Oleh: Tri S,S.Si
(Penulis adalah Pemerhati Perempuan dan Generasi)

Mediaoposisi.com-Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau APBN sampai dengan September 2018 sebesar Rp200,2 triliun.

Menurut Sri Mulyani angka tersebut lebih kecil dibandingkan dengan tahun lalu yang mencapai Rp 272 triliun. Sedangkan pada Agustus 2018 defisit APBN sebesar Rp 150,7 triliun (Tempo.co /17/10/2018).

Sri Mulyani mengatakan defisit tersebut sama dengan sekitar 1,35 persen Produk Domestik Bruto atau PDB. Sedangkan September tahun sebelumnya defisit sebesar 2,00 persen. Pada September 2018 keimbangan primer mengalami defisit Rp 99,2 triliun.


Dari sisi belanja negara, Sri Mulyani mengatakan realisasi hingga September 2018 sebesar Rp 1.512 triliun.

Hal itu sebanding dengan 68,1 persen terhadap APBN. Dalam APBN belanja negara yaitu sebesar Rp 2.220,7 triliun.

Pada pembiayaan anggaran realisasi hingga September 2018 sebesar Rp 292 triliun.

Angka tersebut sebanding dengan 89,8 persen terhadap PDB. Adapun dalam APBN pembiayaan anggaran sebesa Rp 325,9 triliun.

Nilai tukar rupiah yang terus melemah ini, berpotensi besar memicu inflasi. Harga-harga barang di dalam negeri akan meningkat. Terutama untuk barang atau produk yang diolahnya dari bahan baku impor.

Karena produsen harus merogoh kocek lebih besar lagi untuk membeli bahan bakunya dari luar negeri atau impor. Kalau sudah seperti itu, maka tidak mungkin produsen menjual barangnya sama seperti sebelumnya ketika rupiah tidak melemah.

Masalah-masalah moneter itu justru terjadi setelah dunia melepaskan diri dari standar emas dan perak serta berpindah ke sistem uang kertas (fiat money), yaitu mata uang yang berlaku semata karena dekrit pemerintah, yang tidak ditopang oleh logam mulia seperti emas dan perak.


Masalah moneter ini hanya dapat diatasi oleh mata uang emas dan perak saja. Mengapa? Sebab emas dan perak mempunyai banyak keunggulan.

Dengan menggunakan mata uang emas dan perak, suatu negara tidak dapat mencetak mata uang sesukanya lalu mengedarkannya kepasar.

Ini berbeda dengan uang kertas, suatu negara bisa saja mencetak uang kertas berapapun ia mau, karena uang kertas tidak mempunyai nilai intrinsik pada dirinya sendiri.(Zallum,2004:224).

Sistem emas dan perak akan mempunyai kurs yang stabil antar-negara. Ini karena mata uang masing-masing negara akan mengambil posisi tertentu terhadap emas atau perak.

Dengan demikian, di seluruh dunia hakikatnya hanya terdapat satu mata uang, yaitu emas atau perak, meski mata uang yang beredar akan bermacam-macam diberbagai negara (Zallum, 2004:227).

Sistem emas dan perak mempunyai keunggulan yang sangat prima, yaitu berapapun kuantitasnya dalam satu negara, entah banyak atau sedikit, akan dapat mencukupi kebutuhan pasar.

Walhasil, berapapun jumlah uang yang ada, cukup untuk membeli barang dan jasa di pasar, baik jumlah uang itu sedikit atau banyak.

Sistem emas dan perak akan menciptakan keseimbangan neraca pembayaran antar-negara secara otomatis,

untuk mengoreksi ketekoran dalam pembayaran tanpa intervensi bank sentral.

Mekanisme ini disebut dengan automatic adjustment (penyesuaian otomatis) yang akan bekerja menyelesaikan ketekoran dalam perdagangan (Trade imbalance) antar negara. Sistem emas dan perak akan menimbulkan kestabilan moneter.[MO/gr]




Posting Komentar