Oleh: Mochamad Efendi

Mediaoposisi.com-Bendera tauhid terus berkibar seiring kesadaran umat untuk mencintai Allah dan RasulNya semakin bertambah. Di acara Milad FPI ribuan bendera tauhid terus dikibarkan sebagai bentuk rasa cinta mereka meskipun ancaman dan larangan pengibaran bendera tauhid.

Bahkan di satu perkampungan di setiap rumah dikibarkan bendera tauhid. Umat sudah tidak merasa takut lagi walaupun pemimpin negeri ini yang merasa paling berjasa dan punya andil atas Indonesia, mengangap dirinya paling layak tinggal di Indonesia.

Dan berhak atas negeri yang kaya raya dengan sumber daya alamnya, sehingga berani  meminta yang lain pergi meninggalkannya jika mereka berani mengibarkan bendera tauhid. 

Milik siapa Indonesia ini? Bagi yang punya agama dan beriman pasti menjawab milik Allah  Jadi siapa yang harus meninggalkan Indonesia,

orang yang menghalang-halangi berkibarnya kalimat tauihid di bumi Allah atau orang yang dengan bangga mengibarkan kalimat tauhid karena dorongan cinta pada Allah dan RasulNya

Siapa yang layak tinggal di Indonesia, orang-orang yang membakar bendera tauhid karena terdorong kebencian yang tersimpan di dalam hati  dan dada mereka atau orang yang membela Agama Allah karena itu adalah perintahNya.

Banyak pemimpin negeri ini yang merasa berjasa atas Indonesia, sehingga bisa memaksakan pemikirannya agar diterima dan dijunjung tinggi. Padahal apa kontribusi dan jasa mereka pada negeri ini? Negeri yang kaya raya bak penggalan tanah surga, tidak mampu membawa kesejahteraan pada rakyatnya? Lalu siapa yang salah?

Mereka Mengaku yang paling NKRI, tetapi ketika timor-timor lepas dari Indonesia mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Mana harga matimu atas NKRI saat itu.

Kitapun tahu bahwa banyak aset negara dikuasai asing tapi kaupun terdiam tidak bisa berbuat apa-apa padahal kau mempunyai kekuasaan untuk bisa mengembalikan aset negara pada pemiliknya, rakyat Indonesia.

Saat kebijakan negara yang menyengsarakan rakyat kaupun terdiam. Kau ikuti perintah dari perusahaan asing tetapi kau abaikan jeritan rakyat yang menyuarakan tuntutannya agar bisa hidup sejahtera.

Saat rakyat  bangga dengan keyakinannya dan membela agama dari para penista, kau anggap tidak cinta pada Indonesia sehingga tidak layak tinggal di negeri yang di dalamnya mereka ikut memberikan kontribusi positif. Suara kami tidak kau dengar padahal itu bisa membawa kebaikan untuk Indonesia.

Kau keras kepala dan arogan dengan pemikiran yang terbukti tidak membawa kebaikan pada Indonesia. Utang luar negeri menggunung yang memicu pada tidak stabilnya nilai rupiah. Apa solusi yang kau berikan? Saat rakyat melarat karena harga BBM naik terus.

Saat rakyat bingung dengan biaya rumah sakit dan pendidikan yang mahal, kau malah berlepas diri dari urusan rakyat
.
Kau hanya selalu membenturkan simbol kebangsaan dengan agama, kayakian yang dipegang teguh oleh rakyat. Kaupun  menyalahkan rakyat yang membawa solusi terbaik untuk negeri ini.

Katanya kau yang paling memahami pancasila tapi kau sendiri banyak melanggar nilai-nilai pancasila. Kaupun tidak tegas pada penista agama karena agama kau anggap tidak penting untuk dibela dan dijunjung tinggi.

Bahkan kau anggap benar dan sebagai pahlawan para pelaku pembakaran bendera tauhid. Sementara orang yang mengibarkannya kau anggap makar dan harus meninggalkan Indonesia

Jika pemahamanmu tidak nampu melihat secara benar atas Indonesia jangan kau paksakan pikiran yang salah itu pada kami. Komunikasikan secara terbuka pada  rakyat yang lain yang bisa jadi memiliki pemahaman berbeda tetang bagaimana memandamg Indonesia ke depan agar bisa menjadi lebih baik.

Jangan kau tutup telinganmu dan memaksakan keinginanmu layaknya para preman yang tidak mau menggunakan pendekatan persuasif. Bukan hanya kau yang berhak atas Indonesia, kami juga punya hak untuk memberikan solusi bagi Indonesia ke depan yang lebih baik.

Karena Indonesia milik Allah, hanya hukum Allah yang boleh mengatur negeri ini, Indonesia. Dan bagi yang menistakan agama Allah tidak layak tinggal di Indonesia karena Indonesia Milik Allah.[MO/ge]

Posting Komentar