[Senarai Epos Elegi Menuju Aksi Bela Tauhid 212]
Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Setiap diri itu abadi, tidak ada yang lekang oleh waktu. Hanya saja, diri siapa yang ingin dikenang sebagai apa. Hanya nyawa yang terputus, tetapi jejak kehidupan akan abadi dikenang zaman.

Rasulullah Muhammad SAW telah wafat, 14 Abad yang lalu. Namun nama beliau tetap abadi, hingga era kini. Beliau abadi, sebagai Rasul dan suri tauladan, pemimpin negara Islam, penyebar risalah dakwah hingga ke seluruh penjuru alam.

Fir'aun juga telah tewas, jauh sebelum Rasulullah lahir. Tapi nama fir'aun juga abadi, sebagai contoh akhir mengenaskan dari pilihan kekufuran yang dipertahankan.

Dan sebentar lagi, aksi bela tauhid jilid 2 akan digelar. Ini bukan soal aku atau Dirimu, apakah akan diberi umur untuk bisa mengikutinya. Tapi ini adalah soal komitmen hidup, dirimu dan diriku, komitmen 'kita' yang ingin abadi menjadi bagian pembela Islam, meski kelak nyawa terpisah dari raga.

Sejatinya, kita sedang menyusuri jejak hidup dan akan abadi dalam 'pemakaman' yang bagaimana. Apakah Anda akan memilih Syahid dalam barisan membela Islam, atau tersisih menjadi bangkai dalam barisan penista Islam.

Ini setidaknya soalku, soal keluargaku, soal kampung halamanku. Kutitipkan semua asa yang pernah kupahat diantara celah rimbun pohon duku, di pokok-pokok batang durian, dan diantara juntaian pohon rambutan. Nasrudin Joha kecil ketika itu bercita-cita ingin menjadi abadi sebagai pembela risalah Nabi.

Kampung halamanku, yang terlalu kecil untuk menggantang cita-citaku yang begitu besar, yang karenanya kutinggalan. Kampung, dimana aku lahir dan besarkan, dan akhirnya kutinggalkan.

Saat ini, aku berazam ikut aksi reuni 212, bukan sembarang reuni tetapi aksi bela Islam jilid 2, aksi bela bendera tauhid. Telah kurentangkan risalah pledoi bagi siapapun yang hendak menghalangi Langkahku. Kukatakan pada kalian, risalah pledoiku sederhana : Kami ingin ikut bela Islam, kenapa ? SUKA SUKA KAMI.

Silahkan saja, kalian yang ingin menghalangi Jalanku. Tunggulah aku di persimpangan jalan, niscaya kalian akan mendapati keputusasaan jika bertujuan menghalangi Langkahku.

Silahkan saja yang ingin istrinya menjanda. Silahkan saja yang ingin anaknya menjadi yatim. Silahkan saja, yang ingin lebih cepat meninggalkan kenikmatan dunia, padahal bagi kalian dunia adalah surga yang berkesudahan.

Aku titipkan kampung halamanku, teruskanlah pahatan di pohon duku itu, di pohon durian itu, di pohon rambutan itu. Teruskanlah, dengan menjadi pejuang pembela Islam yang terpercaya.

Jika engkau tiada menemuiku di Monas saat aksi bela tauhid, serukan kalimat tauhid, serukan kalimat takbir. Setiap seruan yang saling bersahutan, itu menandakan aku berada didekatmu. [MO/ge].

Posting Komentar