Oleh : Dania Puti Rendi 
Aktivis Kampus

Mediaoposisi.com-Acapkali di sematkan kepada pemuda akan semangat perubahan. Sebagai Agen of Change menuntut pemuda bergerak sekaligus bertanya akan dibawa kemana negeri ini??! Jadilah perannya begitu dipentingkan untuk kemajuan peradaban.

Isu radikalisme berhembus kencang di berbagai kalangan termasuk intelektual kampus. Setelah akhirnya mencuat isu ini, Menrisrekdikti menerbitkan Peraturan No. 55 th 2018 bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda yang berisikan tentang Pembinaan Ideologi Bangsa dalam Kegiatan Kemahasiswaan di Lingkungan Kampus. Dengan adanya Permeristekdikti ini maka organisasi ekstra kampus dapat masuk kampus dan bersinergi dengan organisasi intrakampus, diantaranya KAMMI, HMI, PMII dan GMNI

."Permenristekdikti ini diterbitkan sebagai upaya Kemenristekdikti untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa akan Ideologi bangsa dan mencegah paham-paham radikalisme dan intoleransi berkembang di kampus,” ungkap Mohammad Nasir selaku pihak Menristekdikti.

Menristekdikti mengungkapkan, Pembinaan Ideologi Kebangsaan tersebut akan direalisasikan dengan dibentuknya Unit Kegiatan Mahasiswa Pengawal Ideologi Bangsa (UKM PIB) yang akan dibentuk oleh pimpinan perguruan tinggi. Anggota UKM PIB ini berasal dari organisasi kemahasiswaan intra kampus dan organisasi kemahasiswaan ekstra kampus.

Dengan kata lain pemuda didorong sebagai agen penanaman ideologi bangsa yang telah banyak terkikis diakibatkan masuknya paham Radikalisme di kampus. Lantas, seberapa bahaya Paham Radikalisme itu, bagi kampus dan masyarakat?

Berdasarkan KBBI, radikal berarti menyeluruh, mendasar dan mengakar. Dari definisinya dapat bernilai positif dan negatif, tergantung sikap mana yang di pilih. Namun, nyatanya Radikalisme di stigmakan negatif kepada kelompok-kelompok islam yang menyuarakan agar islam dan syari'atnya di terapkan secara menyeluruh.

Padahal, jika dilihat dari sudut pandang lain, penerapan islam secara menyeluruh merupakan anjuran dan kewajiban setiap muslim yang terdapat dalam QS. Al-Baqarah: 208." Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu."

Penerapan Islam secara kaffah merupakan keinginan umat Islam agar merasakan islam Rahmatan lil 'Alamin, jika ada upaya membendung pergerakan paham ini, yang sangat jelas sama dengan menbendung kebangkitan Islam yang sekarang tengah diperjuang kan oleh para pemuda dan intelektual kampus khususnya.

Disisi lain, disaat stigma negatif terhadap Radikalisme, yang hari ini mendorong para intelektual kampus untuk kembali memperkuat Ideologi bangsa dengan masuknya organisasi ekstrakampus masuk kampus dan dibentuknya UKM PIB sebagai tindakan nyata untuk membendung paham-paham yang dianggap sesat itu. Maka lantas apa peran sesungguhnya pemuda di tengah-tengah banyak kemelut dan permasalahan umat hari ini bila kehadiran HMI, KAMMI, GMNI dan IMM, hanya untuk memperkokoh Ideologi Bangsa, dengan kata lain membendung kebangkitan Islam??

Pemuda Bangkitkan Peradaban Islam

Pemuda merupakan agen of change, yang akan merubah kerusakan-kerusakan yang tengah terjadi menyelimuti negeri. Sebagai, pemuda muslim tentulah, pemuda sebagai pembangkit semangat perjuangan Islam dan merubah keadaan hari ini menjadi keadaan yang diingin semua kaum muslimin.

Kerusakan terjadi adalah akibat tidak adanya hukum Islam yang di jalankan di negeri ini. Kita yakin bahwasanya hukum islam yang bersal dari Sang Pencipta akan menciptakan kemaslahatan dan membumi hangus segala kerusakan yang hari ini terjadi.

Maka telah sepatutnya seorang pemuda harus memperjuangkan tegaknya aturan syari'at Islam di negeri ini untuk mewujudkan impian seluruh kaum muslim yang ingin terlepas dari belenggu kekuasaan kapitalis yang sangat mencengkram.

Boleh dibilang, upaya menghilang kan paham-paham radikal yang menurut mereka berasal dari kaum muslim yang ingin pererapan syari'at itu merupakan untuk memperkuat cengkeraman kaum kafir barat yang kita tahu mereka tak pernah suka dengan Islam.[Mo/an]

Posting Komentar