Oleh : Yuni Sulistiawati
Mahasiswi STEI Hamfara Yogyakarta

Mediaoposisi.com-Belum lama ini Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa mengenai aturan terkait Perbankan Syariah. Fatwa MUI ini memperbolehkan bank syariah memakai dana non halalnya untuk kemaslahatan umat.

Hal itu diputuskan dalam rapat pleno Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI di Ancol, Jakarta, pada Kamis (8/11) yang dipimpin Ketua MUI yang menjadi salah satu Ulama Besar di Indonesia yaitu  Ma'ruf Amin. Hal itu pun sudah diberlakukan semenjak dikeluarkannya fatwa tersebut.

Dalam fatwa  ini dikatakan bahwa penyaluran dana non halal itu boleh digunakan untuk penanggu-langan korban bencana, penunjang pendidikan seperti masjid dan musala, juga fasilitas umum yang memiliki dampak sosial.

Tentunya fatwa ini mengundang tanya. Karena fatwa yang dikeluarkan oleh ulama ini akan sangat bertolak belakang dengan label Syariah pada setiap perbankan syariah itu sendiri, walaupun penghalalan dana non halal itu digunakan untuk kepentingan masyarakat.

Faktanya dapat kita lihat bersama, saat ini sangatlah terlihat jelas bagaimana pengaruh ulama dalam melegitimasi kebijakan yang ada, khususnya kebijakan yang bertentangan dengan syariat  Islam.

Yang dari kebijakan itu dapat mengaburkan pandangan umat Islam tentang syariat Islam yang sebenarnya. Menghalalkan yang diharamkan dalam Islam dan sebaliknya, mengharamkan yang halal dalam Islam.

Melabialisasi segala sesuatu dengan Islam, padahal itu tidak sesuai dengan Islam.   Tidak segan – segannya membuat kebijakan untuk mewujudnya kepentingan-kepentingan  mereka yang sedang berkuasa walaupun itu bertolak belakang dengan ajaran Islam. 

Alhasil umat Islam sebagai mayoritas di negeri ini dibutakan dengan segudang aturan yang rancu itu sehingga tidak terlihat lagi antara kebenaran dan kebatilan. Dan pada akhirnya umat Islam dengan mudah jatuh pada lubang kemaksiatan.

Sesungguhnya itu semua adalah hasil dari penerapan Sistem Sekuler Kapitalis di negeri ini. Yang menuntut siapa pun yang berada dalam sistem ini untuk tidak mencampur adukkan antara agama dan kehidupan.

Sistem yang menghalalkan segala cara untuk meraup pundi-pundi kekayaan sebanyak-banyaknya. Sistem rusak ini mampu menggadaikan loyalitas umat terhadap syariat Islam, termasuk para Ulama yang telah dirasuki pemikirannya oleh sistem ini.

Ulama yang seharusnya menjadi penjelas antara hitam dan putih, malah mencampurkan adukan keduanya sehingga menjadi buram dan tidak jelas antara hitam dan putih.

Ulama haruslah menjadi penuntun umat untuk mengamalkan seluruh aturan dari Sang Khaliq. Yakni aturan yang sesuai dengan Al-Qur'an dan  Sunah sebagai solusi atas segala problem kehidupan umat, bukan malah membelokkan umat dari Syariah Islam.

Oleh karena itu kita membutuhkan suatu yang dapat menjaga dan melindungi umat dari segala sesuatu yang dapat memalingkan umat dari aturan Allah SWT.

Yakni dengan penegakan institusi yang menerapkan Syariah Islam secara menyeluruh dalam bingkai Daulah Khilafah Islamiyah, yang keberhasilan institusi ini telah terbukti sejak zaman Rasulullah SAW.

Sebagai muslim, kita haruslah jeli dalam melihat segala kebijakan-kebijakan ada, khususnya yang bertentangan dengan Islam. Yang terpenting adalah bagaimana cara kita menyikapi itu semua agar tidak mudah terjerumus pada kebijakan itu.

Yaitu dengan tidak menelan mentah-mentah kebijakan yang ada, kita haruslah bijak dalam mengkritisi segala kebijakan yang ada, serta terus menyuarakan kebenaran di tengah umat. Juga bersegera melaksanakan Syariah Islam secara menyeluruh.

Bukan hanya sekedar ibadah ritual saja, tetapi semua aspek dalam kehidupan termasuk dalam ekonomi dan bernegara. Hendaklah kita menjadikan Islam sebagai landasan kehidupan kita agar segera terwujud Islam yang Rahmatan Lil'alamin yang membawa rahmat ke seluruh alam. ALLAHU AKBAR !!![MO/ge]

Posting Komentar