Oleh : Tri Wahyuningsih 
Pegiat Media Dan Anggota Muslimah Jambi Menulis 

Mediaoposisi.com-Geliat kebangkitan Islam telah tampak jelas di tengah-tengah umat, kalangan pemuda mulai melangkah mengisi barisan perjuangan, bersiap menjadi garda terdepan menyongsong kebangkitan Umat. Fenomena hijrah dari kalangan pemuda, memenuhi beranda pencarian di akun sosial media. Publikasi acara majelis dari dan untuk para pemuda pun tak berhenti menghiasi Mading kampus dan laman sosial media.

Kini, Islam telah kembali ke tangan umat. Tapi tentunya musuh-musuh Islam tak akan pernah tinggal diam, mereka akan terus mencari cara menghentikan geliat kebangkitan ini. Propaganda untuk menciptakan Islamphobia ditengah kaum muslim semakin gencar dilakukan, dengan mengolah isu-isu sensitif seperti fundamentalisme, terorisme, ekstrimisme hingga radikalisme.

Akhirnya muncullah rangkaian narasi bahwasanya radikalisme adalah cikal bakal dari terorisme demi penegakkan syariat Islam dalam bingkai sebuah negara, yang kelak akan menghilangkan NKRI dan Pancasila. Narasi negatif inilah yang terus barat menggunakan kaki tangannya sebarkan ke tengah-tengah kaum muslim termasuk kalangan intelektual kampus.

Isu radikal menyebar dengan cepat menyasar kalangan intelektual kampus yang dianggap sebagai sarang gerakan radikalisme. Sehingga dibutuhkan penanganan yang cepat dan tepat untuk menghentikan penyebaran gerakan radikal di kampus.

Dikutip dari kompas.com, Kepolisian RI melakukan upaya kontra radikalisme di lingkungan perguruan tinggi (PT), antara lain dengan program Goes to Campuss. Program tersebut merupakan kerja sama dan dialog yang dilakukan Polri yang langsung terjun ke perguruan tinggi dengan memberikan pemahaman bahaya radikalisme di Indonesia. Masih dari halaman yang sama, hasil pengembangan oleh badan intelejen negara (BIN) di tahun 2018  mengungkapkan bahwa sebanyak 39 persen mahasiswa di 15 provinsi menunjukkan ketertarikannya pada paham radikal. (November, 2018)

Radikalisme Upaya Barat Menghentikan Dakwah Islam 

Kampus yang seharusnya sebagai tempat berkembangnya keilmuan, ladang mahasiswa untuk berdiskusi dan berargumen, guna membangun suatu negeri untuk menjadi lebih baik. Di tangan para intelektual, lahir dan melekat suatu pemikiran dan idealisme yang tinggi. Mereka bisa membakar semangat perjuangan menuju peradaban yang gemilang.

Namun realita saat ini, mahasiswa kehilangan identitasnya. Suara mahasiswa justru dibungkam. Ketika ia berteriak tentang kebenaran, justru ia dianggap melawan bahkan radikal, teroris, fanatik dan paham buruk lainnya. Sehingga, banyak mahasiswa yang kemudian memilih diam dan bersikap apatis atas permasalahan umat.

Padahal ketika dikembalikan pada makna asalnya, radikal memiliki kata dasar "radix, radicis”. Menurut The Concise Oxford Dictionary (1987), berarti akar, sumber, atau asal mula. Akan tetapi, makna radikalisme menjadi subjektif saat diolah dengan paradigma tertentu. Sehingga, bila kini ada ajaran yang tidak sesuai atau berbenturan dengan kondisi rusak saat ini seperti dakwah dan jihad maka ajaran tersebut akan dikatakan radikal. Sebab, Islam sebagai agama dengan dasar akidah yang kokoh tak menerima kompromi di era apapun.

Sudut pandang inilah yang kemudian digunakan  untuk menyerang dakwah Islam di kalangan pemuda. Penangkapan para aktivis kampus menjadi hal lumrah dalam sistem kehidupan hari ini. Sebab, barat dengan ideologi Kapitalis - Sekuler nya paham bahwa pemuda adalah tonggak kebangkitan, dari tangannya lah kelak akan lahir peradaban baru yang mampu menghancurkan peradaban rusak mereka.

Suara mahasiswa (pemuda) dibungkam dengan ketakutan atas gelar radikal, kemudian beralih menjadi pemuda rusak penggemar narkoba, pergaulan bebas dan segala budaya rusak lainnya yang tentu sengaja dilemparkan barat ke tengah-tengah pemuda khususnya pemuda Muslim.
Berdirilah tegak pemuda - pemudi Islam, Ambil Kembali Idealismemu !

Pemuda Muslim adalah tonggak peradaban, dia akan kokoh ketika tetap menggenggam erat kebenaran dari Agamanya.

Di era modern penuh fitnah dan kerusakan ini tak berarti apa-apa ketika syariat Islam telah digenggam kuat-kuat, sebab keimanan yang sempurna telah menancap kuat dalam setiap relung jiwa, menjadi degup jantung yang tak akan berhenti kecuali mati. Allah yang memiliki dunia ini, Dia lah yang menciptakan skenario kehidupan kaum muslim. Maka, tak ada ketakutan lain bagi kaum muslim khususnya pemuda selain Allah.

Maka, meskipun musuh-musuh Islam memiliki jutaan rudal, tank-tank perang, anggota intelijen, semuanya bukanlah amunisi untuk meredam ghirah dakwah. Yakinlah  Menyeru kepada Islam bukanlah sesuatu yang keliru apalagi dikatakan perbuatan yang negatif. Ia merupakan kewajiban dari Allah swt yang memerintahkan kepada hamba-Nya yang beriman untuk taat pada setiap garis ketentuan-Nya (Syari’at Islam).

Hingga pada akhirnya, bisa menerapkan syariat Allah secara menyeluruh dan menjadikan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin dalam bingkai Daulah Khilafah Islamiyah. Bersiaplah menyongsong peradaban yang mulia ini, wahai pemuda kaum Muslim[MO/an]

Posting Komentar