Oleh: Novida Balqis Fitria Alfiani

Mediaoposisi.com- Akhir-akhir ini sering terdengar komentar dan pernyataan yang kurang masuk akal. Salah satunya adalah ujaran seperti ini, “kalau cinta tauhid, tidak perlu sampai ditulis di bendera, di topi, di gantungan kunci dan sebagainya. Cukup di dalam hati saja, Allah sudah mengetahui kalau kita cinta tauhid. Karena Allah Maha Mengetahui”. Benarkah pernyataan seperti Itu? Bagaimana Islam menanggapinya?

Mari kita mengibaratkannya dengan 2 orang laki-laki bernama Jaka dan Zay yang sama-sama menginginkan seorang wanita bernama Maya. Zay berniat untuk menyatakan perasaannya dan membuktikannya dengan melamar Maya. Sedangkan Jaka memilih tidak ingin perasaannya diketahui Maya dan merasa cukup mencintainya di dalam hati saja.

Sampai pada akhirnya, menikahlah Zay dan Maya. Sedangkan Jaka tidak menerima pernikahan mereka dan mendatangi Maya untuk meluapkan perasaan yang selama ini dipendamnya. Dari ilustrasi ini, jika muncul sebuah pertanyaan, apakah Maya akan menerima Jaka, maka tentu kita bisa menjawabnya sendiri. Jelaslah perasaan yang diungkapkan Jaka akan ditolak mentah-mentah oleh Maya karena Maya sudah memiliki suami bernama Zay. Sungguh malang nasib Jaka.

Dari ilustrasi tersebut, pelajaran berharga yang dapat kita ambil adalah kalau kita memang mencintai sesuatu, maka harus kita buktikan. Karena cinta membutuhkan bukti, sebagaimana keimanan. Bukankah telah jelas perbedaan antara orang kafir dengan muslim itu terletak pada aktifitasnya? Maka Jelaslah keimanan tidak cukup dengan hati saja.

Dia harus diaplikasikan dalam perbuatan. Begitu juga dengan kalimat tauhid. Sebagai umat muslim, bukankah sudah seharusnya kita cinta dengan kalimat tauhid? Lalu, apa bukti cinta kita pada kalimat tauhid? Bagaimana cara membuktikannya?

Caranya tentu bisa bermacam macam. Salah satunya ketika kita mengetahui, ada oknum yang membakar kalimat tauhid seperti kejadian beberapa waktu lalu, maka bentuk kita menunjukkan cinta kita kepada kalimat tauhid bisa dengan menghadiri aksi menuntut pelaku pembakaran kalimat paling mulia tersebut untuk dihukum. Begitu pula mencetak kalimat tauhid pada bendera, topi, ikat kepala, gantungan kunci, dan benda-benda lainnya untuk dipakai merupakan bentuk pengungkapan cinta kepada kalimat tauhid.

Tetapi tetap saja ada orang yang berkata, “apakah boleh mencetak kalimat tauhid di bendera, topi, dan benda lainnya? Padahal kalimat tauhid itu kan kalimat yang mulia. Apakah tidak takut jatuh, terinjak, dan sebagainya?” Begini penjelasannya. Sebenarnya bendera tauhid itu sudah ada sejak zaman Rasulullah. Apa buktinya? Buktinya adalah Rasulullah menggunakan bendera bertuliskan kalimat tauhid untuk perang. Dan juga sebagai pemandu dalam perjalanan bersama pasukan.

Ketika perang Uhud, sahabat Rasulullah mempertahankan bendera tauhid agar jangan sampai terjatuh. Mus’ab bin Umair, sahabat Rasulullah yang syahid di medan perang pun mempertahankan bendera tauhid hingga syahid. Ketika tangan kanan Mus’ab bin Umair dipotong oleh musuh, ia segera memegang bendera tauhid dengan tangan kirinya.

Ketika musuh memotong tangannya yang sebelah kiri, Mus’ab pun segera mendekapkan bendera pada sela bahunya. Lalu, musuh memotong tubuhnya Mus’ab hingga syahidlah beliau demi mempertahankan bendera tauhid tersebut. Begitu Mus’ab bin Umair syahid, digantikanlah Ali bin Abi Thalib yang memegang bendera tauhid hingga perang selesai. Betapa perjuangan yang luar biasa para sahabat Rasulullah hingga mempertaruhkan nyawanya agar bendera tauhid tidak terjatuh ke tanah. Sungguh bukti cinta yang luar biasa.

Berikut ini adalah beberapa hadits terkait bendera tauhid (panji Rasulullah) :
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radiyallahu ‘anhu :

كَانَتْ رَايَةُ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- سَوْدَاءَ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضُ، مَكْتُوبٌ عَلَيْه ِ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ

Panjinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwarna hitam, dan benderanya (Liwa’) berwarna putih, tertulis didalamnya: Laa ilaaha ilallah Muhammadar Rasulullah.” (HR Ath-Thabrani)

Dan juga dari Yunus bin Ubaid maula Muhammad bin Qasim, ia berkata: Muhammad bin Al-Qasim mengutusku kepada Al-Bara’ bin ‘Azib, aku bertanya tentang Rayah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti apa? Al-Bara’ bin ‘Azib menjawab :

كَانَتْ سَوْدَاءَ مُرَبَّعَةً مِنْ نَمِرَةٍ

(Ar-Rayah) ia berwarna hitam, berbentuk persegi panjang terbuat dari kain wol.” (HR At-Tirmidzi, Al-Baghawi, An-Nasa’i)

Terakhir, mari kita buktikan cinta kita kepada kalimat tauhid dengan menerapkan syariat-syariat Allah secara keseluruhan. Karena penerapan Islam secara keseluruhan adalah representasi dari kalimat tauhid Laa ilaaha ilallah Muhammadar Rasulullah. Yang artinya tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.

Hal itu juga berarti tidak ada sistem apapun selain sistem yang berasal dari Allah dan sistem yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan begitu kita dapat membuktikan kecintaan kita secara totalitas demi kebahagiaan haqiqi dunia dan akhirat. Wallahu ‘alam.[MO/sr]

Jika ingin atribut Tauhid bisa hubungi 0853 3921 2371

Posting Komentar