Oleh : Iin Susiyanti, SP 

Mediaoposisi.com-Isu masjid dan penceramah radikal kembali diangkat ke permukaan. Ini menunjukkan kepanikan tingkat tinggi dari rezim sekuler. Karena kesadaran politik umat Islam yang kian menguat. Terutama jelang aksi bela tauhid 212.

 Beredarnya informasi rahasia Badan Intelijen Negara (BIN) terkait 42 masjid di lingkungan wilayah Jakarta terpapar paham radikalisme, membuat banyak kalangan khawatir.

 Badan Intelijen Nasional (BIN) mengkategorisasikan masjid terpapar paham radikal menjadi tiga zona. Yaitu 7 masjid level rendah, 17 level sedang, dan 17 lainnya level tinggi.

 Pada level tertinggi zona merah ini sudah dianggap parah, artinya terpapar penyimpangan norma NKRI. Dianggap penyimpang dari falsafah dan norma-norma Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Serta mendorong kearah-arah yang lebih simpati ke ISIS. Ini yang membawa aroma konflik Timur Tengah kesini (Indonesia). Mengutip ayat perang sehingga menimbulkan ESKOM (emosi, sikap, tingkah laku, opini dan motivasi) ucap Wawan (m.detik.com/20/4/2018).

 Islam diberikan label radikal dengan tujuan untuk membungkam perjuangan penegakkan syari'ah dan khilafah. Namun upaya ini selalu menemui jalan buntu, sehingga membuat frustasi. Kemudian dibuatlah cara-cara ilegal untuk menjustifikasi dengan istilah abu-abu yang ditafsirkan sesuai keinginan mereka.

 Radikalisme masuk dalam istilah abu-abu yang dapat dimainkan dan dicarikan justifikasi yakni pembenaran bukan kebenaran. Dengan menemukan istilah ini kemudian menyusun program deradikalisasi dengan menyasar pada organisasi dakwah Islam dan aktivisnya.

 Hal ini diperkuat dengan pemahaman yang dangkal dibalut dengan frame sekulerisme barat bahwa Islam menyerukan jihad fi sabilillah dianggap sebagai seruan radikalisme. Padahal jihad fi sabilillah adalah perintah Allah Swt. Sesuai dengan Al quran. Barat memandang bahwa jihad adalah sebagai perang yang menimbulkan trauma yang mendalam bagi barat. Ini menjadi hantu yang menyeramkan buat mereka. Sehingga mereka memikirkan berbagai cara untuk mengakhirinya.

 Pemikiran Islam yang memandang bahwa agama tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan dianggap berpikiran sempit dan tidak bisa menerima perbedaan. Islam menolak pemikiran barat karena hanya sebagai alat untuk memuluskan berbagai kepentingan barat, terutama di Dunia Islam.

 Islam memandang adanya penyatuan nilai-nilai spiritualitas dengan politik. Politik bagian dari Islam. Bahkan politik adalah nilai luhur dari manusia karena merupakan ri'ayah su'un al-'ummah (pengaturan urusan umat).

Hal ini bertolak belakang dengan dengan sekulerisme sehingga penyatuan ini dianggap radikalisme. Karena dalam pandangan barat politik kotor tidak bisa dicampur adukkan dengan agama yang suci. Penegakan syari'ah dan khilafah adalah untuk kebaikan umat manusia. Allah Swt. Menegaskan dalam kitab suciNya.

" Kami tidak mengutusmu (Muhammad), kecuali menjadi rahmat bagi seluruh alam" ( Qs. Al- Anbiya' ; 107) Ayat ini menerangkan bahwa Rosulullah Saw. Diutus agar risalahnya menjadi rahmat bagi manusia. Sehingga umat tidak perlu terpengaruh dengan isu-isu yang mendiskreditkan umat Islam. Karena Islam bukanlah ajaran yang radikal. Tapi hukumnya justru membawa kebaikan bagi umat manusia.

Hal yang aneh bila ada yang menganggap keberadaan syari'ah dan khilafah sebagai ancaman. Walaupun penentangan atas kebangkitan Islam merupakan sunatullah , karena kehidupan sekuler jauh dari nilai-nilai illahiah yang hanya dilandasi dengan hawa nafsu dan kepentingan belaka.

 Sudah saatnya umat menentukan sikap untuk berada dibarisan perjuangan mengembalikan Islam dalam pengaturan hidup.[MO/sr]
 

Posting Komentar