Oleh: Ana Nazahah

Mediaoposisi.com- Tak dinyana, gerakan 212 di Monas dengan aksi daulat 812 memiliki spirit gerak yang sama. Yaitu bergerak atas semangat persatuan, untuk membela Islam dan kaum Muslimin. 

Benar, Aksi Daulat 812 di Kuala Lumpur Malaysia itu, berangkat dari penolakan ratifikasi Konvensi Internasional, Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial (ICERD). Atau dengan kata lain, rakyat Malaysia menolak campur tangan asing dalam merombak kebijakan yang telah ada. Sekaligus menuntut hak-hak bangsa Melayu sebagai suku asli Malaysia agar terus dijaga.

Terkesan ashobiyah (Konflik kesukuan) bukan? Tapi jika kita melihat dengan lebih teliti lagi, maka kita akan menemukan bahwa perjuangan ini sebenarnya wajib diatensi dan diapresiasi. Seperti 212 di monas, gerakan 812 sarat dengan isu krusial berkaitan dengan Islam dan kaum Muslimin yang tengah mempertahankan eksistensi agamanya dari berbagai ancaman yang merusak Islam itu sendiri.

Aksi 212 berawal dari massa, yang menuntut mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok untuk bertanggung jawab terhadap pernyataannya yang dianggap menghina agama Islam. Kemudian berlanjut dengan aksi-aksi berikutnya yang berjilid, termasuk reuni. Dari aksi bela ulama hingga aksi bela tauhid.

Tak jauh beda, Aksi Daulat 812, dengan peserta mencapai ratusan ribu orang itu, juga dalam rangka membela Islam dan kaum Muslimin. Menolak tegas kebijakan ICERD yang sarat liberalisasi, sekulerisasi dan kapitalisasi yang mengancam bangsa Melayu, masyarakat pribumi sebagai suku asli pendiri Malaysia.

Hal ini tentunya sangat merugikan kaum Muslim di Malaysia, karena jika konvensi PBB ini disahkan maka hal itu akan mengancam eksistensi bangsa Melayu (baca: Islam) berikut dengan budayanya yang mereka junjung tinggi.

Karena kebijakan ini orientasinya adalah menghapus diskriminasi antar suku dan agama/ keyakinan, budaya Melayu yang identik dengan Islam akan disusupi oleh budaya baru yang seporsi dengan budaya Melayu dan harus di hargai, karena adanya jaminan penuh dari pemerintah jika ICERD disahkan. Maka tak menutup kemungkinan budaya gay, lesbi, dan pergaulan bebas lainnya akan merajalela, karena status sosial dan keyakinan mereka akan dilindungi.

Selain itu, bahaya ICERD adalah semakin bercokolnya liberalisasi dan kapitalisme di bidang ekonomi, karena saat kebijakan ini diterapkan, maka warga asing akan mendapatkan hak kepemilikan yang sama sebagaimana pribumi. Statement ini tentunya bukan berarti Melayu anticina, antiIndia. Seperti halnya yang disampaikan oleh Wakil Presiden Partai Islam Malaysia (PAS) Datuk Tuan Ibrahim Tuan Man, dalam orasinya “Negara-negara asing tidak perlu campur tangan dalam mengatur Malaysia,” ucapnya.

Masyarakat Malaysia sadar, ratifikasi ICERD hanya jalan memuluskan kebijakan asing. Sehingga rakyat Malaysia melakukan berbagai upaya penolakan. Kesadaran ini telah mendorong rakyat melakukan aksi protes, salah satunya yang menjadi cikal bakal lahirnya aksi daulat 812 ini.

Tidak jauh beda, 212 di Indonesia, maupun 812 di Malaysia, aksi damai yang dilakulan oleh Muslim tersebut bermula dari kesadaran Muslim dalam berpolitik, umat kian sadar akan keterkaitan Islam dan politik. Seiring telah terbuktinya paham sekukerisme yang bobrok yang gagal mengatur berbagai masalah negeri. Kesadaran ini berkembang melahirkan persatuan dan aksi. Aksi damai untuk Islam dan Kaum Muslimin.

Tentunya dengan berkembangnya dakwah Islam di tengah masyarakat, tidak menutup kemungkinan, suatu hari akan ada aksi serupa, namun dalam rangka menuntut syariah di terapkan dalam seluruh lini.[MO/sr]







Posting Komentar