Oleh: Tety Kurniawati 
(Ibu dan Anggota Akademi Menulis Kreatif) 

Mediaoposisi.com- Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendorong Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI agar melakukan evaluasi terhadap penyajian soal ujian nasional berbasis komputer (UNBK) jenjang SMA yang berlangsung pekan lalu secara transparan. Hal ini terkait dengan aduan sebanyak 27 siswa SMA yang menyebutkan bahwa soal matematika dalam UNBK bukan merupakan materi yang pernah diajarkan selama tiga tahun di SMA.

Sebelumnya Kemendikbud RI menyebutkan bahwa jenis soal yang terdapat dalam mata pelajaran matematika termasuk Higher Order Thinking Skills (HOTS) atau soal penalaran. Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti menilai hal ini menjadi masalah saat materi tersebut belum pernah diajarkan di sekolah namun diujikan dalam ujian nasional. Ini tentunya menjadi ketidakadilan bagi anak- anak peserta UNBK SMA. ( Republika.co.id 17/04/2018)

Polemik sulitnya soal matematika dalam UNBK masih terus berlanjut. Para stakeholder dunia pendidikan terpecah menjadi dua kubu yang saling bertentangan. Satu kubu mengklaim bahwa materi yang diujikan belum pernah diajarkan  sedang kubu yang lain mengklaim bahwa materi yang diujikan sudah sesuai dengan apa yang pernah diajarkan disekolah.

Jenis soal HOTS yang dianggap tidak wajar keberadaannya tersebut dimaksudkan Kemendikbud untuk mengejar ketertinggalan kualitaa pendidikan anak bangsa lewat peningkatan kesulitan soal UNBK. Mendikbud Muhadjir Effendy menyatakan bahwa kualitas pendidikan Indonesia masih tertinggal dibandingkan dengan negara-negara di kawasan Asia dan Asia Tenggara.  Hal ini tercermin dalam hasil Programme for International Student Assessment (PISA).

Menanggapi pernyataan tersebut, pemerhati pendidikan dari Universitas Paramadina Mohammad Abduhzen mengatakan konsep dan praktik pembelajaran perlu dibenahi dulu sebelum menerapkan soal ujian HOTS. Pendapat senada yang menyiratkan kekecewaan terhadap Kemendikbud ditunjukkan oleh Asdep Pemenuhan Hak Anak Atas Pendidikan, Kreativitas dan Budaya, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Elvi Hendrani. Beliau menyatakan bahwa pihaknya merekomendasikan untuk mempertimbangkan penghapusan UNBK.

Akar masalah munculnya polemik soal HOTS berawal dari penerapan sistem sekulerisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Para pengembannya percaya bahwa akal adalah aset luar biasa manusia yang bisa memecahkan setiap problematika kehidupan. Akibatnya kemanfaatan dan tersalurkannya kepentingan merupakan tujuan dalam setiap perilaku. Tak terkecuali yang terjadi di dunia pendidikan. Pemahaman dan penguasaan materi tak lagi jadi prioritas. Karena hasil belajar beberapa tahun hanya dihargai sebaris nilai di atas kertas.

Hal ini tentu sangat berbeda dengan apa yang bisa kita temui dalam naungan Islam. Sistem pendidikan Islam mensyaratkan peserta didik untuk tidak sekedar menghafal dan mengungkapkan kembali materi.  Tapi lebih kepada bagaimana peserta didik memahami dan menguasai materi sepenuhnya agar bisa teraplikasikan secara nyata dalam kehidupan.

Peserta didik tidak dikondisikan menguasai ilmu pengetahuan dan tekhnologi semata. Namun juga memiliki pemahaman ajaran agama yang mumpuni. Proses belajar didesain sedemikian rupa agar peserta didik mampu mengaktualisasikan penggabungan antara kecerdasan duniawi dan ukhrowi. Para peserta didik tidak hanya menerima transfer ilmu dari para pendidik,  tapi dibimbing pemikirannya untuk selalu menjadikan  Islam sebagai qiyadah fikriyahnya.

Tentu saja disertai proses tazkhif ( pembinaan) yang terus berkesinambungan agar bisa menghasilkan peserta didik yang berkepribadian Islam. Kurikulum sistem pendidikan Islam disusun berdasarkan aqidah Islam. Konsekuensinya, evaluasi dalam sistem pendidikan Islam dilakukan oleh para pendidik sesuai kebutuhan individu peserta didik.

Karena Islam memahami benar bahwa tiap individu memiliki kemampuan dan potensi menyerap ilmu yang berberda-beda. Hal ini tidak berlaku jika materi yang dievaluasikan berupa pengetahuan umum yang wajib diketahui setiap individu rakyat. Maka proses evaluasi boleh dilaksanakan secara serentak bersama-sama. Firman Allah :

"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar" . (QS Al Baqarah 155)

Lebih lanjut, proses evaluasi dalam sistem pendidikan Islam ditujukan untuk menghasilkan peserta didik yang bertakwa. Firman Allah :

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Hasyr: 18).

Demikianlah jika negara ingin meningkatkan kualitas  pendidikan tanpa membuat gusar para pelajar.  Maka siatem pendidikan  Islamlah solusinya. Sistem pendidikan yang mampu mencetak generasi pemimpin peradaban gemilang dan membawa kembali masa-masa kejayaan Islam ke tengah umat manusia. Sebagaimana firman Allah :

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Qs. Al-A’raf: 96).  Wallahu a'lam bish showab. [MO/sr]


Posting Komentar