Oleh: Della Novita Sari
(Anggota Muslimah Jambi Menulis)

Mediaoposisi.com- BIN (Badan Intelijen Negara) telah menetapkan sebanyak 41 masjid di lingkungan pemerintahan terpapar radikalisme. "Ada 11 masjid kementrian, 11 lembaga, dan 21 masjid BUMN,” ujar staf khusus kepala BIN Arief Tugiman, dalam diskusi peran ormas islam dalam NKRI di kantor lembaga persahabatan ormas islam (LPOI), Jakarta, Sabtu (17/11).

Dilansir dari CNN Indonesia, dari 41 masjid yang terpapar radikalisme dikategorikan lagi menjadi 7 masjid terpapar radikalisme kategori rendah, 17 masjid terkategori sedang, dan 17 masjid terkategori tinggi.

Menanggapi berita ini Kementrian Agama langsung menggelar pertemuan dengan takmir atau pimpinan masjid di BUMN untuk berkoordinasi. Juru bicara Kementrian Agama mengatakan disepakati untuk menampilkan khatib yang lebih lebih moderat. Selain itu, kementrian juga mendorong para khatib membaca buku panduan khotbah yang bisa diakses secara bebas yang berisi tentang cinta kebangsaan dan tanah air.

Dari fakta diatas jelas sekali terlihat bahwa rezim ini nampak panik dengan bangkitnya gerakan politik islam sehingga terus saja mencari-cari celah untuk menyudutkan umat islam. Bahkan sampai sekarang tidak jelas apa yang sudah menjadi tolak ukur dalam menetapkan sesuatu hal dapat di kategorikan kedalam radikalisme.

Dan yang sangat mengherankan lagi Badan Intelegen Negara yang seharusnya bekerja secara senyap dan kalaupun harus membina maka ia seharusnya membina dengan senyap tidak di beritakan ke masyarakat luas sehingga menimbulkan keresahan. Dengan menyebarluaskan pernyataan tersebut mengakibatkan rakyat resah sehingga mereka bertanya-tanya masjid yang mana kah yang dimaksudkan, ustad-ustad mana yang telah menyebar paham radikalisme ini.

Dari sekian banyak penyelidikan kenapa hanya di masjid saja yang terdata terpapar paham radikalisme ini? Apakah benar di tempat ibadah lain tidak terpapar paham raikalisme? Ataukah hanya masjid-masjid saja yang dimasuki mata-mata oleh penguasa? Seolah-olah umat muslimlah satu-satunya sasaran dari paham radikalisme ini.

Seharusnya hal ini membuat kita sadar bahwa ada sesuatu dibalik propaganda radikalisme ini. Istilah radikalisme seringkali digunakan kepada orang-orang atau kelompok yang menentang ideologi barat seperti kapitalisme, sekulerisme dan demokrasi. Istilah radikalisme ini sengaja dibuat oleh barat untuk menghancurkan umat islam, sehingga umat islam merasa takut dengan agamanya sendiri dan perlahan meninggalkannya bahkan tumbuh menjadi muslim yang liberal.

Islam merupakan agama yang sempurna dan mengatur seluruh aspek kehidupan manusia mulai dari pekara hubungan manusia dan tuhannya, hubungan sesama manusia, dan hunbungan manusia dengan dirinya sendiri. Mulai dari pekara ibadah, politik,ekonomi, muamalah, pendidikan ada pengaturannya dalam islam karena islam merupakan rahmat bagi seluruh alam, hal ini akan dirasakan hanya jika aturannya diterapkan secara menyeluruh.

Bahkan sejarah telah membuktikan ketika umat islam berpegang teguh kepada aturan Allah SWT secara menyeluruh, maka umat islam akan memimpin dunia hingga berabad-abad. Maka penting sekali bagi umat islam untuk segera menjadikan syariah islam sebagai pedoman bagi kehidupannya .

Dan wajar rasanya jika saat ini umat memiliki kesadaran dan tekad yang sangat kuat untuk mengembalikkan sistem kehidupan sesuai dengan aturan Allah SWT. Tetapi saat umat mulai sadar dan bertekad untuk memperjuangkan kehidupan islam malah di cap sebagai “radikal” dalam konotasi yang sangat negatif. Padahal kalau di lihat dari segi bahasa radikalisme itu memiliki makna yang positif.

Sudah saatnya umat islam menyadari bahwa propaganda radikalisme adalah upaya penguasa untuk menjauhkan islam dari umatnya. Rekatkan persatuan umat dalam bingkai ukhkuwah islamiyah.[MO/sr]

Jika ingin atribut Tauhid bisa hubungi 0853 3921 2371


Posting Komentar