Oleh : Ilma Kurnia P 
(Pemerhati Generasi, Aktivis Revowriter)

Mediaoposisi.com- Berita mengejutkan datang dari daerah Samosir, Sumatra Utara dikabarkan terdapat 3 anak SD terkena HIV dilarang bersekolah. Hal ini dikarenakan orang tua wali murit protes dan tidak setuju jika anaka yang terkena virus HIV/AIDS ini masuk sekolah dan bergabung bersama anak-anak mereka yang sehat.

Dilansir dari BBC News Indonesia (23/10/2018) menyebutkan bahwa ketiga anak tersebut diminta keluar dari sekolah agar statusnya tidak terbongkar. Berdasarkan penghimpunan data dari Kementrian Kesehatan pengidap HIV/AIDS di Sumut menempati posisi 7 di Indonesia yang terbanyak.

Berdasarkan data yang sudah dipublikasikan angka prevelensi HIV/AIDS di Sumut mencapai 28,97 per 100.000 penduduk. Artinya pada setiap 100.000 penduduk di Sumut terdapat sekitar 29 orang yang mengidap HIV/AIDS sehingga semua pihak harus aktif dan peduli menanggulanginya (Tribun-Medan.com, 26/4/2018).

Banyaknya kasus HIV/AIDS di Sumut ii menjadikan PT.Pertamina (Persero) ikut andil berpartisipasi untuk menanggulanginya kepada masyarakat dengan melalui pelatihan pencegahan HIV/AIDS. Sementara pada data dari Dinkes menyebutkan kasus HIV/AIDS di Medan mencapai sebanyak 5.952 per November 2017.

Penyakit HIV atau disebut Human Immunodeficiency Virus merupakan virus yang menyerang kekebalan tubuh seseorang untuk melawan infeksi dan kanker. Seseorang yang mengidap virus ini baru dikategorikan terkena AIDS jika jumlah sel-sel kekebalan tubuhnya dalam darah kurang dari 200.

Penyakit ini adalah salah satu penyakit mematikan di dunia, terutama di negara yang berpendapatan rendah dan menengah. Tak kalah mengejutkan data di HIV.gov menunjukkan bahwa hingga tahun 2016 ada sekitar 36,7 juta orang di dunia yang mengidap HIV/AIDS, dimana 2,1 juta diantaranya adalah anak-anak.
Apa Penyebab HIV/AIDS

Penyakit HIV/AIDS ini merupakan penyakit yang dapat menular dan merugikan orang lain. HIV dapat menular melalui hubungan intim dengan orang yang terinfeksi virus, atau sering gonta ganti pasangan, transfusi darah dan penggunaan jarum suntik yang terkontaminasi HIV, serta dari ibu hamil yang terinfeksi HIV ke bayi disaat hamil, melahirkan dan menyusui. Namun ada beberapa hal dimana virus HIV tidak akan menular melalui sentuhan, air mata, keringan atau ludah. Juga ketika menghirup udara yang sama dengan penderita atau dengan gigitan serangga (VOA Indonesia/Tribun-Medan.com).

Virus HIV/AIIDS ini akan terus meningkat jika pelaku atau penyebar virus ini melakukan aktifitas penyimpangan yag dapat mengakibatkan terkenanya virus HIV. Seperti maraknya penyimpangan Lesbi, Gay, Biseksual, dan Transgender yang justru sangan menyumbang besar peredaran virus HIV/AIDS ini.

Terbukti dalam kurun waktu 10 tahun terahir ini prevalensi di kalangan laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki meningkat sampai 500%, yang artinya semakin banyak laki-laki yang terkena HIV. Hal ini juga bisa berdapkan bagi anak-anak yang merupakan keturunan mereka karena HIV/AIDS akan menular melalui hubungan badan suami istri, tentunya ini sangat membahayakan generasi penerus yakni anak menjadi tertular virus HIV karena terpapar dari penularan orang tuanya.

Sungguh ironi, dimana usia anak-anak harus menanggung beban berat terjangkit virus mematikan yang notabene berasal dari lingkungan disekelilingnya.

Solusi Pemecahan Islam
Permasalahan HIV/AIDS ini sebenarnya bukan sekedar masalah kesehatan akan tetapi juga masalah perilaku. Sebab terbukti dari penyebab terbesar penularan HIV/AIDS adalah perilaku seks bebas, yaitu zina dan homoseksual. Padahal didalam islam amatlah jelas bahwa setiap umat muslim dilarangan untuk melakukan perbuatan zina dikarenakan itu termasuk perbuatan keji. Jadi jelas jika sesuatu yang keji dilakukan pastinya hanya akan menimbulkan kemudhorotan baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain.

Islam memandang HIV/AIDS merupakan penyakit yang berbahaya (dharar) lantaran menyebabkan lumpuhnya sistem kekebalan tubuh yang berujung kematian. Dan dalam islam melarang terjadinya bahaya (dharar) pada umat manusia. Rasulullah SAW bersabda :
Tidak boleh menimpakan bahaya pada diri sendiri dan juga bahaya bagi orang lain dalam islam” {HR. Ibnu Majah no 2340}.

Islam juga memandang bahwa HIV/AIDS  sebagai masalah perilaku karena terjadi kasusnya berawal dari tersebarnya melalui perilaku seks bebas yang menyimpang.

Semua perilaku ini adalah perbuatan keji dan tercela dalam pandangan islam. Solusi islam sangatlah jelas memberikan hukuman bagi pelaku yang melakukan tindakan perzinaan dan penyimpangan seksual, hal ini berbeda dengan solusi liberalisme yang memandang bahwa HIV/AIDS sebagai masalah kesehatan saja bukan masalah perilaku, maka solusinya hanya dengan masalah kesehatan saja misal seperti kondomisasi, pembagian jarum suntik steril, kampanye bahaya AIDS, dan parahnya perilaku penyimpangan seksual dianggap tidak masalah.

Hal ini dapat mengakibatkan semakin bertambahnya deretan korban virus HIV/AIDS dikarenakan virus liberalisme yang yang merajalela sedangkan negara tidak memberikan penjagaan yang erat terhadap penyebaran virus ini, justru mendukung dengan berbagai fasilitas yang disediakan.

Untuk itu hanya dengan islam lah yang mampu memberikan solusi terbaik untuk perlindungan dari terjangkitnya HIV/AIDS terlebih terhadap anak-anak generasi menerus bangsa agar tidak tercemari dan terkontaminasi oleh virus HIV/AIDS yang sekarang sudah mewabah pada anak-anak.

Hanya dengan islamlah kita bisa terjaga dan terleindungi karena dengan menerapkan sistem islam secara menyeluruh akan memberikan rahmat dan berkah dari Allah SWT kepada kita semuanya.[MO/sr]

Posting Komentar