Oleh : Ani Herlina 
pendidik dan anggota di komunitas  Akedemi Menulis Kreatif.

Mediaoposisi.com-Hari guru baru saja di peringati pada tanggal 25 November yang jatuh pada hari minggu. Dan antusias murid luar biasa meski hanya dengan mengirimkan ucapan selamat melalui whatsapp dan mengirimkan lagu-lagu tentang jasa guru. Ucapan mereka patut di apresiasi, itu menandakan bahwa guru di mata mereka masih cukup berarti.

Menurut Direktur jendralInspektur dalam upacara bendera itu yaitu Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Supriano mengatakan bahwa peringatan hari guru tahun 2018 ini mengambil tema “Meningkatkan Profesionalisme Guru Menuju Pendidikan Abad ke-21”.

“Revolusi industri 4.0 membuat tantangan bagi dunia pendidikan termasuk guru semakin berat sehingga dibutuhkan mental serta komitmen guru untuk meningkatkan profesionalismenya terutama untuk meningkatkan kualitasnya sesuai perkembangan zaman dalam hal pemanfaatan teknologi dan informasi untuk dunia pendidikan,” jelasnya saat menyampaikan amanat Menteri Pendidikan.

Namun dengan perkembangan tehnologi yang semakin canggih, tugas guru semakin jauh lebih berat. Karena cara mengajarpun harus mengikuti perkembangan zaman. Guru dituntut harus mengikuti perkembangan tehnologi tanpa mengabaikan integritas yang harus dimiliki dengan menjungjung tinggi profesionalime.

Namun kenyataan dilapangan masih sangat jauh dari yang diharapkan. Banyak sekolah-sekolah yang gurunya masih gagap dengan tehnologi dan sangat minim dengan fasilitas.  Padahal kurikulum tiga belas ini sangat di tuntut guru sudah mahir menggunakan media seperti komputer, internet dan media canggih lainnya untuk menunjang pembelajaran.

Dan hal ini harusnya pekerjaan guru jauh lebih mudah. Tapi, pada faktanya jauh lebih ribet. Untuk guru milenial mungkin hambatannya sekedar banyak waktu yang dikuras untuk mengisi aplikasi-aplikasi. Lalu bagaimana dengan guru zaman Old? Akan membutuhkan adaptasi yang cukup memakan waktu,terutama guru-guru didaerah. Dimana kemajuan pendidikan tidak merata, sedang semua dituntut untuk melakukan perubahan.

Pemerintah hanya menuntut profesionalisme guru saja yang harus cepat tanggap menghadapi perubahan zaman. Lantas bagaimana dengan kesejahteraan guru yang kerap terabaikan Terutama nasib para guru honorer yang gajihnya masih jauh dari kata layak. 

Masih ada gaji guru yang mendapatkan gaji tiga ratus ribu perbulan dengan gaji di rapel tiap tiga bulan. Sedangkan beban guru hari ini jauh lebih berat. Akankah pendidikan berkualitas itu terpenuhi. Sementara gaji guru masih jauh dari kata sejahtera?

Masih jauh lebih besar gaji para anggota DPR yang duduk tenang  dikursi kekuasaan yang penuh dengan fasilitas kenyamanan. Sementara peran guru jauh lebih besar untuk bangsa ini, tapi penghargaan negara belum totalitas. Tanpa guru tidak akan ada profesi-profesi dengan jabatan yang mentereng di dunia ini.

Di masa kejayaan Islam, guru begitu dihormati baik oleh negara dan masyarakat. Mehdi Nakosteen misalnya, dalam buku “Kontribusi Islam atas Intelektual Dunia Barat” (1996: 76-77) mencatat bahwa guru dalam pendidikan muslim begitu dihormati. Para pelajar muslim (mahasiswa) mempunyai perhatian besar terhadap gurunya. Bahkan, sering kali lebih suka hubungan intelektual secara langsung dengan gurunya daripada dengan tulisan-tulisan mereka.

Dan taka da penghormatan terbaik dari negara pada guru keculi di masa khilafah Harus Ar-Rasyid yaitu di masa Daulah basiyah berada dipuncak keemasannya. Sehingga gaji guru sangat terjamin. 200 Dinar  dengan satu Dinar setara dengan 4.25 gram emas. Itulah tunjangan untuk profesi guru pada masa itu.

Era mmilenial yang katanya serba canggih dan modern belum mampu menandingi masa kejayaan islam dalam penghormatan dan memberikan kesejahteraan terhadap profesi guru.

Orang tua pun demikian juga melakukan penghormatan tinggi kepada guru.  Pada masa keemasan Islam,  mereka sangat antusias menyekolahkan anak-anak mereka kepada para guru. Mereka memberikan dukungan dan membiasakan untuk mengajarkan anak-anak kepada mereka.

Suatu ketika Sulaiman bin Abdul Malik bersama pengawal dan anak-anaknya mendatangi Atha’ bin Abi Rabah untuk bertanya dan belajar sesuatu yang belum diketahui jawabannya. Walau ulama dan guru ini fisiknya tak menarik dan miskin, tapi dia menjadi tinggi derajatnya karena ilmu yang dimiliki dan diajarkannya.

Di hadapan anak-anaknya ia memberi nasihat, “Wahai anak-anakku! Bertawalah kepada Allah, dalamilah ilmu agama, demi Allah belum pernah aku mengalami posisi serendah ini, melainkan di hadapan hamba ini [Atha’] (Aidh Al-Qarny, Rūh wa Rayhān, 296). Dikutip dari Hidayatullah.com
Berbeda halnya dengan hari ini guru menghukum sedikit saja agar murid disiplin, orang tua sudah main lapor dan berujung penjara.

Anak-anaknya juga jauh dari adab sopan santun. Dan ini membuat guru semakin berada di posisi yang sangat dilematis. Ketika hukuman terhadap anak bisa berujung penjara, lantas hukuman apa yang harusnya bisa mendisiplinkan siswa, yang memiliki efek jera? Sedangkan perlindungan hukum terhadap guru sangat lemah.

Apabila kita berbicara tentang ilmu dan pendidikan bererti sekaligus kita meletakkan para guru dan pendidik sebagai golongan yang amat penting agar umat ini menjadi umat terbaik.Karena kita hasrus senantiasa bersyukur pada guru kita yang sudah mendidik kita dengan penuh pengorbanan.

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا، وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا، وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا

“Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak memuliakan yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda serta yang tidak mengerti (hak) orang yang berilmu (agar diutamakan pandangannya).” (Riwayat Ahmad)[MO/ge]




Posting Komentar