Oleh : Bara Kinanti

Mediaoposisi.com-Kondisi perekonomian Indonesia hari ini semakin mencemaskan, bagaimana tidak setelah meluncur jatuhnya nilai tukar rupiah dengan mata uang dollar membuat aparatur pemerintah kembali membuat kebijakan yang patut dipertanyakan.

Kekayaan alam Indonesia ini yang melimpah ruah entah kenapa tidak mampu mencukupi kebutuhan primer rakyat yang hidup di dalamnya.

Negara ini diibaratkan sarang lebah yang madunya melimpah harum, tapi yang panen madu buka para lebah pekerja melainkan beruang madu. Makin terpuruklah nasib lebah pekerja layaknya kondisi rakyat Indonesia saat ini.

Berita pembangunan negeri dan penurunan angka kemiskinan yang berdasakan Menteri Keuangan Sri Mulyani menjadi yang pertamakali dalam sejarah Indonesia berada di bawah angka 10%.

Namun, yang membuat rakyat tercengang adalah ujaran beliau Menkeu Sri Mulyani adalah penarikan pajak dari mahasiswa.

Kebijakan penarikan pajakan akan dilakukan dengan menggandeng Kementrian Riset Teknolgi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir (katada.co.id 9/11) yang meminta para rektor mengurus para wisudawan yang mencapai 1,8 juta orang pertahun agar memiliki NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak).

Harapannya agar wisudawan iini menjadi wajib pajak yang patuh. Apa bedanya dengan Budak, ya Budak Pajak yang dengan dalih membayar utang negara namun fakta di lapangan utang negara tak pernah digunakan memakmurkan rakyat. ini adalah bukti Rezim Jokowi telah mebuat Hoax saat kampanye dulu berjanji memakmurkan rakyat, tapi Rakyat China saja.

Bentuk langkah mempersiapkan dari penarikan pajak ke para wisudawan adalah masuknya materi sadar pajak kedalam materi pembelajaran bukan hanya di perguruan tinggi tapi juga sekolah dasar, menengah dan tinggi yang sederajat.

Langkah ini sudah disetujui melalui perjanjian kerjasama Eselon I di kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (kompas, 11/08).

Pertanyaan yang muncul dari pernyataan diatas adalah jika angka kemiskinan sudah menurun masih perlukah adanya penarikan pajak bahkan sampai menarik pajak ke kalangan mahasiswa? Menarik pajak dari mahasiswa yang baru lulus, golongan newbie atau anak bawang. Nampaknya pemerintah harus mengkaji lagi rencana ini dengan lebih matang.

Penarikan pajak kepada rakyat bukanlah hal yang bisa bebas dilakukan pemerintah dengan landasan undang-undang. Sebab, pajak seharunya bukan sumber utama pemasukan negara. Negara yang seharusya menghidupi rakyat, bukan sebaliknya rakyat menghidupi negara dengan pajak.

Berdasarkan fakta historis dalam negara yang menerapkan sistem Islam secara kaffah, pajak ditarik saat negara dalam kondisi pailit dan ditarik dari orang-orang kaya.  Negara tidak menarik pajak dari seluruh rakyat, sebab negara menarik pajak juga untuk mengurusi kebutuhan rakyat bukan sebaliknya.

Sistem Islam mengatur agar urusan rakyat dapat terpenuhi sehingga rakyat dapat menjalankan kewajibannya sebagai hamba dari Allah SWT. sebagai Kholiq yang menciptakan manusia. Inilah sistem yang mampu menjamin kesejahteraan manusia bukan dengan orientasi dunia tapi akhirat, jadi tunggu apalagi untuk kembali menerapkannya? Maka bersegeralah kita mempersiap diri dan orang-orang disekitar. [MO/ge]

Posting Komentar