Oleh: R. A. Musamma 
"Aktivis Dakwah Kita"

Mediaoposisi.com-Kami ingin mengembalikan agama ke titahnya yang mulia. Kami tidak menjelekkan agama mana pun.

Demikian kata Grace Natalie, Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) kepada wartawan di rumah pemenangan Jokowi Center, Jalan Mangunsarkoro 69, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu, 17 November 2018, seperti dilansir dari nasional.tempo.co.

Grace menjelaskan bahwa sikapnya menolak Perda Syariah karena agama rawan dimanfaatkan sebagai alat politik. Saat ini, ia menggambarkan, bangsa Indonesia memiliki jutaan penduduk dengan basis agama yang berbeda-beda. Bila negara menerapkan Perda Syariah, aturan agama tertentu akan mengatur harkat hidup masyarakat luas.

Aturan yang akan berlaku lantas dikhawatirkan bakal memicu konflik. Rawannya konflik agama yang ia ungkap ini didukung oleh fakta yang ada. Grace menyebut, menurut hasil komparasi beberapa lembaga survei, semisal Lingkaran Survei Indonesia (LSI), hampir 6 dari 10 orang Indonesia tidak bersedia memilih orang dengan keyakinan yang berbeda. Munculnya survei ini, kata dia, tampak mencemaskan.

Tentu saja, ucapan Grace Natalie ini menuai kecaman dari berbagai pihak. Bahkan, Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia (PPMI) melaporkan Grace Natalie atas dugaan penistaan agama terkait pernyataannya—yang menyatakan bahwa PSI tidak akan pernah mendukung perda yang berlandaskan agama seperti Perda Syariah dan Perda Injil—melalui kuasa hukumnya Eggi Sudjana.

“Statement itu sudah masuk unsur ungkapan rasa permusuhan, juga masuk ujaran kebencian kepada agama,” kata Sekretaris Jenderal PPMI Zulkhair di gedung Bareskrim Mabes Polri, Gambir, Jakarta Pusat pada Jumat, 16 November 2018.

Bualan Kosong Belaka

“Dengan seruan itu, ingin mengembalikan agama pada titahnya, ini hanyalah bualan kosong belaka. Karena agama itu, titah aslinya adalah mengatur,” ujar Ismail Yusanto, mantan juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), menanggapi pernyatan Grace.

Menurut Ismail, Allah swt Sang Pencipta menurunkan risalah Islam justru untuk mengatur kehidupan manusia. Memperlakukan agama dengan menegasikan peraturannya dari kehidupan masyarakat dan negara justru membuang agama dari titah aslinya.

Dengan begitu bisa dikatakan bahwa partai tersebut adalah partai anti-agama, anti-islam, karena akan membuang kedudukan atau fungsi agama dari percaturan kehidupan masyarakat dan negara.

Memilih atau tidak memilih seseorang calon adalah hak personal masing-masing dan siapa pun harus menghormatinya. Seseorang bisa saja memilih dengan alasan keyakinan yang sama, ideologi yang sama, suku yang sama, visi-misi yang sama, domisili yang sama, profesi yang sama, status sosial yang sama, dan beragam alasan lainnya. Apakah itu salah? Mengapa hanya poin keyakinan agama saja yang dipermasalahkan?

Sikap PSI ini pada akhirnya membawa kita pada kilas-balik peristiwa yang baru saja berlalu, ketika Ahok mengeluarkan statemen blunder penistaan agama. Sikap jelas dan tegas dalam menentukan pilihan calon gubernur yang diambil kaum muslim Jakarta berakibat pada tumbangnya sang petahana, bahkan mengantarkannya ke balik jeruji besi akibat delik penistaan agama.

Bagi kaum muslim, Al Quran adalah salah satu sumber hukum. Sementara ketiga sumber hukum lainnya adalah Hadits, Ijma’ Sahabat, dan Qiyas. Ketika keempat sumber hukum tersebut telah menetapkan sesuatu, wajib bagi kaum muslimin untuk mentaatinya.

Jika dikatakan, Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). (TQS. Al Maidah [5]: 55)

Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang. (TQS. Al Maidah [5]: 56)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman. (TQS. Al Maidah [5]: 57)

Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) sembahyang, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal. (TQS. Al Maidah [5]: 58)

Apakah kaum muslim tidak boleh mengikuti perintah Al Quran tersebut dan perlu mengingkarinya hanya untuk mendukung pernyataan orang-orang PSI? Jika, iya, siapa sebenarnya yang intoleran?

Apakah Grace dan kawan-kawannya akan mengatakan bahwa ayat-ayat ini intoleran, hanya karena Al Quran mengatur kaum muslim dalam memilih pemimpin? Jika, ya, bukankah itu salah satu bentuk penistaan terhadap Al Quran?

Lalu, di mana letak bukti pembelaan dirinya yang mengatakan, “Kami ingin mengembalikan agama ke titahnya yang mulia?

Islam Agama Toleran

Kekuasaan negara Islam, di bawah sistem kenabian dan kekhilafahan, membentang hampir 2/3 belahan dunia dan memerintahnya dengan aturan Islam selama hampir 13 abad alias 1.300 tahun. Apakah pemeluk agama lain di wilayah tersebut tumpas, habis, dijagal atau dipaksa masuk ke dalam Islam?

Jawabannya: Tidak?

Sangat gegabah men-vonis perda syariah berpotensi memunculkan sikap intoleransi. Nabi Muhammad saw memimpin Madinah yang tak hanya dihuni kaum muslim, tetapi juga Nasrani dan Yahudi dengan menerapkan syariah Islam yang penuh toleransi.

“Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.” (QS. At Taubah [9]: 6)

“Tidak ada paksaan dalam memeluk agama. Sungguh telah jelas antara kebenaran dan kesesatan” (QS. Al Baqarah [2]: 256)

“Barangsiapa membunuh seorang kafir dzimmi, maka dia tidak akan mencium bau surga. Padahal sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan empat puluh tahun. ” (HR. An Nasa’i. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Terlalu banyak toleransi kaum muslimin dan para pemimpinnya kepada kaum nonmuslim jika harus ditulis dalam artikel pendek ini. Anda bisa menemukannya dalam buku-buku sejarah Islam yang kredibel.

Tentang Rasulullah yang memberi makan seorang Yahudi buta yang selalu mengolok-oloknya, memenangkan kasus seorang Yahudi terhadap seorang muslim, Khalifah Umar bin Khaththab yang mengembalikan properti seorangYahudi di Mesir dari tangan walinya, menolong Yahudi melarikan diri dari tekanan penguasa Kristen Spanyol di era Utsmani, dan banyak cerita lainnya.

Tergesa-gesa membuat kebijakan tidak lantas membuat kita terlihat hebat dan pintar. Banyak hal yang harus dikaji sebelum membuat keputusan. Oleh sebab itu, belajarlah lebih banyak dan jangan buat blunder lagi.[MO/an]

Posting Komentar