Oleh : Dyyah Pertiwi 
"Generation Obsever"

Mediaoposisi.com-Kenal  dengan Hindun bin utbah ?Sosok perempuan yang namanya tak asing di deretan penguasa kabilah Quraisy. Hidun  adalah istri dari Abu sufyan bin harb.

Hindun adalah seorang wanita yang cerdas,Ia juga memiliki  paras yang  cantik,bergelimang harta,nasab nya terhormat dan juga cedas.

Ia juga tekenal sebagai wanita yang pemberani. Saking beraninya ia pernah membalaskan dendam ayahnya yang terbunuh di perang Badar.

Disuatu ketika Ia memerintahkan budaknya bernama Washy  untuk membunuh Hamzah bin abi muthalib yang juga adalah pamannya  Rasulullah saw.

Saat perang Badar telah selesai, ia menghitung hitung kaum muslimin yang syahid, ia melihat banyak bagian tubuh yang tercecer, lalu ia kalungkan beberapa potongan telinga dikakinya dan sontak ia bahagia saat menemukan jenazah  Hamzah tergeletak di tanah. Lalu ia merobek perut Hamzah dan mengunyah hati dengan rasa puas.

Begitulah masa jahiliyah Hindun binti utbah, Sampai akhirnya Futuhat  Mekah, Cahaya islam menyinari hatinya.  Hindun melantunkan dua kalimat  Syahadat di hadapan Raulullah saw dan para sahabat.

Semenjak ke islamanya ia berubah menjadi muslimah yang berakhlak, lembut dan taat. Islam juga telah merubah pola pikirnyanya , pola sikapnya dan  mengubah kebencianya terhadap Rasulullah saw menjadi cinta yang teramat dalam . Ia berubah menjadi muslimah sejati, kecerdasan , hartanya dan tenaganya ia curahkan di jalan  Allah swt.

Terbukti ketika dimedan perang Yarmuk, saat kaum muslimin bertempur habis habisan melawan Romawi.  Hindun mengambil peran besar dalam kemenangan kaum muslimin.

Ia menghalau setiap kaum muslimin yang mencoba lari dari medan perang. Hindun meneriaki sesiapa yang mencoba lari termasuk suaminya Abu Sufyan yang berusaha keluar dari pertempuran. Ia terus berusah menggelorakan semangat kaum muslimin untuk memenangkan peperangan ini. Sampai akhirnya kemenangan benar-benar berada di genggaman kaum muslimin.

Begitulah kisah Hindun bin utbah ra, masa jahiliyah yang kelam berubah menjadi  sangat luar biasa tatkala islam merasuk dalam hatinya. Dua kalimat syahadat telah merubah Hindun menjadi muslimah yang taat. Ia bersungguh-sungguh dalam keislamanya , yang tak hanya sekedar dilisan saja namun juga dalam perbuatan. Ia rela mengorbankan segalannya untuk islam, dan mati-matian terdepan untuk membela islam.

Tapi bertolak belakang dengan hari ini. Saat begitu banyak yang terlahir menjadi seorang muslim,  Yang Syahadatnya sudah dikenalkan kedua orang tua nya sejak ia pertama kali mebuka mata. Ia hanya menjadikan syahadat sekedar identitas semata yang tak tercermin dalam perbuatanya. Syahadat hanya sebagai romantisme klasik  belaka yang tak berefek sedikitpun dalam hidupnya. Cara bicara, berbuat, berfikir tak sama dengan syahadatnya. Begitu banyak yang tak paham dengan makna  syahadat itu sendiri.

Mereka buta dengan agamanya, mereka rela hidupnya di atur oleh aturan yang bukan dari islam, Riba melekat dalam ekonominya, kebebasan dalam bergaul mendarah daging  di kalangan pemuda, narkoba , freesex, minuman haram menjadi budaya yang biasa di tengah-tengah generasi muda.  Kenapa  bisa demikian ? padahal Tuhan kita sama , Al Qur’an kita sama, Rasul kita pun sama, dan syahadatnya pun sama dengan syahadatnya Hindun bin Utbah. Lalu apa yang membedakan ?

Dalam kitab Nidzomul islam yang ditulis  Syeih Taqiyudin an-nabhani di jelaskan bangkitnya seseorang tergantung pada pemikiranya.

Sering kita lihat kualitas keislaman seorang mualaf lebih kuat dan lebih mempengaruhi kehidupnya ketimbang seseorang yang terlahir islam.Karena proses berfikir untuk memilih islam itu sendiri yang menjadikan berbeda kualitas syahadatnya .

Proses berfikir seorang mualaf yang mencari tahu tentang Allah, meyakinka dirinya tentang islam, Rasululllah dan Al Qur’an bahwa kesemuanya adalah Haq .Dan itu adalah proses yang akhirnya menjadikan Islam mengkristal dalam dirinya.

Selayaknya kualitas syahadat  para sahabat Rasulullah.  Ketika syahadat menyatu dalam dirinya , tertanam dalam benaknya makan akan merubah pola pikir dan sikapnya ( syaksiyah islam).Maka tak cukup berislam hanya sekedar dilisan , hanya sekedar bahwa orang tua kita islam akhirnya otomatis kita menjadi islam. Tapi syahadat yang berkualitas adalah syahadat yang dilakukan dengan berfikir tentang kehidupan , tentang alam semesta , manusia dan di kaitkang dengan sebelum dan sesudah kehidupan. Siapa yang menciptakan kita?, untuk apa kita didunia?, dan setelah kematian akan kemana? Ketika kita mampu menjawab dengan ilmu dan bukti maka akan tumbuh ke imanan layaknya Hindun bin utbah.[MO/an]


Posting Komentar