Oleh : Al Ihya Yunus Putri
(Anggota Muslimah Jambi Menulis)

Mediaoposisi.comAjaran Islam ada bukan untuk ditakuti, melainkan  untuk dipelajari dan diamalkan. Tapi nampaknya kenyataan justru bertentangan, ajaran Islam justru semakin di monsterisasi.

Bagi sesiapa yang ingin menerapkan syariat Islam maka siap-siap untuk di cap radikal, intoleran, ekstrimis, dan lain sebagainya.

Dikutip dari laman m.jpnn.com disebutkan bahwa Alvara Research Centre dan Mata Air Fondation merilis sebuah survei yang mengungkap bahwa radikalisme telah masuk ke kalangan kelas menengah dan tedidik, yang sewaktu-waktu bisa mengancam persatuan dan kesatuan bangsa bahkan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Aparatur negara dan kelompok pekerja di BUMN mulai terpapar ajaran-ajaran intoleransi. Penetrasi ajaran-ajaran intoleransi yang anti-pancasila dan NKRI di kalangan profesional masuk melalui kajian - kajian keagamaan yang dilakukan di tempat kerja”, kata CEO Alvara Hasanuddin Ali, saat memaparkan hasil survei di Jakarta, Senin 23 Oktober 2018.

Selanjutnya Ia mengatakan bahwa inilah waktunya bagi semua kaum beriman untuk memahami bahwa ada bahaya yang mengancam kemanusiaan. Tidak bisa ditanggapi secara biasa saja sebab radikalisme ini ancaman kemanusiaan yang nyata. Makanya harus satu melawan hal ini.

Kata-kata khilafah akhir-akhir ini memang semakin menggema di masyarakat. Semua kalangan membicarakan perihal khilafah. Sehingga menyebabkan ada pihak-pihak yang merasa terancam dengan semakin tersebarluasnya opini khilafah.

Maka tak heran jika opini khilafah selalu dibenturkan dengan opini lain yang menyudutkan opini khilafah. Selain disudutkan, opini khilafah juga dikriminalisasi.

Sebut saja salah satu ormas Islam yang sering menyuarakan khilafah yakni Ormas Hizbut Tahrir Indonesia dicabut BHP nya oleh pemerintah melalui Perppu (Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang) No. 2 Tahun 2017.

Tidak hanya itu, bahkan salah satu ustad populer yakni Ustad Abdul Somad pun ikut terkena imbasnya. Kajiannya sering dibatalkan, dibubarkan, dituduh radikal hingga dipersekusi akibat Ia acap menyebut kata khilafah didalam ceramahnya.

pada 3 November lalu, Ustad Abdul Somad bertemu dengan Din Syamsuddin membahas sejumlah topik termasuk kerapnya Ustad Abdul Somad mendapat penonalakan hingga persekusi saat hendak berceramah.

Din menilai saat ini masyarakat mudah sekali termakan fitnah. Para pemuka agama Islam kerap kali dianggap menentang pancasila.

Din menganggap tuduhan itu sangat menyakitkan. Din juga mengatakan bahwa Ia sudah mengikuti apa yang disampaikan Ustad Abdul Somad. Beliau menjelaskan  khilafah dari Al-Quran, beliau ahli hadits, beliau menjelaskan dari pandangan Islam.

Islamophopia Gaya Baru

Muslim takut dengan ajaran Islam atau biasa disebut dengan Islamophobia memang sudah ada sejak dahulu, namun akhir-akhir ini virus Islamophobia semakin banyak menyerang masyarakat. Muslim yang seharusnya bangga dengan identitasnya sebagai muslim, memuliakan dan mengamalkan setiap ajaran Islam justru sebaliknya anti terhadap ajaran Islam.

Namun hal ini tentu tak sepenuhnya salah masyarakat, diskriminasi yang dilakukan terhadap penyudutan ajaran Islam khususnya khilafah oleh berbagai pihak baik oleh penguasa maupun media menyebabkan opini yang beredar sedikit atau banyak mempengaruhi masyarakat.

Padahal seharusnya tugas dari media adalah memberikan berita yang mengedukasi dan juga pemerintah harusnya menyaring dengan baik terkait opini khilafah apakah sesuai dengan syariat Islam atau tidak, bukan malah menyudutkan dan mengkriminalisasi ormas yang menyampaikan tentang khilafah.

Menstigmasisasi buruk opini khilafah, membenturkan dengan opini radikal, intoleran, dan ekstrimis adalah salah satu bentuk islamophobia gaya baru.

Masyarakat seolah dihadapkan pada pilihan untuk memilih terima ajaran Islam khususnya khilafah berarti siap-siap di cap radikal, intoleran dan ekstrimis atau tidak menerima bahkan anti ajaran Islam khusunya khilafah agar di cap tidak radikal, toleran, dan tidak ekstrimis.

Dua pilhan yang seharusnya tidak layak untuk di pilih. Sebagai muslim sudah seharusnya menerima dan mengamalkan ajaran Islam tanpa di cap apa-apa.

Khilafah Ajaran Islam

Khilafah sesungguhnya bukanlah istilah asing dalam khasanah keilmuwan Islam. Menurut Wahbah az-Zuhaili, “Khilafah, Imamah Kubra dan Imarah al-Mu’minin merupakan istilah-istilah yang sinonim dengan makna yang sama.” (Az-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islâmi wa Adillatuhu, 9/881).

Menurut Dr. Mahmud al-Khalidi (1983), “Khilafah adalah kepemimpinan umum atas seluruh kaum Muslim di dunia untuk menerapkan syariah dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia.” (Al-Khalidi, Qawâ’id Nizhâm al-Hukm fî al-Islâm, hlm. 226).

Karena merupakan istilah Islam, Khilafah adalah bagian dari ajaran Islam sebagaimana shalat, puasa, zakat, haji, dan lainnya. Apalagi menegakkan Khilafah adalah wajib menurut syariah Islam. Bahkan Khilafah merupakan “tâj al-furûd (mahkota kewajiban)”.

Pasalnya, tanpa Khilafah—sebagaimana saat ini—sebagian besar syariah Islam di bidang pendidikan, ekonomi, sosial, pemerintahan, politik, politik luar negeri, hukum/peradilan, dsb terabaikan. Di bidang pendidikan, misalnya, negara menerapkan sistem pendidikan sekular.

Di bidang ekonomi, negara menerapkan sistem ekonomi kapitalisme-neoliberal. Di bidang sosial, negara mengadopsi HAM Barat sehingga zina dan LGBT dibiarkan dan tidak dianggap kriminal.

Sebagai kewajiban dalam Islam, Khilafah tentu didasarkan pada sejumlah dalil syariah. Sebagaimana dimaklumi, jumhur ulama, khususnya ulama Aswaja, menyepakati empat dalil syariah yakni: (1) Al-Quran; (2) As-Sunnah; (3) Ijmak Sahabat; (4) Qiyas Syar’iyyah.

Berkaitan dengan itu Imam Syafii menyatakan:

“Seseorang tidak boleh menyatakan selama-lamanya suatu perkara itu halal dan haram kecuali didasarkan pada ilmu. Ilmu yang dimaksud adalah informasi dari al-Kitab (al-Quran), as-Sunnah (al-Hadis), Ijmak atau Qiyas.” (Asy-Syafii, Ar-Risâlah, hlm. 39).

Umar bin al-Khaththab ra. berkata:

“Sungguh tiga perkara yang Rasulullah saw. terangkan kepada kami lebih aku sukai daripada dunia dan seisinya, yakni: Khilafah, al-kalâlah dan riba” (HR al-Hakim, Abu Dawud dan al-Baihaqi).

Maka sebagai muslim seharusnya kita bangga dengan ajaran Islam, mengamalkan bahkan memperjuangkannya. Jangan mau dikecoh dengan Islamophobia gaya baru yang sengaja dibentuk oleh sesiapa yang benci dengan Islam.[MO/ge]

Posting Komentar