Oleh : Megawati 
( Aliansi Perempuan dan Peradaban) 

Mediaoposisi.com-Reuni akbar Mujahid 212 sukses menyedot perhatian publik dalam negeri maupun luar negeri sebagian orang masih berspekulasi memperdebatkan jumlah peserta hari itu ada yang berucap ribuan dan ada juga yang jutaan, namun perlu diperhatikan perkara jumlah itu tidak terlalu penting yang jelas agenda umat yang sukses digelar itu menunjukan bahwa umat islam di Negara ini mempunyai kekuatan besar untuk bersatu.

Belum hilang spirit 212 kemarin hingga hari ini euforia perhelatan akbar itu masih terbayang-bayang bahkan tak jarang ada rindu ingin tuk mengulang,  maka perhelatan tersebut hendaknya menjadi memori yang sangat berharga yang harus didokumentasikan dan dikenang mengingat Reuni Mujahid 212 merupakan persatuan umat terbesar sepanjang Indonesia ini berdiri menurut penulis.

Namun alih-alih didokumentasi oleh media dan pers yang sejatinya menjadi media informasi bagi rakyat, malahan media dan pers seolah mati suri dalam mengabadikan moment bersejarah ini pasal nya sejak acara 212 digelar hanya beberapa media saja yang meliput bahkan bisa dibilang hanya hitungan jari pun pasca acara usai media juga sepertinya enggan menampakan bagaimana keadaan acara tersebut seolah-olah media khususnya pertelevisian sudah sebegitu alergi dengan agenda umat islam sehingga takut untuk menyinggung dan memuat informasi tentang 212 kemarin

Ini merupakan blunder besar bagi dunia pers,  sungguh memalukan kondisi dunia informasi Indonesia hari ini yang sangat diherankan didapati beberapa hari lalu media cetak jepang terang-terangan memuat euforia Reuni 212 yang berlangsung damai sedangkan Indonesia sendiri negara mayoritas islam merasa alergi untuk memuat berita yang sebenarnya membawa kemaslahatan bagi negara ini
bahkan jika difikir-fikir Jepang yang sejatinya mayoritas beragama non islam saja tidak merasa ketakutan dengan keberadaan persatuan umat islam maka sangat tidak wajar jika media pers Indonesia diam seribu bahasa dalam kondisi ini

Maka wajarlah jika hari ini Pers Indonesia mendapatkan rafor merah dalam pandangan publik, Pers bukan lagi menjadi suatu hal yang Independen bagi publik untuk memperoleh informasi malahan menjadi media yang bisa dikuasai individu untuk kepentingan tertentu
Ditambah lagi dengan segala bentuk kebohongan-kebohongan publik yang dicitrakan oleh media dan jurnalistik akhir-akhir ini semakin memupus harapan kredibilitas pers bisa naik dimata publik

Dalam sistem islam yaitu Khilafah Penguasa dan Publik harus transparan dalam memberi informasi pada rakyatnya guna menunjang kebangkitan bagi negara sendiri maka setiap warga negara diberikan hak untuk mengkritik atau memuhasabahi penguasa bukan malah seperti hari ini yang terjadi pada sistem demokrasi ketika rakyat mengkritik pemerintah malah dipolisikan.

 jadilah pemerintah yang anti kritik padahal tujuan kritik untuk memajukan seseorang kemudian Pers itu harusnya menjadi alat penyampai informasi bagi pemerintah yang independent bagi publik mengabarkan keadaan sebenarnya tanpa ada rekayasa yang menguntungkan golongan sehingga menjadi corong bagi publik untuk mengetahui keadaan yang terjadi baik itu dalam kepemerintahan maupun kehidupan publik secara fakta.[MO/ge]

Posting Komentar