Oleh :Merli Ummu Khila


Mediaoposisi.com-Fenomena pembunuhan di negeri ini sudah menjadi pemandangan sehari-hari. Pemberitaan tentang pembunuhan di media sudah bukan suatu berita yang mengegerkan masyarakat. Yang lebih miris, pembunuhan di dominasi motif yang sepele dan pembunuhan oleh seseorang yang saling mengenai bahkan punya hubungan kekerabatan.

Sebut saja yang baru-baru ini terjadi kasus pembunuhan terhadap satu keluarga yang tinggal di Jalan Bojong Nangka 2, Pondok Melati, Bekasi pada 13 November 2018 . sang pelaku Haris Simamora (HS) dibutakan dendam membara hingga tegas membunuh satu keluarga di Bekasi. Haris mengungkapkan sejumlah pengakuan. Dia menghabisi Daperum sekeluarga hanya karena kerap dihina tidak berguna.

Ada juga pemberitaan , seorang pria ditemukan tewas di dalam drum plastik warna biru di kawasan industri Kembang Kuning, Kampung Narogong, Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Minggu (18/11). Pria yang diketahui bernama Abdullah Fithri Setiawan (43) itu diduga menjadi korban pembunuhan.

Dan yang terbaru, Seorang wanita bernama Ciktuti Iin Puspita (22), ditemukan tewas dalam lemari kamar kosnya yang berada di Jalan Mampang Prapatan VIII Gang Senang Kompleks Bappenas RT 03 RW 01, Tegal Parang, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, pada Selasa (20/11/2018) siang.

Berbagai motif sepele dan cara membunuh yang sangat kejimencerminkan betapa manusia sudah pada level tidak berperikemanusiaan. Mudah sekali menghabisi nyawa seseorang, seolah tiada harganya.

Melebihi insting binatang, jika seekor binatang memakan korban nya demi mempertahankan hidup, tetapi saat ini para pelaku pembunuhan jauh lebih kejam dari binatang.

Rendah nya kualitas keimanan membuat seseorang dengan mudahnya melakukan tindakan kejahatan, karena tidak tertanam akidah yang kuat. Di semua agama tentu saja melarang melakukan setiap tindak kejahatan. Seseorang yang jauh dari agama dia akan melakukan tindakan brutal hanya karena masalah sepele. Apa lagi dalam kesehariannya sering disuguhi pemberitaan tentang pembunuhan yang lama-lama akan membuat masyarakat terbiasa dan menganggap bukan kejadian luar biasa. Hal ini menjadikan para pelaku merasa perbuatan yang mereka lakukan adalah hal yang biasa.


Di Indonesia kasus pembunuhan tidak termasuk Extraordinary Crime. Yang termasuk dalam Extraordinary Crime yaitu kejahatan genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, kejahatan perang, dan kejahatan agresi. Jadi jangan heran jika kasus-kasus pembunuhan keji yang terjadi hanya terjerat rumusan Pasal 338 KUHP “Barangsiapa sengaja merampas nyawa orang lain, diancam, karena pembunuhan, dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun”.


Dalam islam, satu nyawa manusia sangat dimuliakan Allah SWT sesuai dengan firmannya
"Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagj Bani Israil.

Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah ia telah memelihara kehidupan manusia seluruhnya". (QS. Al-Maidah: 32)

Makanya dalam islam ada nya hukum qishash didefinisikan yaitu Diperlakukannya pelaku kejahatan sebagaimana dia memperlakukan hal itu kepada korbannya.Orang yang melakukan pembunuhan nyawa orang lain, maka hukumannya secara qishash dibunuh juga. Orang yang melukai orang lain, maka hukumannya secara qishash dilukai juga. Tentu saja kedudukan, kadar, nilai dan tingkat lukanya disamakan dengan apa yang telah dilakukan nya.

Bahkan dalam qishash jika keluarga korban memaafkan pelaku maka ada diyat atau denda yang harus di bayar si pembunuh Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Ketahuilah, sesungguhnya dalam korban pembunuhan mirip sengaja, korban terbunuh oleh cambuk dan tongkat, diyatnya 100 unta [HR Ibnu Mâjah no 2618 dan dishahîhkan al-Albâni dalam kitab Shahîhul-Jâmi’ no 2638] 

Adanya hukum qishash bukanlah untuk membalas dendam atau sesuatu yang kejam akan tetapi untuk mencegah menusia untuk tidak dengan mudah menghilangkan nyawa seseorang karena Allah lah yang lebih berhak atas nyawa seseorang. Terbukti ketika islam masih berjaya tiap - tiap warga negara kekhilafahan baik islam maupun non muslim dijamin keselamatan jiwa nya oleh khilafah yang menerapkan hukum islam tersebut yaitu hukum qishash.

Jadi selama hukum yang dipakai adalah buatan manusia yang sudah pasti banyak kekurangan nya maka teror pembunuhan akan selalu membayangi karena pelaku nya bisa jadi orang terdekat, orang sekitar, atau  orang yang saling mengenal.

Tidak ada pilihan selain kembali pada hukum Allah SWT, sudah saat nya kita mengasihi segala kedzaliman di negeri ini karena manusia terlalu sombong untuk mengakui bahwa hukum Allah lah yang pantas  dan wajib  diterapkan di muka bumi ini.[MO/an]


Posting Komentar