Oleh: Sitti Sarni, S.P 
(Founder Komunitas Pejuang Islam)

Mediaoposisi.com- Acara reuni 212 kemarin berjalan dengan damai dan tertib. Kedatangan umat ke monas kemarin pada tanggal 2/12 merupakan panggilan hati bukan karena dibayar oleh oknum-oknum tertentu sebagaimana nyinyiran sebagian orang di media sosial. Namun reuni 212 kali ini tanpa kehadiran imam besar habib rizieq shibab. Akan tetapi perputaran video imam besar ini tetap diputar seperti yang dilansir Islampos.

Saudaraku seiman dan seakidah, saudaraku sebangsa dan se-Tanah Air akhirnya di penutup Reuni Akbar Mujahid 212 atau reuni Akbar pejuang 212 ini, kami sampaikan kepada segenap umat Islam dan kepada seluruh rakyat Indonesia, dengan tulus dan ikhlas amanat perjuangan untuk perubahan "ungkapnya".

Di penutup acara ini kami ingin sampaikan amanat perjuangan untuk perubahan, sekali lagi kami ingin menyampaikan amanat perjuangan untuk perubahan, ini amanat perjuangan, bukan kampanye. Ini amanat perjuangan, bukan propaganda politik, ini amanat perjuangan bukan politisasi reuni.
Amanat perjuangan yang saya maksudkan adalah, perhatikan semua dengan baik, fokus serius, amanatnya adalah ayok di Pilpres dan Pileg 2019 kita wajib berjuang bersama untuk perubahan. Ayo, di Pilpres dan Pileg 2019 kita wajib berjuang bersama untuk perubahan "ungkapnya".

Tinggalkan Demokrasi
Umat membutuhkan perubahan. Akan tetapi perubahan yang bagaimana yang dibutuhkan umat ? Perubahan yang hanya ganti pemimpin, atau yang bagaiman ? Bila kita hanya menginginkan pergantian pemimpin, tetapi aturan yang dijalankan adalah aturan manusia hasilnya akan tetap sama. Sebab dalam sistem demokrasi yang berhak membuat aturan adalah manusia itu sendiri. Dengan slogannya dari rakyat-oleh-untuk dan kembali kerakyat.

Dari slogan tersebut kita bisa melihat bahwa semua keputusan ditangan rakyat. Pasalnya dalam demokrasi, kedaulatan itu ditangan rakyat dan kekuasaan ditangan penguasa. Berbeda dengan islam, kedaulatan ditangan syara dan kekuasaan di tangan rakyat. Sebab dalam islam yang berhak membuat aturan adalah Allah. Karena Allah swt bukan hanya sebagai pencipta tetapi sekaligus pengatur (Al Khaliq Al mudabbir).

Jadi benarlah, perubahan itu bukan hanya merubah pemimpinnya tetapi aturannya juga harus dirubah.  Hanya kita kembalikan pada sang pemilik aturanlah, perubahan itu akan terjadi. Yang bukan hanya pemimpin akan tetapi aturan yang di rubah agar menuju perubahan yang hakiki. Perubahan hakiki akan terjadi, bila hukum-hukum Allah swt diterapkan diseluruh aspek kehidupan. Maka dengan meninggalkan kapitalisme-sekulerisme demokrasi ini, perubahan yang hakiki akan terjadi.
Perubahan Hakiki, Dengan Khilafah

Berdasarkan realitas kehidupan sekarang dan di negeri-negeri Islam maka problematika utama (al-qadhiyatu al-mashiriyah) kaum Muslim saat ini adalah bagaimana mengembalikan penerapan seluruh hukum yang diturunkan Allah, yakni syariah Islam, melalui penegakan kembali Khilafah. hanya melalui hal itulah kaum Muslim dapat melakukan perubahan hakiki, yakni melepaskan diri dari jeratan ideologi Kapitalisme yang menyengsarakan, sekaligus mengembalikan masa kegemilangannya seperti pada saat mereka dulu di bawah naungan Khilafah Islamiyah.

Perubahan hakiki adalah transformasi yang mampu mengantarkan masyarakat menuju kebangkitan hakiki.  Sebuah perubahan tidaklah disebut perubahan hakiki, jika perubahan itu tidak menjadikan masyarakat berubah menuju keadaan yang lebih baik dibandingkan keadaan sebelumnya. Namun jika hanya sekedar mengalami transformasi menuju peradaban yang lebih tinggi, tidak serta merta perubahan tersebut disebut perubahan hakiki. 

Yang menentukan hakiki atau tidaknya sebuah perubahan adalah benar atau tidaknya peradaban yang ditegakkan.  Jika peradaban yang ditegakkan di tengah-tengah masyarakat, benar (shahih), maka masyarakat tersebut dikatakan telah mengalami perubahan hakiki.  Sebaliknya, jika peradabannya bathil, maka masyarakat tersebut tidak dikatakan mengalami kebangkitan hakiki. 

Adapun faktor yang menentukan benar tidaknya sebuah peradaban adalah ‘aqidah (pemikiran mendasar) yang menyangga peradaban tersebut.  Jika ‘aqidahnya benar dan lurus, maka peradaban tersebut dikatakan peradaban shahih.  Jika aqidahnya bathil, peradaban tersebut dikatakan peradaban bathil. perubahan sejati adalah transformasi menuju peradaban yang tegak di atas ideologi shahih yang memuaskan akal, sejalan dengan fithrah manusia, dan mampu menciptakan kemakmuran holistik.

Satu-satunya ideologi yang sesuai dengan fitrah manusia dan memuaskan akal hanyalah islam. Karena islam bukan hanya sebagai agama tetapi sebagai ideologi. Dengan demikian perubahan hakiki adalah transformasi menuju tegaknya peradaban Islam (al-hadlarah al-Islaamiyyah).

 Peradaban Islam hanya bisa diwujudkan dengan cara menerapkan Islam secara kaaffah dan menyebarkan risalah Islam ke seluruh penjuru dunia.  Penerapan Islam secara menyeluruh dan penyebaran risalah Islam ke seluruh penjuru dunia hanya bisa diselenggarakan melalui penegakkan kembali kekuasaan Islam yang digariskan baginda Nabi saw, yakni Khilafah Islamiyyah. 

Sedangkan penegakkan Khilafah tidak mungkin diwujudkan tanpa adanya dukungan umat.  Sebab , umat adalah pemilik sejati kekuasaan. Umat tidak akan mungkin memberikan dukungan, sebelum mereka menyadari kerusakan peradaban sekarang (kapitalisme), serta wajibnya menegakkan syariat Islam secara menyeluruh dalam koridor Khilafah Islamiyyah. 

Penyadaran dan pengorganisasian umat untuk penegakkan Khilafah Islamiyyah, tidak mungkin dilakukan seorang diri.  Di tengah-tengah umat harus ada gerakan Islam yang tidak pernah lelah mendidik, mengembalikan kesadaran, mengorganisir, dan memimpin mereka untuk mendirikan Khilafah Islamiyyah.  Gerakan inilah yang akan mengorganisir, memimpin, dan mengantarkan umat menuju perubahan hakiki. Waallahu A'lam [MO/sr]


Posting Komentar