Oleh: Marita Handayani


Mediaoposisi.com-Betapa mencengangkan jiwa ini ketika mendengar seorang ulama yang disegani seperti KH. Ma'ruf Amin, yang notabene beliau adalah seorang Ulama yang menjabat sebagai ketua MUI dan sekarang melebarkan sayapnya di kancah perpolitikan dengan menjadi pendamping Jokowi menjadi wakil presiden di pilpres 2019 nanti.

Beliau mengatakan "Dana nonhalal wajib digunakan dan disalurkan untuk kemaslahatan umat dan kepentingan umum yang tidak bertentangan dengan prinsip syariat," melalui Ketua Komisi Fatwa MUI Hasanuddin saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (8/11).

Hal itu diputuskan dalam rapat pleno Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI di Ancol, Jakarta, pada Kamis (8/11) yang dipimpin Ketua MUI yang juga menjadi cawapres nomor urut 01, Ma'ruf Amin. Dana non halal? Ngeri rasanya mendengar kata non halal (haram) yang artinya ketika dikerjakan mendapat dosa dan jika ditinggalkan mendapat pahala. Tapi dengan alasan untuk kemaslahatan umat itu boleh saja kata beliau.

Haram tidak akan bisa menjadi halal. Itu hukum Islam yang sudah pasti. Walaupun banyak alasan yang dipakai tetap saja hukum Haram ya Haram, dan itu dosa. Menelaah perkataan beliau diatas bahwa dana non halal boleh digunakan untuk umat, hal tersebut sudah sangat melenceng dari kaidah berfikir Islam. Bagaimana tidak? Carut marutnya perekonomian di Indonesia itu karena pengelolaan sumber daya yang harusnya dirasakan oleh umat, kini sudah dimiliki oleh pihak Asing dan Aseng bukan di kelola oleh negara, sehingga negara menghalalkan segala cara dengan alasan kemaslahatan umat.

Mungkin bisa dirasakan oleh semua, bagaimana jika kita melakukan hal-hal yang diharamkan oleh Allah? Tentu Allah akan marah dan murka. Mengundang malapetaka dan azab. Seharusnya peran ulama adalah mengedukasi umat agar terhindar dari hal-hal tersebut,bukam malah difasilitasi. Peran ulama adalah memperkokoh keimanan dan aqidah umat agar senantiasa menjadi umat yang gemilang, menjadikan umat bersatu dengan pemikiran dan perbuatan yang sesuai dengan syari'at.

Maka dari itu, sudah seharusnya kita menjadi umat yang cerdas, mengikis dan meninggalkan sistem kapitalisme ini dengan merubah sistem sesuai Al Qur'an dan As-Sunnah. Dengan sistem Islam yang kaffahlah, umat bukan hanya diedukasi secara lahir dan batin, tetapi juga secara pemikiran yang menyuluruh, sehingga iman-iman umat akan senantiasa terjaga. Umat akan mengerjakan sesuatu yang wajib, sunnah dan meninggalkan yang haram tanpa alasan apapun karena keimanan pada Allah SWT.[MO/an]

Posting Komentar