Oleh: Arin RM, S.Si
(Freelance Author, Taman Surga Community)
Mediaoposisi.com-Lautan manusia memenuhi kawasan tugu Monumen Nasional (Monas) pada acara reuni 212 tahun 2018 ini. Bukan hanya muslim, beberapa jejak digital di media sosial menunjukkan foto nonmuslim dan turis mancanegara berada di kerumunan masa, menikmati kedamaian kegiatan superdamai yang dihadiri jutaan peserta ini. 

Ya, jumlah peserta aksi memang sangat banyak. Bahkan, dilansir TribunWow.com dari Warta Kota Live, Senin (3/12/2018), Ketua Panitia Reuni Akbar Mujahid 212, Ustaz Bernard Abdul Jabbar menuturkan jumlah peserta reuni 212 yang ikut berpartisipasi. 

Menurutnya, berdasarkan informasi dari media, peserta aksi 212 mencapai 8 hingga 10 juta jiwa (tribunnews.com, 03/12/2018). Jumlah tersebut hanyalah perkiraan saja, sangat mungkin jika kesaksian visual di lapangan menlihat jumlah peserta yang jauh lebih banyak. 

Terlebih lagi, didapatkan data bahwa reuni 212 tahun ini menyebabkan volume pengguna KRL meningkat hingga 15 kali lipat (news.detik.com, 02/12/2018). Besaran angka tersebut didapatkan dari jumlah pengguna yang naik-turun di Stasiun Juanda sampai pukul 10.00 WIB tercatat 40.170 penumpang atau naik sekitar 9 kali lipat dari jumlah biasanya, yaitu 4.718 penumpang (Keterangan dari VP Komunikasi Perusahaan PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) Eva Chairunisa). 

Sedangkan untuk Stasiun Gondangdia tercatat 47.559 penumpang atau meningkat 15 kali lipat dari jumlah biasanya, yaitu 3.229 penumpang. Sedangkan moda transportasi lain belum terekam data pastinya. Bertambahnya peserta yang ikut dalam aksi super damai dan super besar ini menunjukkan bahwa daya juang umat Islam terhadap agamanya sangatlah besar. 

Betapa tidak, setelah ramai beredar tuduhan bahwa mereka yang hadir disana adalah masa bayaran, kaum muslimin tetap memaksimalkan upayanya untuk sampai ke titik utama kegiatan. Bahkan kendati kabar penggembosan berseliweran di sosial media. Semuanya dijawab dengan keberangkatan, baik dengan jalan kaki, kendaraan pribadi, atau naik pesawat terbang. 

Semua menunjukkan antusiasnya untuk bisa sampai lokasi dengan satu niat bela tauhid. Dan tentu saja jumlah masa ini secara otomatis mementahkan wacana dari Ketua Forum Alumni 212, Kapitra Ampera mengaku mendapatkan informasi massa Reuni 212 dimobilisasi partai politik dengan dibayar Rp100 ribu (wartaekonomi.co.ci, 01/12/2018). 

Apalagi menurut pantauan Panjimas.com, sejak Sabtu (1/12/2018) sore menjelang malam, peserta alumni 212, selain ada yang bermalam di masjid-masjid yang tersebar di kawasan Monas dan sekitarnya, juga ada yang menginap di hotel-hotel. Di antara mereka, ada yang sudah boking jauh-jauh hari melalui online, ada pula yang langsung datang mencari penginapan. 

Sebut saja Hotel Ana dan Hotel Picasso yang terletak di Jalan Kebon Kacang, Jakarta Pusat, atau tepatnya di sekitar Bundaran HI, sejak Sabtu sore telah penuh. Mulai dari kelas Standard, Superior, hingga Executif. Begitu juga Hotel Sofyan Betawi yang terletak di depan Masjid Cut Meutiah, Menteng, Jakarta, yang penuh terisi oleh sebagian besar peserta Alumni 212. 

Sekali lagi, upaya penggembosan, tuduhan bayaran alias iming-iming uang sama sekali tidak mengurangi semangat peserta. Seluruh peserta yang sejatinya beragam suku dan beragam mazhab semuanya bersatu padu dibawah kibaran 1.000.000 bendera tauhid. 

Semuanya larut dalam persatuan meninggikan kalimat tauhid sebagai reaksi atas penistaan bendera tauhid sebelumnya. Inilah sinyal bahwa umat telah lelah berpisah, umat bosan dipecah belah dan diadu domba sesamanya. 

Umat telah menemukan nikmatnya persatuan dalam aqidah sehingga semangat juang mereka bisa membawa setiap jiwa dari pelosok tanah air menuju jantung ibukota, betapapun kesulitan yang mereka hadapi. Lebih dari itu, berkumpulnya umat di monas bukan dalam rangka pemenangan paslon capres cawapres. 

Mereka tergerak karena dorongan iman, dorongan aqidah yang tidak rela atas putusan penjara 10 hari dan denda 2 ribu rupiah bagi pembakar bendera tauhid. Itulah wujud aspirasi mereka, pemilik dan pewaris panji Rasulullah yang sesungguhnya. Kezhaliman kepada keyakinan umat dengan putusan pengadilan yang demikian telah mengkristalkan keyakinan yang bulat di benak umat bahwa tak ada lagi yang mampu menghalangi persatuan umat ketika Allah sudah membersamai. 

Terlebih Allah jelas-jelas tidak akan mengabaikan ikhtiar yang telah dipotimalkan, doa yang terus dipanjatkan, dan azzam yang telah mengkristal untuk membela Islam. Oleh karenanya, benih bara persatuan yang sudah ada di dada umat dengan adanya 212 ini harus terus dijaga. Terus disirami dengan pemahaman Islam kaffah yang kontinyu. 

Agar daya juang yang sudah ada terus menguat menjadi kerinduan bersatu tak hanya setahun sekali. Agar kerinduan ini menjalar pada kemauan kuat bersatu dibawah naungan satu kepimpinan, yang tidak hanya marah ketika kalimat tauhid dinistakan. 

Tetapi umat yang berkomitmen hidup setiap hari dengan aturan yang bersumber dari Alquran dan Alhadits, umat yang berkemauan kuat mengupayakan diterapkannya hukum tauhid. Dan pada saat itulah umat Islam yang mulai terbangun ini akan benar-benar tegak menerapkan syariah Islam. 

Lalu menggilas tuntas sistem jahiliyah beserta turunannya hingga bersih tak bersisa. Lalu tampil kembali menjadi super power di kancah peradaban dunia hanya dengan identitas Islam dan penerapan syariahnya. 
Dan pada saat itu akan terbukti kembali bahwa partisipasi 212 adalah murni karena daya juang yang membara. Daya juang yang terbangun kuat seiring bangkitnya pemikiran Islam, bukan daya juang karena uang sebagaimana yang dituduhkan. [MO/ge]
 

Posting Komentar