Oleh : Vega Rahmatika Fahra
(Suara Muslimah Pemerhati Perempuan dan Generasi)

Mediaoposisi.com- 
Revolusi Industri 4.0, merupakan era baru revolusi industri keempat atau industri yang berbasiskan teknologi informasi yang mana industri 4.0 menghasilkan “pabrik cerdas” karena semua pekerjaan manusia akan digantikan dengan teknologi.

Implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0 diyakini dapat merevitalisasi sektor industri manufaktur agar lebih berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Sasaran besarnya adalah menjadikan Indonesia masuk dalam jajaran 10 besar negara dengan perekonomian terkuat di dunia pada  tahun 2030.

Dalam merespons perkembangan global saat ini, Kementerian Perindustrian beserta sektor swasta sedang menyiapkan program strategis, guna meningkatkan produktivitas dan efisiensi di sektor manufaktur dalam menghadapi era revolusi industri 4.0,” kata Staf Khusus Kemenperin, Zakir Machmud di Jakarta, Rabu (31/10). (Https//:www.Gatra.com)

Hadirnya industri 4.0 tentu saja juga akan memberikan dampak buruk kepada perempuan. Menteri PPPA dalam Seminar Nasional “Peran Perempuan dalam Mendidik Generasi Era Revolusi Industri 4.0” di Universitas Negeri Yogyakarta menyatakan bahwa hadirnya Revolusi Industri 4.0 seharusnya dapat dimanfaatkan dan dikelola dengan baik oleh kaum perempuan karena memiliki prospek yang menjanjikan bagi posisi perempuan sebagai bagian dari peradaban dunia.

Eksploitasi Perempuan Atas Nama Pemberdayaan
Pemberdayaan perempuan yang diusungkan oleh kaun feminis bukan hanya bahaya dalam tataran ide, gerakan ini telah ditunggangi oleh kepentingan kapitalis global memerah potensi perempuan untuk menyelamatkan perekonomian Barat yang tengah dilanda krisis, sehingga bahayanya akan merata memasuki seluruh sendi kehidupan karena kapitalis mampu memaksakan  penerapan kebijakan di seluruh negara tentang konsep pemberdayaan perempuan.

Perempuan diberdayakan demi mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Perempuan ‘dipaksa’ bekerja dengan dalih mewujudkan kesetaraan gender yang telah dikampanyekan secara global.

Beban ganda harus ditanggung oleh perempuan. Perempuan diseret ke ranah publik, dan juga menanggung beban sebagai pencari nafkah. Pada akhirnya justru peran sebagai pendidik generasi terabaikan, dan menghantarkan kepada berbagai persoalan generasi dan lemahnya ketahanan keluarga. Hal ini menambah besar resiko munculnya permasalahan pada anak karena kualitas pengasuhan orangtua yang tidak sempurna.

Perempuan di era digital bukan untuk dikapitalisasi
Islam tidak menjadikan kewajiban mencari nafkah pada perempuan, namun Islam memberikan kesempatan yang sama pada perempuan untuk menuntut ilmu, termasuk Teknologi Informasi Komunikasi (TIK). Namun bukan untuk menjadikan perempuan masuk dalam pasar kerja untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara.

Perempuan memiliki tanggung jawab besar dalam menyiapkan anak-anaknya untuk menjadi generasi penakluk pembangun peradaban Islam yang Mulia.  Adalah tugas utama perempuan menjadikan anak perempuan menjadi ibu hebat pembangun peradaban yang taat pada syariat dan menjadikan anak laki-lakinya sebagai calon pemimpin yang bertakwa.[MO/sr]

Posting Komentar