Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Anda keliru jika hendak membaca preferensi publik atas berbagai isu yang berkembang ditengah masyarakat, dengan melihat trend media mainstream. Media mainstream, bahkan telah bermigrasi menjadi corong kekuasaan. Media mainstream mengabarkan keinginan rezim, pilihan politik rezim, aspirasi rezim, bukan umat.

Jika Anda ingin tahu preferensi umat atas isu tertentu, tengoklah sosial media. Sosmed dengan berbagai varian aplikasi, secara jujur mengabarkan aspirasi umat, kehendak umat, dan pilihan politik umat.

Anda yang berkecimpung didunia politik, jangan tertipu dengan kabar media mainstream tentang posisi Anda. Anda harus periksa kabar sosial media. Termasuk jika Anda ingin melakukan agitasi politik, jangan tertipu iklan media dengan biaya super mahal menggunakan media mainstream. Anda harus mulai bermigrasi ke sosial media.

Reuni 212 siang tadi menjadi buktinya. Sebelumnya, agitasi media mainstream selalu mengabarkan kecilnya peserta, ancaman penguasa, adu domba, pengerdilan arti reuni, bahkan hingga absen meliput kegiatan. Pada saat yang sama, agitasi sosial media justru melawan kesombongan media mainstream dan menamparnya dengan hadirnya massa aksi 8 hingga 10 juta peserta. Praktis, media utama agitasi reuni adalah sosmed.

Sosial media terbukti lebih efektif, selain aspirasi yang dikabarkan memang lebih merepresentasikan umat. Sementara media mainstream, adalah kepanjangan tangan rezim. Jika ada pengecualian, beberapa saja yang kontra dengan rezim.

Karena apa ? Sosial media itu jurnalisme bebas, setiap orang bisa menjadi wartawan dan memiliki sarana menyampaikan kabar, baik melalui wall sosmed mereka, via Facebook, tweteer, Instagram, YouTube, dan platform sosmed lainnya. Wartawan lepas yang tak digaji, tetapi bergerak karena dorongan akidah dan semangat pembelaan terhadap bendera tauhid.

Karena itu, jangan merasa besar karena kabar media maintream jangan pula merasa kecil karena tak dikabarkan media mainstream. Buatlah agitasi sendiri melalui sosial media, jadilah peliput, wartawan, dewan redaksi, sekaligus penerbit berita.

Agitasi sosial media terbukti mampu menghadirkan 8-10 juta peserta aksi, meskipun ditengah anomali media mainstream. Agitasi sosial media, terbukti lebih digdaya ketimbang ujaran media mainstream.

Lihat saja, setiap Nasrudin Joha menulis agitasi politik melalui sosial media, ribuan, ratusan ribu bahkan mungkin jutaan HP menerimanya secara daring, like n share, dari copas yang satu ke copas lainnya, bahkan dalam satu group sosmed tertentu berulang beberapa Kali. Kenapa ?

Setiap agitasi sosmed yang mewakili aspirasi pembacanya, akan membimbing pembacanya untuk ikut menyebarluaskannya. Dan agitasi sosmed itu terarsip, bisa disiar berulang kali, like n share berjuta kali.

Berbeda dengan siaran berita TV dan terbitan koran, sekali siar hilang, sekali terbit menjadi sampah berita. Tidak bisa di daur ulang, kecuali keduanya mengambil platform sosial media sebagai sarana cadangan.

Karena itu, jangan anggap remeh agitasi sosial media. Sosmed lebih digdaya ketimbang media mainstream, berbiaya lebih murah, dan terarsip secara rapih. Dengan sosmed, Anda bisa menyayat lawan politik secara berulang hingga benar-benar tersudut dan menyerah kalah. [MO/ge]

Posting Komentar