Oleh : Dwi Aida Rachmawati

Mediaoposisi.com-Isu radikalisme dan deradekalisasi memang bukan hal yang baru kita dengar. Segala macam definisi baik menurut kamus dan juga para ahli telah dijabarkan. Ada yang mendefi-nisakan dalam perspektif netral, positif maupun negatif.

Sehingga masyarakat memang harus jeli dalam memutuskan untuk memilih definisi yang valid. Fakta yang di lekatkan untuk mendukung definisi tersebut juga telah dijabarkan sesuai ketiga perspektif diatas.

Maka sudah menjadi kewajiban setiap manusia untuk mencari kebenaran bukan pembenaran untuk mendapatkan keuntungan.

Seolah berkompetisi, ketiga perspektif tersebut saling menguatkan argumen satu sama lain. Irinois-nya, ketiga perspektif tersebut seakan tidak pernah saling melengkapi. Perspektif netral membiarkan definisi nya dianut kelompoknya.

Perspektif negatif terus menumbuhkan sisi negatifnya tanpa meninjau kembali dan mempertanyakan sisi positifnya begitupun sebaliknya. Kapankah manusia mau berbenah mencari kebenaran dan saling mengevaluasi jika ada yang salah?

Supaya tidak ada pihak yang kabur melihat definisi dan fakta radikalism yang sesungguhnya. Jika merujuk pada KBBI dan sejarah asal muasal kata radik itu sendiri kita masih belum faham bahwa istilah itu bersifat netral (tidak condong ke positif atau negatif).

Maka, perlu kita mengahdirkan fakta yang senantiasa melekat pada kata tersebut baik di masa lampau maupun masa sekarang agar lebih jelas. Jika merujuk pada aktivitas manusia pada umumnya seperti, radikal dalam bekerja artinya manusia itu berprinsip dan menuntut perubahan dalam dunia kerjanya.

Jika merujuk pada aktivitas kriminal seperti, pembunuh radikal artinya pembunuh itu mempunyai prinsip mendasar dalam melakukan aksinya dan menuntut perubahan karna aksinya tersebut.

Sedangkan jika di lekatkan pada kaum muslimin radikal maka kaum muslimin tersebut memiliki prinsip mendasar dalam melakukan setiap kativitasnya sesuai keyakinannya, Islam. Lalu apa salahnya?

Memang, jauh dibalik pengkaburan makna radikalisme, ada konspirasi dengan motif imperialisme ala kapitalis. Terbukti dalam website resmi Rand Corporation, lembaga think-tank America, mereka berstrategi untuk memberi label untuk kaum muslimin.

Hal ini sengaja dibentuk untuk memecah belah sesama kelompok kaum muslimin. Dalam dokumen yang berjudul Civil Democratic Islam : Partners, Resources and Strategies tahun 2003, mereka membagi islam menjadi empat label, yaitu : Islam Fundamentalis, tradisionalis, sekuleris, dan modernis.

 Dan istilah radikalisme justru di tujukan kepada islam fundamentalis yang pada hakikatnya menginginkan formalisasi penerapan syariat islam secara totalitas dalam berkehidupan.

Mengapa hal ini bisa terjadi ? Mengapa justru kaum muslimin takut dan selalu memberikan stigma negatif kepada islam fundamentalis – radikalisme? Mengingat kaum muslimin harusnya bangga dengan identitas muslimnya dan mau menerapkan islam secara totalitas.

Jika kita adalah kaum intelektual muslim maka tidak ada salahnya mempertanyakan keberpihakan diri kita sendiri untuk mau menelusuri kebenaran dan menyuarakan kebenaran tersebut. [MO/ge]

Posting Komentar