorang muslim sangat luar biasa berharga.

Allah SWT berfirman:

مِنْ اَجْلِ ذٰلِكَ  ۛ  كَتَبْنَا عَلٰى بَنِيْۤ اِسْرَآءِيْلَ اَنَّهٗ مَنْ قَتَلَ نَفْسًۢا بِغَيْرِ نَفْسٍ اَوْ فَسَادٍ فِى الْاَرْضِ فَكَاَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيْعًا

"Oleh karena itu, Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa barang siapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia."
(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 32)

Kalaupun perang tidak dapat dielakkan, ada pesan-pesan yang harus diindahkan. Antara lain jangan membunuh orang tua, wanita, atau anak kecil, jangan melakukan mutilasi, kalau harus membunuh maka lakukanlah tanpa menyiksa (dengan) tebaslah lehernya karena itu cara yang tercepat untuk menghabisi nyawa seseorang. Di samping itu, jangan juga menebang pohon atau meruntuhkan bangunan atau membumihanguskan daerah.

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar r.a, ia berkata, “Aku mendapati seorang wanita yang terbunuh dalam sebuah peperangan bersama Rasulullah saw. Kemudian beliau melarang membunuh kaum wanita dan anak-anak dalam peperangan,” (HR Bukhari [3015] dan Muslim [1744]).

Apalagi latar belakang perang Yaman bukan sekedar peperangan antar kelompok sunni-syiah tapi tidak lain disebabkan kepentingan imperialis Barat (Amerika-Inggris) yang ingin menguasai di negeri-negeri Islam terutama Yaman yang mempunyai posisi sangat strategis. Warga sipil Yaman, terutama anak-anak, tidak menimbulkan ancaman apapun kepada AS.

Namun, dukungan AS untuk serangan udara, blokade dan kekacauan yang pasti disebabkan oleh perang berkepanjangan mengancam warga sipil Yaman, terutama anak-anak yang rentan. Mereka tidak melakukan kejahatan tetapi dihukum mati. Sudah saatnya umat Muslim beralih kepada sistem berdasarkan Islam dalam bingkai Khilafah yang mampu menjalankan syariah secara kaffah dan menjaga darah serta nyawa umat Muslim.[MO/sr]

Posting Komentar