Oleh : Ria Milarasari
Anggota Komunitas Penebar Siroh

Mediaoposisi.com-Penderitaan kaum muslim Uyghur di daerah Turkistan Timur (Xinjiang), setiap hari semakin berat. Kamp-kamp pendidikan dibangun besar-besaran untuk 'mengedukasi' warga muslim Uyghur dengan dalih agar mengenal ideologi negara yaitu Komunisme.

Kaum muslim Uyghur - yang merasa memiliki ideologi lain (Islam) - tentu saja menolak. Namun penolakan ini, akhirnya membawa mereka kepada tindakan penindasan bahkan pembunuhan. Tentu saja mereka berusaha membela diri terhadap setiap kedzaliman penguasa Komunis China. Karena Islam mengajarkan untuk mempertahankan aqidah. Dan ini adalah jihad yang sebenarnya.

Jika kita melihat lebih jauh, sebetulnya wilayah asli China tidaklah sebesar sekarang. Namun perebutan wilayah (aneksasi) oleh Kekaisaran/Pemerintah China terhadap beberapa wilayah, menjadikan China menjadi besar. Bahkan masuk kedalam negara 'The Big Five'. 

Wilayah-wilayah baru tersebut diantaranya Guandong Hongkong, Taiwan (berhasil merdeka), Mongolia, Tibet dan Xinjiang. Selain Xinjiang, mereka yang berhasil dikuasai China tidak melakukan perlawanan yang berarti karena memang tidak ada kewajiban membela diri dalam Aqidah dan Ideologi yang mereka anut. Namun tidak demikian bagi penduduk Xinjiang yaitu muslim etnis Uyghur.

Bagi penduduk Uyghur, China adalah penjajah, penindas dan musuh nyata yang tengah mereka hadapi. Maka wajar mereka selalu memberikan perlawanan terhadap setiap penindasan atau kedzaliman penguasa China. Tetapi sayang,  bagaimanapun perlawanan penduduk Uyghur, dapat dilumpuhkan dengan mudah oleh Negara karena kekuatan senjata dan tangan besi aparat keamanannya.

Solusi masalah Uyghur, jelas tidak bisa dikembalikan kepada pemerintah China. Berharap kepada PBB juga tidak mungkin. Karena China termasuk anggota Dewan Keamanan (DK) PBB, yang mempunyai hak istimewa (hak Veto). Dia bisa menganulir setiap keputusan PBB secara sepihak.

Lantas berharap kepada siapa lagi untuk menyelesaikan masalah Uyghur? Para pemimpin muslimkah? Padahal kita bisa lihat, sampai detik ini saja, Jokowi, Penguasa Negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia ini, seperti 'Macan Ompong' dihadapan China. Slogan 'Indonesia is the big country' yang kerap dilontarkannya di banyak kesempatan sama sekali tidak terbukti. Jangankan mengirim pasukan, sekedar mengecam dan mengutuk saja, tidak sanggup.

Padahal Allah SWT sendiri telah memberikan predikat 'Ummat Terbaik' kepada kaum muslimin. Namun karena meninggalkan perintah dan larangan-Nya di berbagai ranah kehidupan, menyebabkan umat ini tak punya harga diri (Izzah) dihadapan orang-orang kafir.

Kini saatnyalah kembali menyerukan persatuan Islam sejati. Kesatuan di bawah kepemimpinan yang satu pula, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Karena pada hakekatnya kaum muslimin bagaikan satu tubuh. Apabila ada bagian yang tersakiti maka semua bagian akan merasakan sakitnya. Kondisi satu tubuh belum ada pada saat ini. 

Itulah gambaran ketika umat tidak dipimpin oleh kepala negara yang menerapkan sistem Islam (Khalifah). Tidak ada yang memobilisasi seluruh komponen yang dimiliki umat untuk menjaga kemuliaan, harta dan jiwa kaum muslimin.[MO/AD]

Posting Komentar