Oleh : Lia Destia

Mediaoposisi.com-Insiden pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid memicu amarah sebagian besar umat muslim di Indonesia. Aksi dengan jumlah ribuan orang untuk membela kalimat tauhid pun diselenggarakan di berbagai daerah.

Bahkan, bendera bertuliskan kalimat tauhid pun sempat dikibarkan di DPRD Poso beberapa waktu lalu dan hal ini membuat Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan RI, Wiranto memberi-kan pernyataan bahwa tindakan itu adalah tindakan yang melecehkan Pancasila.

Menurut Wiranto, pengibaran bendera tauhid tersebut merupakan tindakan menduakan bendera merah putih.

"Ya enggak boleh. Itu kan sudah menduakan merah putih. Menduakan Pancasila," kata Wiranti usai memberikan sambutan dalam Sosialisasi Inpres Nomor 7 Tahun 2018 tentang Rencana Aksi Nasional Bela Negara di Hotel Utami, Surabaya (Selasa, 30/10/2018)

Wiranto juga mengatakan bahwa pengibar bendera tauhid telah menyebarkan paham-paham anti Pancasila dan dengan hal itu, dirinya meminta pihak pengibar bendera tauhid untuk angkat kaki dari Indonesia.

Menurutnya, tak ada tempat di Indonesia bagi para penganut ideologi anti Pancasila.

"Kalau mau kibarkan lagi ya silahkan sana cari tempat lain yang bisa menoleransi. Orang yang tidak setuju dengan ideologi Pancasila ya jangan merusak, pergi saja dari Indonesia bikin saja tempat lain sana yang sesuai dengan ideologinya," ujar Wiranto.

Wiranto juga menilai bahwa tindakan-tindakan itu akan mengancam kedaulatan NKRI dan Pancasila juga menurutnya tak bisa dipisahkan dari NKRI sehingga keduanya sama-sama harga mati untuk dibela.

Disisi lain, massa Aksi Bela Tauhid justru menuntut Wiranto untuk segera bertaubat. Anggota Dewan Pembina Front Pembela Islam (FPI), Habib Muchsin Alatas menerangkan bahwa Wiranto harus bertaubat karena pernyataannya selama ini yang menunjukkan bahwa dirinya anti terhadap kalimat tauhid.

Menurut Habib Muchsin Alatas, kalimat tauhid yang tertulis di bendera yang dibakar anggota Banser justru sejalan dengan sila pertama Pancasila yakni Ketuhanan yang Maha Esa.

"Karena Pancasila adalah Indonesia merdeka yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Kalau Anda anti terhadap kalimat tauhid. Maka cari tempat lain selain bumi Allah. Anda adalah purnawirawan TNI.

Masih memegang sapta marga. Salah satu sapta marga adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Berarti kalah Anda anti kalimat tauhid sama saja berkhianat," ungkapnya.

Dari dua pendapat diatas, kita bisa menyimpulkan dengan pikiran yang jernih terkait insiden pembakaran bendera tauhid tersebut.

Sebagai umat muslim, tak mungkin kita anti dengan kalimat tauhid dimana seluruh umat muslim di dunia menjadikan kalimat tersebut sebagai pedoman hidup. Ini bukan soal di dunia saja, tapi kalimat itulah yang akan menyelamatkan kita di kehidupan setelah dunia yaitu akhirat.

Soal perkataan orang yang menilai bahwa bendera berkalimat tauhid itu adalah bendera organisasi HTI pun telah dibantah oleh fakta sejarah yang mengatakan bendera itu justru merupakan bendera Rasulullah saw.

Ideologi yang berdasarkan syariat Islam akan membawa kebaikan pada seluruh alam bukan hanya Indonesia saja. Islam bukan hanya mengatur tentang tata cara ibadah, tetapi Islam juga diturunkan untuk mengatur seluruh aspek dalam kehidupan dunia termasuk urusan negara.

Hal tersebut telah terbukti pada masa Daulah Islamiyyah yang berdiri sepanjang 1.300 tahun lamanya yang bahkan dalam sejarah peradaban manusia belum pernah ada sistem kehidupan yang mampu bertahan dalam waktu selama itu.

Pada bidang kesehatan misalnya, Rumah Sakit tidak akan memungut biaya sepeser pun terhadap pasiennya dan pasien tetap dirawat hingga sembuh.

Semua diperlakukan sama, tidak ada kelas 1, kelas 2 atau kelas 3 seperti yang ada pada sistem saat ini. Semua pelayanan yang dilakukan demi meraih ridha Allah SWT semata.

Begitu juga pada bidang pendidikan dimana hal ini merupakan salah satu kebutuhan dasar yang juga dibebankan pada negara bukan kepada rakyatnya.

Bukan hanya soal biaya yang gratis, pada masa Daulah Islam juga menyediakan infrastruktur serta fasilitas yang memadai untuk mendukung kegiatan pendidikan warganya seperti laboratorium, perpustakaan, buku-buku pelajaran, dll.

Dua hal diatas merupakan contoh kecil dari baiknya sistem yang ada di Daulah Islam. Hal ini didasari oleh sabda Nabi saw:

Imam itu adalah pemimpin dan ia akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya (HR al-Bukhari).

Atas dasar inilah Daulah Islam menjamin setiap warganya dalam pemenuhan kebutuhan dasar tersebut dengan mudah.

Lalu coba bandingkan dengan keadaan yang ada pada masa kini dimana sistem demokrasi yang diterapkan di Indonesia justru sangat tak berpihak kepada rakyat.

Seperti yang baru-baru ini viral tentang seorang gadis bernama Ida Ayu Riski Susilowati yang terpaksa berjualan cilok di sekolahnya demi mencari uang untuk makan dan bayar sekolah bagi dirinya dan sang adik.(Senin, 22/10/2018)

Selain itu, seorang perempuan bernama Fitri Maya Wulandari yang hanya bisa pasrah tergolek di kasur tipis rumahnya karena tak memiliki biaya untuk berobat ke Rumah Sakit. Bahkan, anaknya yang bersekolah pun terpaksa berhenti supaya bisa merawat sang ibunda di rumah. (22/05/2018)

Kedua fakta diatas merupakan contoh kecil dari sistem demokrasi yang didalamnya terdapat paham kapitalisme dimana seharusnya kesehatan, pendidikan, dan lain-lain menjadi hak setiap warga negara tapi justru menjadi barang mewah yang sulit didapat karena semua berujung dengan ada atau tidaknya uang.

Maka dari itu, sebagai umat muslim, tak pantas kita untuk anti terhadap ideologi Islam. Allah swt sudah menurunkan syariat Islam sebagai solusi dari permasalahan yang ada di kehidupan manusia dan seluruh alam.

Serta sudah selayaknya kita yakin dan mengajak keluarga maupun sahabat kita untuk berusaha sedikit demi sedikit menerapkan syariat Islam di kehidupan sehari-hari sembari mendakwahkannya. Supaya tak ada lagi rakyat yang kelaparan, tak ada lagi rakyat yang harus mati sia-sia karena tak punya biaya pengobatan dan yang lainnya.[MO/ge]

Posting Komentar